Posts Tagged 'silat'

Reign of Assassins – Silat klasik terbaik tahun ini

Kapankah anda terakhir kali menonton film wuxia (silat klasik) dengan cerita berlika-liku dan pintar menyembunyikan rahasia yang dibuka dengan plot twist keren dipenghujung cerita. Bagiku mungkin House of Flying Daggers (HoFD) adalah film wuxia dengan genre thriller mystery terakhir yang pernah menghiasi layar bioskop beberapa tahun yang lalu. Sayangnya misteri a la HoFD masih kurang mengejutkanku ketika latar belakang tokoh Andy Lau dan Zhang Ziyi diungkap (mungkin juga karena kentalnya nuansa love story dalam film ini membuat misterinya kurang greget). Berbeda dengan plot twist dalam Reign of Assassins ini ternyata mampu membuatku tercengang beberapa saat, meski dalam beberapa hal aku masih bisa menebak alur ceritanya. Kalau anda menyebut judul Crouching Tiger Hidden Dragon dan Hero, kedua judul film wuxia ini lebih menjual kisah drama dibandingkan thriller mystery. Continue reading ‘Reign of Assassins – Silat klasik terbaik tahun ini’

True Legend

Nama si pengemis bermarga Su atau Beggar Soo sebagai pendekar mabuk nomor wahid telah dikenal di berbagai kisah dalam literatur cerita silat. Keberadaannya Su Can aka Su Qi-Erl sebagai tokoh silat handal yang hidup pada jaman pemerintahan dinasti Qing memang diakui oleh banyak orang, tetapi riwayat hidupnya sebagai seorang pengemis dan jago pukulan mabuk masih simpang siur bagaikan legenda. Masih ingat film Drunken Master-nya Jackie Chan akhir tahun 1970-an? Si pengemis Su didapuk menjadi gurunya Wong Fei-hung (Jackie Chan). Yang pernah nonton tentu ingat dengan pengemis tua berhidung merah yang mengajarkan jurus 8 dewa mabuk kepada Wong Fei-hung muda. Lalu ada lagi kisah si pengemis Su versi Stephen Chow. Dalam film King of Beggar, Su Can bernama asli Su Chaharcan, seorang bangsawan Mancu yang hidupnya berakhir menjadi si raja pengemis. Hanya saja Su dalam versi Chow, jurus andalannya bukanlah jurus mabuk melainkan 18 telapak penakluk naga andalan para raja pengemis. Kali ini penata silat terkenal sekaligus sutradara Yuen Woo-ping mengangkat cerita legenda si pengemis Su Can berdasarkan cerita yang ditulis Christine To.
Continue reading ‘True Legend’

Bodyguards and Assassins

Film ini menceritakan tentang bentrokan antara orang-orang yang ingin membunuh founding father Republik China modern Dr. Sun Yat-sen dengan orang-orang yang ingin melindunginya pada setting waktu bulan Oktober tahun 1905 ketka Sun Yat-sen berkunjung ke Victoria City (Hong Kong jaman sekarang). Kunjungan Sun Yat-sen ke Hong Kong sendiri memang kejadian sejarah, hanya saja peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Sun Yat-sen yang menjadi tema film ini hanyalah kisah fiksi belaka. Film ini menampilkan 3 orang tokoh yang memang kutahu memiliki hubungan erat dengan revolusi China dan Kuomintang yaitu Sun Yat-sen sendiri, Chen Shaobai (rekan Sun sejak sekolah kedokteran) dan Li Yutang.
Continue reading ‘Bodyguards and Assassins’

Royal Tramp 2008

Judul lain: The Duke of Mount Deer, Lu Ding Ji, Pangeran Menjangan.
Produser: Zhang Jizhong
Pemain: Huang Xiaoming, Wallace Chung
Jumlah seri: 45 episode (Hongkong cutted version), 50 episode (versi RRC)

