Archive for the 'Resensi Film Serial' Category

Another season with a brand new story

Bulan September biasanya memang menjadi awal penayangan season baru serial TV di USA dan sekitarnya. 4 buah serial TV yang biasa kuikuti setiap minggu sampai sekarang juga mulai menayangkan episode terbaru mereka dibulan September. Diawali oleh penayangan episode perdana season 5 oleh serial Supernatural pada 10 September 2009 dan diakhiri oleh episode terbaru season 4 serial milik stasiun TV Canada yang berjudul Little Mosque on the Prairie pada 28 September 2009.

Supernatural
Kali ini serial Supernatural memasuki akhir dari penayangannya dengan menampilkan musuh terbesar dua bersaudara Winchester yaitu Lucifer. Nikmatilah petualangan akhir Dean dan adiknya Sam dalam season pamungkas ini, sebab kreator serial Eric Kripke sudah beberapa kali menyatakan kalau rancangan dasar serial ini mencakup 5 season. Setelah menyaksikan episode 1 hingga 3, aku merasakan kalau season kali ini akan lebih berfokus pada hubungan persaudaraan Dean dan Sam serta perselisihan mereka dengan Lucifer dalam mencegah Apocalypse. O iya, Misha Collins pemeran Malaikat Castiel kali ini naik pangkat menjadi regular cast.

Heroes
Sebenarnya aku agak kecewa dengan ending season 3 volume 4: Fugitive tahun lalu. Cara mereka menghidupkan kembali karakter Nathan benar-benar tak masuk akal. Mengapa para penulis melupakan cara mereka menghidupkan karakter Noah Bennet lewat transfusi darah Claire? Sangat bodoh kalau para penulis tak mengidahkan cerita dalam episode-episode sebelumnya, karena serial ini memiliki cerita berkelanjutan.
Tapi bagaimanapun juga serial ini masih cukup menarik untuk diikuti dengan ditampilkannya tokoh-tokoh baru dengan kekuatan berbeda, untuk mendampingi tokoh-tokoh Heroes reguler yang terus terang saja developing character-nya mulai membosankan.

Dexter
Sang serial killer favorite pemirsa kembali beraksi. Kali ini Dexter harus membagi perhatiannya antara hobi membunuh, kerja di laboratorium kepolisian dan kewajiban sebagai kepala keluarga. Dexter yang telah memiliki seorang istri cantik, 2 anak tiri, dan satu anak kandung yang masih bayi agak kesulitan mengatur waktunya. Masih cukup menarik untuk disimak lebih lanjut season ke 4 yang dimulai 27 Oktober 2009 kemarin.

Little Mosque on the Prairie
Ketika menyadari tokoh Reverend Magee telah angkat kaki dari serial ini, aku benar-benar kecewa. Tokoh pendeta favorite ku telah diganti dengan karakter pendeta baru yang bernama Rev. Thorne. Mengecewakan memang, namun tokoh Thorne yang sinis dan terkesan mirip gaya Chandler dalam serial Friends ternyata lumayan juga. Mungkin dia dimasukkan ke dalam serial untuk menambal sikap muslim-phobia Fred Tupper yang mulai lunak sejak season ke 3 tahun lalu. Mulai tahun ini, celetukan lucu dan segar Rev. Magee akan diganti dengan celetukan sinis dan offensive milik Rev. Thorne. Syukurlah tokoh J.J. yang menyebalkan itu telah disingkirkan karena mengganggu suasana serial sitcom ini menjadi drama romantis di tahun lalu.

Royal Tramp 2008

Judul lain: The Duke of Mount Deer, Lu Ding Ji, Pangeran Menjangan.
Produser: Zhang Jizhong
Pemain: Huang Xiaoming, Wallace Chung
Jumlah seri: 45 episode (Hongkong cutted version), 50 episode (versi RRC)