“It does not matter whether a cat is black or white. A cat that catches mice is a good cat.”(quoted from Deng Xiaoping)

royaltrampNovel wuxia alias cerita silat (cersil) yang diadaptasi menjadi serial ini merupakan novel terbaik karya Jin Yong menurut versiku. Bagaimana tidak? intrik, plot cerita dan terutama penokohan sangatlah unik bila dibandingkan dengan cersil karya Jin Yong maupun penulis terkenal lainnya seperti Gu Long, Liang Yusheng, Wen Ruian dkk. Bagi anda yang gemar membaca cersil karya penulis China seperti kawanan diatas maupun penulis lokal seperti Kho Ping Hoo, tentu akan mendapatkan ciri-ciri tokoh utama yang hampir pasti mirip. Lihatlah tokoh Guo Jing (Legend of Condor Heroes), Li Mubai (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Chen Jialuo (Holy Book and Sword) yang punya karakter pendekar sejati dan berbudi luhur alias orang gagah didunia persilatan. Atau karakter jago silat tangguh tanpa tanding seperti Yang Guo (Return of the Condor Heroes), Zhang Wuji (Heaven Sword and Dragon Sabre), maupun Li Xunhuan si pisau terbang (Flying Dagger series) akan terpatri dibenak anda sebagai tipe jagoan utama cersil yang sudah lazim. Tokoh pintar, licik penuh tipu muslihat biasanya diasosiasikan dengan musuh besar sang jagoan seperti halnya tokoh Yang Kang (musuh dalam selimut sekaligus saudara angkat Guo Jing dalam Legend of Condor Heroes) sampai Seng Kun (si licik dalam Heaven Sword and Dragon Sabre).

Dalam cersil ini, tokoh utama justru ditampilkan berkebalikan dengan ciri khas tokoh utama cersil seperti biasa, malah cenderung satu tipe dengan sifat musuh besar jagoan. Anda akan mendapatkan sang protogonis Wei Xiaobao yang pemalas, serakah, licik, tukang main perempuan, hobi judi, bermulut manis, tukang sogok, penuh dengan tipu muslihat. Sampai-sampai kategori khas jagoan utama yang jago silat pun tak dimiliki olehnya karena Wei Xiaobao sama sekali tak berbakat belajar ilmu silat. Satu-satunya kemampuan bela diri yang dimilikinya hanyalah ilmu melarikan diri. Dengan plot yang terbalik dibandingkan apa yang biasanya kita dapatkan dalam cersil, parodi dunia nyata dengan karakter yang abu-abu justru membuatku jatuh cinta serta menempatkan cersil ini sebagai the best wuxia novel that I ever read.

Plot cerita
Setting cerita dimulai dari jaman dinasti Qing, ketika suku bangsa Manchu menguasai daratan China. Wei Xiaobao, anak pelacur tanpa ayah yang jelas dari rumah bordil di Yangzhao, merantau ke kota raja Beijing ketika masih kecil dan masuk ke kota terlarang tempat tinggal kaisar sebagai kasim gadungan. Tanpa sengaja Xiaobao bertemu dengan kaisar Kangxi yang seusia dengannya dan Xiaobao yang tak tahu menahu dengan status sang kaisar cilik, berteman sebagai mana layaknya anak kecil lainnya. Cerita terus berlajut dengan Xiaobao sadar dengan status sahabat karibnya dan kondisi Wei Xiaobao pun berubah menjadi bawahan kepercayaan kaisar Kangxi.

Dilain cerita, Wei Xiaobao bertemu dengan kelompok anti-Manchu Tiandihui dan menjadi murid tunggal ketuanya Chen Jinnan, malah kemudian menjadi ketua cabang Tiandihui. Sejak itu Xiaobao menjalankan perannya sebagai agen ganda yaitu bawahan yang loyal bagi teman karibnya kaisar Manchu Kangxi sekaligus mata-mata dalam istana bagi Tiandihui. Dengan akal liciknya, mulut manis, tipu daya serta keberuntungannya yang besar, Xiaobao mampu menyelesaikan berbagai tugas berat yang diembankan oleh kaisar Kangxi dengan sukses sekaligus dilain pihak menyelamatkan para anggota Tiandihui dari kejaran pasukan kerajaan Manchu. Dalam petualangannya, Wei Xiaobao yang playboy berhasil memperistri 7 wanita cantik dengan akal bulusnya dan memperoleh 3 anak.

Akhirnya kaisar Kangxi mengetahui status Xiaobao dalam Tiandihui dan memaksa Xiaobao memilih antara dirinya sebagai teman atau Tiandihui. Satu-satunya karakter Wei Xiaobao yang baik dan menjadi kelemahannya adalah loyalitas. Xiaobao ingin sekali bisa loyal terhadap Kangxi sekaligus loyal kepada gurunya Chen Jinnan yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dan itu pula yang menyebabkan Xiaobao rela menjadi agen ganda. Xiaobao akhirnya sadar kalau dinasti Qing yang notabene bangsa Manchu dan Tiandihui yang ingin mengembalikan kekuasaan China ditangan suku bangsa Han tak bisa disatukan bagaikan air dan api.

wxbwives_bed
Wei Xiaobao dan 7 istri cantiknya

Sebenarnya novel wuxia ini sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar maupun serial TV. Yang terkenal diantaranya adalah film layar lebar Royal Tramp dengan Stephen Chow sebagai Wei Xiaobao dan serial TV The Duke of Mount Deer versi tahun 1984 dengan Tony Leung sebagai Xiaobao dan Andy Lau sebagai kaisar Kangxi (pernah disiarkan Indosiar dengan judul Pangeran Menjangan). Seperti juga halnya dengan cersilnya, produser Zhang Jizhong menggarap serial ini dengan penekanan pada tipu muslihat Xiaobao dan intrik yang melingkupinya, sehingga adegan laga tidak terlalu banyak dan malah boleh dikatakan kurang seru. Dalam beberapa hal versi 2008 ini memiliki irama penceritaan yang sama dengan versi 1984-nya Tony Leung-Andy Lau yang lebih berfokus pada hubungan persahabatan aneh antara kaisar Kangxi dengan Wei Xiaobao. Yang patut disayangkan, petualangan Xiaobao di Rusia dengan putri Sophia justru hanya diberikan berupa potongan kecil. Padahal kalau porsinya diperbesar dengan mengurangi beberapa adegan konyol yang tak penting tentu menambah daya tarik serial ini.

HeZhuoYan081Kelebihan serial ini tentu sudah bisa ditebak, yaitu kasting aktris pemeran 7 istri Xiaobao semuanya cakep dengan ciri khas masing-masing. Ada yang cakep judes, cakep anggun, cakep matang, cakep innocent, cakep imut, semuanya ada. Walaupun demikian karakter favorite ku tetaplah pemeran Shuang-erl (He Zhuoyan) yang cakep imut. :mrgreen: Selain itu juga desain kostum, sinematografi serta set dekorasi nya yang memukau patut mendapat pujian karena detailnya. Musical score nya juga lumayan memikat. Mungkin yang agak mengganggu adalah akting beberapa pemeran utamanya. Huang Xiaoming yang berperan sebagai Wei Xiaobao agak kaku pada awalnya, tetapi menjelang pertengahan terlihat dia sudah bisa menghayati karakter Wei Xiaobao. Wallace Chung sendiri terlihat kurang berwibawa dalam membawakan peran Kangxi. Justru yang mencuri perhatian adalah dua aktor cilik yang memerankan Xiaobao dan kaisar Kangxi kecil.

Salah satu isu yang dicoba untuk diangkat oleh Jin Yong dalam cersil karyanya yang terakhir ini adalah patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas. Kebanyakan cersil (termasuk karya Jin Yong sebelumnya) memposisikan suku bangsa Manchu sebagai penjajah suku mayoritas Han di daratan China. Berdasarkan sejarah China yang tercatat, Kangxi termasuk salah satu kaisar yang berhasil memerintah China dengan sukses dan membuat rakyatnya aman makmur sentosa hingga jaman cucunya kaisar Qianlong (Kangxi merancang banyak pembangunan hingga diantaranya masih berlanjut sampai jaman cucunya memerintah). Walaupun ayah Kangxi seorang kaisar Manchu, ibunya berasal dari campuran suku bangsa Han bermarga Tong. Akan tetapi tetap saja hal ini belum memuaskan para pemberontak anti-Qing.