“It does not matter whether a cat is black or white. A cat that catches mice is a good cat.”(quoted from Deng Xiaoping)

royaltrampNovel wuxia alias cerita silat (cersil) yang diadaptasi menjadi serial ini merupakan novel terbaik karya Jin Yong menurut versiku. Bagaimana tidak? intrik, plot cerita dan terutama penokohan sangatlah unik bila dibandingkan dengan cersil karya Jin Yong maupun penulis terkenal lainnya seperti Gu Long, Liang Yusheng, Wen Ruian dkk. Bagi anda yang gemar membaca cersil karya penulis China seperti kawanan diatas maupun penulis lokal seperti Kho Ping Hoo, tentu akan mendapatkan ciri-ciri tokoh utama yang hampir pasti mirip. Lihatlah tokoh Guo Jing (Legend of Condor Heroes), Li Mubai (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Chen Jialuo (Holy Book and Sword) yang punya karakter pendekar sejati dan berbudi luhur alias orang gagah didunia persilatan. Atau karakter jago silat tangguh tanpa tanding seperti Yang Guo (Return of the Condor Heroes), Zhang Wuji (Heaven Sword and Dragon Sabre), maupun Li Xunhuan si pisau terbang (Flying Dagger series) akan terpatri dibenak anda sebagai tipe jagoan utama cersil yang sudah lazim. Tokoh pintar, licik penuh tipu muslihat biasanya diasosiasikan dengan musuh besar sang jagoan seperti halnya tokoh Yang Kang (musuh dalam selimut sekaligus saudara angkat Guo Jing dalam Legend of Condor Heroes) sampai Seng Kun (si licik dalam Heaven Sword and Dragon Sabre).

Dalam cersil ini, tokoh utama justru ditampilkan berkebalikan dengan ciri khas tokoh utama cersil seperti biasa, malah cenderung satu tipe dengan sifat musuh besar jagoan. Anda akan mendapatkan sang protogonis Wei Xiaobao yang pemalas, serakah, licik, tukang main perempuan, hobi judi, bermulut manis, tukang sogok, penuh dengan tipu muslihat. Sampai-sampai kategori khas jagoan utama yang jago silat pun tak dimiliki olehnya karena Wei Xiaobao sama sekali tak berbakat belajar ilmu silat. Satu-satunya kemampuan bela diri yang dimilikinya hanyalah ilmu melarikan diri. Dengan plot yang terbalik dibandingkan apa yang biasanya kita dapatkan dalam cersil, parodi dunia nyata dengan karakter yang abu-abu justru membuatku jatuh cinta serta menempatkan cersil ini sebagai the best wuxia novel that I ever read.

Plot cerita
Setting cerita dimulai dari jaman dinasti Qing, ketika suku bangsa Manchu menguasai daratan China. Wei Xiaobao, anak pelacur tanpa ayah yang jelas dari rumah bordil di Yangzhao, merantau ke kota raja Beijing ketika masih kecil dan masuk ke kota terlarang tempat tinggal kaisar sebagai kasim gadungan. Tanpa sengaja Xiaobao bertemu dengan kaisar Kangxi yang seusia dengannya dan Xiaobao yang tak tahu menahu dengan status sang kaisar cilik, berteman sebagai mana layaknya anak kecil lainnya. Cerita terus berlajut dengan Xiaobao sadar dengan status sahabat karibnya dan kondisi Wei Xiaobao pun berubah menjadi bawahan kepercayaan kaisar Kangxi.

Dilain cerita, Wei Xiaobao bertemu dengan kelompok anti-Manchu Tiandihui dan menjadi murid tunggal ketuanya Chen Jinnan, malah kemudian menjadi ketua cabang Tiandihui. Sejak itu Xiaobao menjalankan perannya sebagai agen ganda yaitu bawahan yang loyal bagi teman karibnya kaisar Manchu Kangxi sekaligus mata-mata dalam istana bagi Tiandihui. Dengan akal liciknya, mulut manis, tipu daya serta keberuntungannya yang besar, Xiaobao mampu menyelesaikan berbagai tugas berat yang diembankan oleh kaisar Kangxi dengan sukses sekaligus dilain pihak menyelamatkan para anggota Tiandihui dari kejaran pasukan kerajaan Manchu. Dalam petualangannya, Wei Xiaobao yang playboy berhasil memperistri 7 wanita cantik dengan akal bulusnya dan memperoleh 3 anak.