Sebetulnya kondisi Indonesia cukup mirip dengan China, yaitu memiliki banyak suku yang tersebar di seluruh negeri. Sadarkah anda kalau sejak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia hampir selalu dipimpin oleh presiden dari suku mayoritas? Mungkin posisi Sukarno mirip dengan kaisar Kangxi yang ibunya masih turunan suku berbeda. Pernah ayahku bercerita ketika beliau masih sekolah di kota Yogyakarta awal tahun 1960-an, banyak orang Jawa yang mengatakan Mohammad Hatta sebagai tukang nebeng Sukarno :lol: . Padahal menurutku yang pernah membaca beberapa karya tulis duo proklamator itu, isi pikiran Hatta jauh lebih rasional, maju dan rapi perencanaannya dibandingkan dengan kolega proklamatornya. Jaman sekarang juga masih banyak yang mengkampanyekan pemimpin yang putra daerah, alias turunan suku mayoritas (jadi ingat jaman kampanye Habibie yang mengklaim dirinya masih turunan bangsawan Jawa). Bagaimana dengan anda sendiri? Setujukah anda jika misalnya Indonesia dipimpin oleh orang yang asli suku Dayak, Asmat atau suku minoritas lainnya? Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

Kutipan Deng Xiaoping tentang kucing diatas dijadikan opini Wei Xiaobao pada akhir novel untuk mengungkapkan visi Jin Yong tentang kepemimpinan.

Relevansi Sejarah
Dalam petualangannya Wei Xiaobao banyak bertemu dengan tokoh yang akan berperan dalam sejarah dinasti Qing, khususnya pada masa pemerintahan kaisar Kangxi. Diantaranya yang sangat terkenal adalah:

Oboi, jenderal Manchu yang berkuasa mewakili Kangxi yang masih kecil dan membuat Kangxi menjadi kaisar boneka. Xiaobao membunuhnya untuk membantu Kangxi meraih kekuasaannya secara mutlak.
Wu Sangui, mantan jenderal dinasti Ming yang berkhianat dan berencana memberontak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan dinasti Qing. Xiaobao membantu Kangxi dengan cara mengadu domba antar rekan Wu Sangui, sehingga kekuatan militer Wu Sangui menjadi lemah.
Chen Yuanyuan, wanita paling cantik seantero China pada jamannya dan menjadi ibu salah satu istri Xiaobao.
Li Zhicheng, pemberontak yang meruntuhkan dinasti Ming dan mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, walaupun akhirnya harus turun tahta dengan cepat karena dikalahkan oleh bangsa Manchu.
Putri Changping, putri kaisar terakhir dinasti Ming yang menjadi guru salah satu istri Xiaobao dan Xiaobao sendiri.
Shi Lang, Laksamana yang menghancurkan sisa-sisa kekuasaan jenderal dinasti Ming di Taiwan. Shi Lang yang namanya kurang dikenal direkomendasikan oleh Xiaobao kepada kaisar Kangxi dan memimpin angkatan laut Manchu dalam menaklukkan Taiwan.
Zheng Keshuang, raja terakhir kerajaan Tungning turunan jenderal dinasti Ming (Koxinga) penguasa Taiwan.
Putri Sophia, anak perempuan Tsar Russia yang dibantu oleh Xiaobao mengkudeta saudara tirinya Peter I.

Merantau – Kembalinya film laga rasa Indonesia

Pada saat mudik ke Indonesia, tentu saja tak akan kulewatkan untuk menonton film produksi negara sendiri. Tadinya aku berminat untuk nonton 3 film, tetapi akhirnya hanya film Merantau yang dapat kutonton. Film Garuda di dadaku sudah lewat masa tayang dan film merah putih mendapat rekomendasi jelek oleh seorang teman sehingga kulewatkan untuk menyelamatkan dana nonton filmku.

Sebenarnya sudah banyak orang yang menulis resensi dan sepertinya juga sudah banyak yang tahu isi cerita film ini. Bisa dibilang plot cerita film ini sangat klise dan sedikit mirip dengan film aksi Thailand berjudul Ong Bak yang dibintangi oleh Tony Jaa. Sama-sama menceritakan orang kampung yang datang ke kota besar (walaupun dengan tujuan berbeda) dan sama-sama menampilkan tokoh utama yang masih memiliki hati nurani yang belum ternoda oleh keras dan kejamnya kota besar.

Hasilnya kalau menurutku sih lumayan, terutama dari segi adegan fighting dan kamera yang cukup memukau penonton. Sayangnya eksekusi cerita ternyata tidak berbanding lurus dengan dua hal diatas. Masih banyak bolong-bolong yang harus diperbaiki oleh sutradara yang notabene orang Inggris bernama Gareth Evans. Memang ide pembuatan film merantau ini dicetuskan oleh Evans sendiri yang tertarik untuk membuat film fiksi tentang bela diri silat setelah sebelumnya pernah menyutradarai film dokumenter tentang silat di Indonesia. Aku sempat merasakan aura kebosanan dalam beberapa adegan drama yang sangat terasa dipanjang-panjangkan tanpa maksud jelas yang membuat film seakan berjalan tertatih-tatih. Untungnya saja adegan laga yang menjadi penghubung drama sinetron (terutama drama ber-setting Jakarta) cukup dapat membuatku tak terlalu mengidahkan adegan dramanya. Belum lagi gerakan kamera yang dinamis lumayan mengobati kekecewaanku.

Akting Iko Uwais sebagai pendatang baru tidak terlalu mengecewakan, paling tidak mungkin Iko bisa belajar banyak dengan Christine Hakim yang bermain sebagai ibu tokoh Yuda yang diperankan oleh Iko. Christine Hakim sendiri bermain baik seperti biasanya, sayangnya dialog bahasa minang tidak terlampau ditonjolkan (lebih ke dialog bahasa Indonesia dengan dialek minang) sehingga rasa ke”minangkabau”an Hakim kurang kental. Mungkin akting yang paling menyebalkan justru Sisca Jessica yang berperan sebagai Astri. Kata-kata umpatannya miskin banget dan selalu berulang-ulang sehingga aku teringat pada tokoh Justo dalam serial TV Little Missy, belum lagi akting ala kadarnya. Alex Abbad yang jadi pecundang antagonis lumayan bisa menampilkan tokoh oportunis dalam kehidupan malam Jakarta.

Dengan tampilnya film merantau ini aku harapkan bisa merangsang sineas Indonesia untuk menggarap serius pasar film laga yang kukira masih banyak diminati oleh penontonton lokal. Paling tidak, bisa berkaca film Ip Man sebagai contoh. Film Ip Man disutradarai oleh Wilson Yip, tetapi khusus adegan laganya disutradarai oleh Sammo Hung yang merangkap sebagai penata laga dan Yip terlihat menyerahkan sepenuhnya konsep penyutradaraan adegan laga kepada Hung yang memang sudah berpengalaman menyutradarai film, sehingga Yip bisa fokus untuk adegan drama. Toh masih banyak gaya silat Indonesia yang belum diangkat secara komersil ke layar lebar. Contohnya saja di kampungku nun jauh di pulau Belitung sana, Silat Sinding yang jarang diminati mulai kekurangan praktisi. Walaupun ini tak terlepas juga dari sistim pengajaran Sinding yang turun temurun antar keluarga dan memang Sinding jarang diajarkan karena seluruh pukulannya hanya ditujukan untuk membunuh lawan alias silat untuk perang.