Akhirnya kaisar Kangxi mengetahui status Xiaobao dalam Tiandihui dan memaksa Xiaobao memilih antara dirinya sebagai teman atau Tiandihui. Satu-satunya karakter Wei Xiaobao yang baik dan menjadi kelemahannya adalah loyalitas. Xiaobao ingin sekali bisa loyal terhadap Kangxi sekaligus loyal kepada gurunya Chen Jinnan yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dan itu pula yang menyebabkan Xiaobao rela menjadi agen ganda. Xiaobao akhirnya sadar kalau dinasti Qing yang notabene bangsa Manchu dan Tiandihui yang ingin mengembalikan kekuasaan China ditangan suku bangsa Han tak bisa disatukan bagaikan air dan api.

wxbwives_bed
Wei Xiaobao dan 7 istri cantiknya

Sebenarnya novel wuxia ini sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar maupun serial TV. Yang terkenal diantaranya adalah film layar lebar Royal Tramp dengan Stephen Chow sebagai Wei Xiaobao dan serial TV The Duke of Mount Deer versi tahun 1984 dengan Tony Leung sebagai Xiaobao dan Andy Lau sebagai kaisar Kangxi (pernah disiarkan Indosiar dengan judul Pangeran Menjangan). Seperti juga halnya dengan cersilnya, produser Zhang Jizhong menggarap serial ini dengan penekanan pada tipu muslihat Xiaobao dan intrik yang melingkupinya, sehingga adegan laga tidak terlalu banyak dan malah boleh dikatakan kurang seru. Dalam beberapa hal versi 2008 ini memiliki irama penceritaan yang sama dengan versi 1984-nya Tony Leung-Andy Lau yang lebih berfokus pada hubungan persahabatan aneh antara kaisar Kangxi dengan Wei Xiaobao. Yang patut disayangkan, petualangan Xiaobao di Rusia dengan putri Sophia justru hanya diberikan berupa potongan kecil. Padahal kalau porsinya diperbesar dengan mengurangi beberapa adegan konyol yang tak penting tentu menambah daya tarik serial ini.

HeZhuoYan081Kelebihan serial ini tentu sudah bisa ditebak, yaitu kasting aktris pemeran 7 istri Xiaobao semuanya cakep dengan ciri khas masing-masing. Ada yang cakep judes, cakep anggun, cakep matang, cakep innocent, cakep imut, semuanya ada. Walaupun demikian karakter favorite ku tetaplah pemeran Shuang-erl (He Zhuoyan) yang cakep imut. :mrgreen: Selain itu juga desain kostum, sinematografi serta set dekorasi nya yang memukau patut mendapat pujian karena detailnya. Musical score nya juga lumayan memikat. Mungkin yang agak mengganggu adalah akting beberapa pemeran utamanya. Huang Xiaoming yang berperan sebagai Wei Xiaobao agak kaku pada awalnya, tetapi menjelang pertengahan terlihat dia sudah bisa menghayati karakter Wei Xiaobao. Wallace Chung sendiri terlihat kurang berwibawa dalam membawakan peran Kangxi. Justru yang mencuri perhatian adalah dua aktor cilik yang memerankan Xiaobao dan kaisar Kangxi kecil.

Salah satu isu yang dicoba untuk diangkat oleh Jin Yong dalam cersil karyanya yang terakhir ini adalah patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas. Kebanyakan cersil (termasuk karya Jin Yong sebelumnya) memposisikan suku bangsa Manchu sebagai penjajah suku mayoritas Han di daratan China. Berdasarkan sejarah China yang tercatat, Kangxi termasuk salah satu kaisar yang berhasil memerintah China dengan sukses dan membuat rakyatnya aman makmur sentosa hingga jaman cucunya kaisar Qianlong (Kangxi merancang banyak pembangunan hingga diantaranya masih berlanjut sampai jaman cucunya memerintah). Walaupun ayah Kangxi seorang kaisar Manchu, ibunya berasal dari campuran suku bangsa Han bermarga Tong. Akan tetapi tetap saja hal ini belum memuaskan para pemberontak anti-Qing.