Rating Film: 2.75/5
Sutradara: 2.5/5
Kamera: 3.5/5

Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5

A Step into The Past

Judul: Xun Qin Ji
Produksi: 2001
Genre: Wuxia, drama, sejarah
Episodes: 40

Serial ini buatan TVB Hongkong tahun 2001, malah sempat ditayangkan ulang pada tahun 2005 dengan rating tinggi, tidak kalah dari tayangan perdananya pada tahun 2001. Dibuat berdasarkan novel Xun Qin Ji hasil karya Huang Yi (nama pena pengarang yang bernama asli Huang Zuciang) yang di kenal sebagai penulis cerita silat modern yang kadang menggabungkan unsur sejarah dengan science-fiction.

Ringkasan cerita
Cerita diawali dengan penggalian patung-patung terakota peninggalan dinasti Qin di kota Xian, yang secara mengejutkan dengan ditemukannya sebuah alat detektor modern bersama dengan patung-patung kuno tersebut. Cerita dilanjutkan dengan pengenalan tokoh utama Xiang Xiao Long (Louis Koo), seorang petugas anggota G4 (pasukan pengawal khusus kepolisian Hongkong) di abad 21, lebih suka hidup melajang, dengan pembawaan happy go lucky, punya pacar tetap tapi tidak ingin hidup terikat. Setelah berhasil melaksanakan tugas melindungi seorang konglomerat muda Li dengan sukses, Xiang Xiao Long yang lebih suka pacaran dari pada menikah, harus menghadapi kenyataan ditinggal pergi oleh pacarnya Xiao Qing yang menikah dengan pria lain.
Sementara itu konglomerat Li yang sedang mengadakan proyek akhir mesin waktu memberikan penawaran kepada Xiao Long untuk mengadakan perjalanan waktu ke masa lampau dengan iming-iming kalau proyek berjalan sukses, dia akan dikirim ke masa lampau untuk memperbaiki hubungannya dengan Xiao Qing. Xiao Long hanya ditugaskan untuk memotret prosesi pemahkotaan Ying Zheng (yang akan menjadi kaisar pertama Dinasti Qin Shi Huang) selama 30 menit di tahun 247 sebelum masehi.

Cerita sesungguhnya dimulai ketika mesin waktu yang digunakan Xiao Long mengalami Error dan menyebabkan Xiao Long terlempar ke waktu 3 tahun sebelum pemahkotaan Ying Zeng dan terdampar di daerah kerajaan Zhao yang notabene musuh kerajaan Qin. Dimasa ini selain Qin ada 6 kerajaan lain yang saling berperang satu sama lain, dan Ying Zheng yang berstatus putra mahkota kerajaan Qin masih berada dalam tawanan kerajaan Zhou. Terjebak dalam situasi yang rumit ini, mulailah Xiao Long berpetualang untuk mencari jalan pulang kembali ke masa depan. Dalam perjalanannya Xiao Long bertemu dan menjadi murid tak resmi pendekar pedang Mozhi, Yuan Zhong (Yuen Wah), kemudian bersahabat dengan pembunuh bayaran Shanrou (Joyce Tang); gadis manja putri bangsawan, Wu Tingfang (Jessica Hsuan); Putri raja Zhao, Qian (Michele Saram); Adik ipar Raja Zhao, Zhao Ya; menjadi guru putra Zhao Ya, Zhao Pan (Raymond Lam), mengangkat saudara dengan Teng Yi dan Jin Jun, juga bertemu dengan ilmuwan wanita Qing Qing yang mirip dengan kekasihnya dimasa depan Xiao Qing (dimainkan oleh artis yang sama Sonija Kwok). Dalam perjalanannya pula dia bertemu dengan banyak musuh seperti musuh bebuyutannya Lian Jin (Kwong Wah), bangsawan Zhao Mu (Waise Lee), dan perdana menteri Qin Lu Buwei (Kwok Fung)

Petualangan Xiao Long juga banyak bertemu dengan tokoh sejarah China yang dia ketahui melalui buku-buku sejarah, dan secara tidak langsung ikut mempengaruhi terbentuknya sejarah China, seperti merekomendasikan Li Si dan Wang Jian yang diketahui Xiang Long dalam sejarah akan berperan besar membantu kaisar Qin Shi Huang menaklukkan kerajaan lain.

Berbagai macam rintangan muncul menghalangi Xiao Long untuk kembali ka masa depan, dari batere detektor mesin waktu yang habis tenaganya, hingga horror yang paling menakutkan Xiao Long yaitu tewasnya Ying Zheng (dengan matinya Kaisar pertama dinasti Qin, berarti mengubah alur sejarah). Satu persatu rintangan yang menghadang dihadapi Xiao Long dengan pengetahuan yang didapatnya di abad 20-an. Siapa sih yang dapat mengalahkan orang yang mengetahui masa lampau dan masa depan?

Karakter penting dalam sejarah yang bertemu Xiao Long
Ying Zheng, raja Qin yang akan menaklukkan 6 kerajaan lain dan menjadi kaisar Qin pertama bergelar Qin Shi Huang. Semenjak kecil, Ying Zheng menjadi tawanan kerajaan Zhao. Merupakan kaisar yang terkenal dengan kekejamannya dalam kerja paksa membangun tembok raksasa, pembunuhan para sastrawan beserta pembakaran buku-buku pengetahuan.
Lu Buwei, Perdana menteri kerajaan Qin yang ambisius. Rumor mengatakan dia adalah ayah kandung Ying Zheng, karena ibu Ying Zheng merupakan selir Lu Buwei sebelum dihadiahkan ke raja Zhou.
Li Si, penasehat Ying Zheng yang membantu dinasti Qin menyatukan china dan memperkenalkan penyatuan sistem hitungan, timbangan, dan bahasa untuk seluruh china. Tewas dihukum mati di atas mesin penyiksa yang dirancang sendiri oleh Li Si untuk menyiksa musuhnya. Kematiannya diakibatkan trik rancangan Zhao Gao yang ingin menguasai kaisar kedua Qin Er Shi sendiri. Didalam serial ini, Xiao Long yang mengetahui posisi Li Si dalam sejarah, merekomendasikannya pada Ying Zheng.
Zhao Gao, Kasim yang setia pada Ying Zheng. Setelah kematian Qin Shi Huang, dia berkomplot dengan Li Si untuk menyingkirkan putra mahkota Fusu dan mengangkat putra kedua, Qin Er Shi menjadi kaisar Qin yang kedua. Qin Er Shi sendiri dipaksanya bunuh diri. Zhao Gao akhirnya mati dibunuh oleh anak Fusu, kaisar terakhir dinasti Qin, Ziying sebelum menyerah pada Liu Pang dan mengakhiri masa kekuasaan dinasti Qin. Ziying sendiri diserahkan Liu Pang kepada raja muda Chu, Xiang Yu yang kemudian membunuh Ziying.
Han Fei, seorang ilmuwan murid filsuf Xun Zi (pengikut Kong Hu Chu) yang memperkenalkan filosofi Legalisme bersama Li Si. Kematiannya tragis karena Li Si yang iri dengan kemampuannya menggunakan kekuasaannya untuk memaksa Han Fei ditangkap dan Han Fei akhirnya mati bunuh diri didalam penjara.
Zou Yan, ilmuwan ahli dibidang perbintangan dan filsuf yang memadukan prinsip lima unsur dan yin-yang. Didalam serial ini digambarkan sebagai ayah angkat Qing Qing.
– Zhu Ji, ibu Ying Zheng, yang merupakan selir raja Qin Zhuangxiang hadiah persembahan dari Lu Buwei. Zhu Ji merupakan selir Lu buwei sebelum dihadiahkan kepada raja Qin Zhuangxiang. Menjadi ibu suri setelah Ying Zheng naik tahta.
– Liao Ai, seorang aktor opera yang dekat dengan Zhu Ji dan berselingkuh dengannya. Menjadi jenderal karena rekomendasi ibu suri dan Lu Buwei. Didalam serial ini digambarkan sebagai ahli silat bertangan kidal.
Wang Jian, jenderal dinasti Qin yang memimpin pasukan untuk menaklukkan Handan (ibukota kerajaan Zhao). Salah satu dari 4 jenderal besar masa perperangan. Didalam serial ini, seperti Li Si, Xiao Long juga merekomendasikan Wang Jian kepada Ying Zheng berdasarkan pengetahuannya akan sejarah berdirinya dinasti Qin.
Li Mu, jenderal kerajaan Zhao yang tak terkalahkan sampai masa akhir kerajaan Zhao, sampai kaisar Qin Shi Huang sendiri menyatakan kekagumannya. Tewas setelah difitnah dan ditangkap kemudian dieksekusi mati atas perintah raja Zhao. Tewasnya Li Mu memudahkan kerajaan Qin menaklukkan kerajaan Zhao. Salah satu dari 4 jenderal besar masa perperangan. Didalam serial ini digambarkan sebagai kakek angkat Zhao Pan (murid Xiao long).
– Long Yang, bangsawan kerajaan Wei yang menurut rumor seorang wanita yang selalu menyamar menjadi pria. Ada pula yang berpendapat Long Yang sebagai lelaki homoseksual. Didalam serial ini digambarkan sebagai murid Zao Yan
Xiang Yu, raja muda Chu yang dijuluki sebagai sang penakluk. Walaupun seorang ahli tempur dan jendral perang nomor satu dijamannya, dengan kemampuan manajemen yang lemah, akhirnya dia kalah pengaruh dengan Liu Pang yang mendirikan dinasti Han.