Sebetulnya kondisi Indonesia cukup mirip dengan China, yaitu memiliki banyak suku yang tersebar di seluruh negeri. Sadarkah anda kalau sejak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia hampir selalu dipimpin oleh presiden dari suku mayoritas? Mungkin posisi Sukarno mirip dengan kaisar Kangxi yang ibunya masih turunan suku berbeda. Pernah ayahku bercerita ketika beliau masih sekolah di kota Yogyakarta awal tahun 1960-an, banyak orang Jawa yang mengatakan Mohammad Hatta sebagai tukang nebeng Sukarno :lol: . Padahal menurutku yang pernah membaca beberapa karya tulis duo proklamator itu, isi pikiran Hatta jauh lebih rasional, maju dan rapi perencanaannya dibandingkan dengan kolega proklamatornya. Jaman sekarang juga masih banyak yang mengkampanyekan pemimpin yang putra daerah, alias turunan suku mayoritas (jadi ingat jaman kampanye Habibie yang mengklaim dirinya masih turunan bangsawan Jawa). Bagaimana dengan anda sendiri? Setujukah anda jika misalnya Indonesia dipimpin oleh orang yang asli suku Dayak, Asmat atau suku minoritas lainnya? Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

Kutipan Deng Xiaoping tentang kucing diatas dijadikan opini Wei Xiaobao pada akhir novel untuk mengungkapkan visi Jin Yong tentang kepemimpinan.

Relevansi Sejarah
Dalam petualangannya Wei Xiaobao banyak bertemu dengan tokoh yang akan berperan dalam sejarah dinasti Qing, khususnya pada masa pemerintahan kaisar Kangxi. Diantaranya yang sangat terkenal adalah:

Oboi, jenderal Manchu yang berkuasa mewakili Kangxi yang masih kecil dan membuat Kangxi menjadi kaisar boneka. Xiaobao membunuhnya untuk membantu Kangxi meraih kekuasaannya secara mutlak.
Wu Sangui, mantan jenderal dinasti Ming yang berkhianat dan berencana memberontak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan dinasti Qing. Xiaobao membantu Kangxi dengan cara mengadu domba antar rekan Wu Sangui, sehingga kekuatan militer Wu Sangui menjadi lemah.
Chen Yuanyuan, wanita paling cantik seantero China pada jamannya dan menjadi ibu salah satu istri Xiaobao.
Li Zhicheng, pemberontak yang meruntuhkan dinasti Ming dan mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, walaupun akhirnya harus turun tahta dengan cepat karena dikalahkan oleh bangsa Manchu.
Putri Changping, putri kaisar terakhir dinasti Ming yang menjadi guru salah satu istri Xiaobao dan Xiaobao sendiri.
Shi Lang, Laksamana yang menghancurkan sisa-sisa kekuasaan jenderal dinasti Ming di Taiwan. Shi Lang yang namanya kurang dikenal direkomendasikan oleh Xiaobao kepada kaisar Kangxi dan memimpin angkatan laut Manchu dalam menaklukkan Taiwan.
Zheng Keshuang, raja terakhir kerajaan Tungning turunan jenderal dinasti Ming (Koxinga) penguasa Taiwan.
Putri Sophia, anak perempuan Tsar Russia yang dibantu oleh Xiaobao mengkudeta saudara tirinya Peter I.

Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5

Supernatural – Serial Horor Thriller yang bikin penasaran

“Saving people, hunting things… The family business”
(Dean Winchester, Season one episode Wendigo)

Ide Cerita: Eric Kripke
Genre: Drama, Horor, Thriller, Action
Tayang perdana: The WB Television Network (2005)
Pemain: Jared Padalecki (Sam Winchester) dan Jensen Ackles (Dean Winchester)

SupernaturalSudah cukup banyak aku menonton bermacam-macam genre serial TV, baik yang bertema drama keluarga, sains fiksi, komedi, eksyen, cerita detektif, hingga yang rada nyerempet seks. Akan tetapi sangat jarang ada serial drama misteri horror yang sanggup menarik perhatianku menonton hingga berpanjang-panjang lebih dari 2 musim. Sebelum menonton serial Supernatural, mungkin serial TV terakhir bergenre seperti ini yang masuk hitunganku “penonton setia” adalah serial lawas Friday the 13th: The Series. Sisanya kebanyakan sudah agak bosan sehabis menonton season pertama, lalu berhenti menonton setelah season kedua dimulai. Serial Supernatural ini sudah memasuki musim kelimanya dan masih tetap menarik untuk terus diikuti.

Serial Supernatural pertama kali ditayangkan di USA pada tahun 2005 lewat saluran televisi The WB Television Network (sekarang The CW Television Network) mengetengahkan kisah perjalanan dua orang abang adik keluarga Winchester dalam menghadapi berbagai kasus yang melibatkan hal-hal gaib. Keluarga Winchester adalah keluarga Hunter, dimana Hunter dalam serial ini merupakan profesi sukarela tanpa upah yang berpetualang keliling negeri dalam usahanya menyelidiki gejala-gejala supranatural dan membasminya bila mengganggu ketentraman masyarakat.

Dean Winchester adalah anak sulung dari pasangan John dan Mary Winchester yang memiliki karakter bergaya seenak perutnya, suka ngomong ceplas ceplos, perayu wanita, takut naik pesawat (jadi ingat B.A. dalam The A Team) dan yang paling menarik adalah hobi Dean yang tergila-gila pada musik Classic Rock (musik rock tahun 1970-an dan 80-an). Bertolak belakang dengan karakter adiknya Sam Winchester yang pendiam, teliti dan sering menganggap serius hal yang dianggap abangnya remeh. Ibu mereka Mary tewas ketika Sam masih berumur enam bulan akibat dibunuh setan bermata kuning dan sejak itu John mereka membawa kedua anaknya berpetualang mencari setan yang membunuh Mary sembari melatih Dean dan Sam berbagai keterampilan yang dibutuhkan seorang Hunter. Sejak kecil Dean dan Sam sudah dilatih keras oleh ayahnya untuk menjadi Hunter yang handal dari training menggunakan senjata api, ilmu bela diri tangan kosong hingga pengetahuan mengenai berbagai hal dunia gaib.

Dean-Sam
Akibat kehidupan nomaden sejak kecil, Dean dan Sam tumbuh besar sambil beradaptasi dengan gaya hidup Hunter. Bagi Dean, hidup sebagai Hunter terlihat bagaikan suatu petualangan mengasyikkan dan menjalaninya tanpa keluhan, malah Dean menganggapnya sebagai bisnis keluarga. Selain itu juga Dean masih menyimpan dendam yang sama seperti ayahnya terhadap setan bermata kuning yang telah membunuh ibunya, karena ketika ibunya tewas Dean telah berumur empat tahun dan melihat sendiri betapa ibunya tewas terpaku diatas langit-langit rumah. Berbeda dengan Sam yang masih bayi ketika ibunya tewas sehingga rasa dendamnya kurang mendalam. Selain itu juga bagi Sam yang serius, hidup sebagai Hunter membuat keinginannya melanjutkan sekolahnya semakin jauh dari harapan hingga pada akhirnya Sam bertengkar dengan ayahnya ketika Sam memutuskan untuk pergi ke Universitas Stanford mengejar impiannya masuk fakultas hukum.

Musim pertama serial ini mengisahkan sang ayah John menghilang tanpa kabar sehingga menyebabkan Dean terpaksa berkunjung ke Stanford dan mengajak Sam untuk ikut serta mencari ayahnya. Bukannya jejak sang ayah ditemukan, malah pacar Sam yang bernama Jessica tewas dengan kondisi yang sama dengan kematian Mary Winchester, yaitu terpaku dilangit-langit kamar lalu terbakar. Tak punya pilihan lain, Sam akhirnya mengikuti Dean sambil mencari jawaban mengapa Jessica mengalami nasib yang sama dengan ibunya bertahun-tahun yang lalu dengan harapan bila bertemu ayahnya, seluruh pertanyaan akan terjawab.

Serial ini dihiasi dengan kemunculan makhluk-makhluk supranatural baik yang jaman dulu maupun modern seperti arwah penasaran, Vampire, Werewolf, Zombie, Jin hingga makhluk gaib yang jarang didengar oleh telinga orang-orang Indonesia seperti Wendigo, Trickster, Rougarou dan Shapeshifter. Hobi berat Dean akan musik Classic Rock terpapar jelas pada beberapa hal yang menghiasi film ini. Misalnya saja banyak judul episode yang menggunakan judul lagu lawas yang pernah dibawakan oleh para grup Rock terkenal seperti Rolling Stone, Led Zeppelin, Boston, Black Sabbath, AC/DC, Metallica, Kansas dll, selain juga menampilkan lagu-lagu mereka disepanjang serial. Hal lain yang menjadi ciri khas adalah kebiasaan duo Winchester dalam menyamar (sebagai Dokter, agen FBI, pendeta, petugas asuransi, dll) dengan nama alias yang menggunakan nama personil Rocker seperti misalnya Dr. James Hetfield (nama vokalis Metallica), agen FBI Tyler dan Perry (anggota grup Aerosmith), Pendeta Father Simmons dan Frehley (anggota grup KISS), Detektif Page dan Plant (anggota grup Led Zeppelin), dll.

Hal yang membuat serial ini tetap menarik dan memiliki unsur ketegangan yang stabil adalah alur cerita yang memang telah dirancang dari awal dengan baik, sehingga cerita season dua, tiga dan empat masih menyambung dengan season-season sebelumnya. Sepertinya memang cerita utama sudah ditetapkan dari awal sehingga alurnya tetap berkelanjutan. Ditengah-tengah alur utama, barulah disisipkan beberapa kasus tambahan yang bertujuan memperkuat karakterisasi tokoh maupun menambah bumbu cerita utama. Menurut kabar, dari awalnya memang Eric Kripke sang kreator cerita telah menyiapkan serial Supernatural untuk diselesaikan dalam lima musim. Jika masih ada musim keenam, ada kemungkinan serial ini akan menjadi membosankan seperti kasus serial Smallville.

Selain itu juga hubungan dua karakter tokoh utama yang dibawakan oleh Jensen Ackles dan Jared Padalecki yang bertolak belakang sangat menarik, terutama ketika mereka berdua beradu argumen. Hubungan antara dua saudara ini menjadi salah satu daya tarik. Kita bisa melihat betapa hanya Dean yang dibiarkan Sam untuk memanggil dirinya Sammy (walaupun awalnya Sam agak enggan karena dengan demikian Dean terkesan masih menganggap Sam sebagai anak kecil). Unsur humor ditambahkan lewat karakter Dean yang sering bertingkah seenaknya , gaya hidup bebas dan selera humornya yang kasar dengan porsi yang cukup ngepas (kecuali dalam beberapa episode tertentu yang memang cenderung diarahkan ke genre komedi). Dengan semakin bertambahnya season, karakter tokoh perlahan-lahan mengalami perubahan yang cukup signifikan, dimana Dean terlihat semakin serius dan Sam menunjukan sisi gelap kepribadiannya. Hal ini wajar karena tuntutan cerita memang mengharuskan perubahan demikian. Beberapa karakter pendukung yang muncul dalam beberapa episode di setiap musim turut memeriahkan suasana, terutama tokoh-tokoh cewek yang muncul sebagai penghangat suasana ditengah gersangnya perjalanan Winchester Brothers dalam menghadapi makhluk supranatural. Tapi jangan disangka tokoh-tokoh cewek ini hanya sekedar tempelan, justru karakter mereka cukup kuat untuk menentukan arah jalan cerita selanjutnya.

Jika season pertama mengemukakan tema mencari ayah mereka yang menghilang tanpa kabar, season kedua lebih terfokus pada usaha mereka memburu setan mata kuning yang telah membunuh Mary Winchester. Season ketiga bercerita mengenai terbukanya pintu gerbang neraka (Devil’s Gate) oleh setan mata kuning sehingga menyebabkan banyak setan dalam neraka lepas ke dunia. Season keempat mengetengahkan alasan mengapa setan bermata kuning membunuh ibu Winchester Brothers dan juga alasan atas usaha setan mata kuning membuka Devil’s Gate. Musim keempat semakin menarik dengan kemunculan malaikat (angel of God) yang memiliki peran dan rencana mereka sendiri. Tentu saja konsep malaikat dalam film ini agak berbeda jika dibandingkan dengan konsep kemalaikatan umumnya.

Seru dan bikin penasaran.

Dexter – Sosok Serial Killer yang Unik

Adaptasi Novel: Darkly Dreaming Dexter oleh Jeff Lindsay
Genre: Drama, Komedi Satir
Tayang Perdana: Oktober 2006
Pemain: Michael C. Hall (Dexter), Jennifer Carpenter (Debra), Julie Benz (Rita)

dex1

“You can’t be a killer and a hero. It doesn’t work that way!”
(Ice truck killer, season 1 episode 12)

Perkenalkan: Dexter Morgan, bujangan, berpenampilan menarik, kulit putih, petugas forensik spesialis “bloodstain pattern analysis” (what a profession