Komentar Penulis
Serial ini mengadung banyak kelebihan yang jarang ditemukan diserial lain seperti thriller dan kejutan cerita, komedi yang diakibatkan perbedaan budaya modern yang dibawa Xiang Long dengan jaman baheula, trik-trik modern yang dipakai Xiang Long untuk mengatasi masalah, pemutar balikan sejarah (bagi yang baca sejarah asli, mungkin lebih menarik), belum lagi pernik-pernik kecil kehidupan sehari-hari seperti Xiao Long yang kehabisan bekal dijalan terpaksa harus cari kerja untuk mendapatkan uang, hingga tak lupa pula ending yang mengejutkan. Pendek kata, skenario dan jalan cerita adalah kekuatan utama serial silat ini.

Sedangkan kekurangan dari serial ini, banyaknya pengembangan karakter yang kurang kuat, terutama karakter pendukung. Beruntung sekali serial ini dibuat dari novel yang memiliki penceritaan tokoh yang kuat sehingga hal ini bisa ditutupi. Akting yang paling berkesan adalah Raymond Lam yang berperan sebagai Zhao Pan yang awalnya lugu dan manja berakhir menjadi orang yang dingin dan kejam Selain itu juga agak aneh kalau dipikir dengan logika, koq bisa-bisanya bahasa China masa sekarang dengan bahasa China 2000 tahun yang lalu sama pelafalannya dan dapat dipahami Xiang Long (walaupun digambarkan tulisan China 2000 tahun yang lalu berbeda dengan huruf China modern sehingga membuat Xiao Long menjadi orang pintar yang buta huruf).

Adegan fighting dalam serial ini tidak menggunakan banyak special effect berlebihan (malah sangat kurang untuk film yang dibuat pada tahun 2000-an) dan ilmu silat yang ditampilkan juga tidak berlebihan. Tidak ada tokoh yang punya ilmu meringankan tubuh yang dapat membuat orang terbang, juga tidak ada ilmu tenaga dalam yang menyebabkan efek seperti angin topan dan dan ledakan bom.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, secara keseluruhan, serial ini sangat mengesankan dan mungkin merupakan interpretasi novel Huang Yi yang terbaik. Dengan tema yang berbeda dengan cerita silat ortodoks seperti karya Jin Yong dan Liang Yusheng, membuat serial ini semakin menarik perhatian penonton dan memberikan tontonan yang berbeda pula.

Saran saya, supaya lebih menarik, sambil menonton serial ini, ada baiknya belajar sedikit sejarah awal berdirinya dinasti Qin. Selain mendapatkan totonan menarik, nggak rugi koq belajar sejarah.

Rating: 4.25/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 368 other followers

%d bloggers like this: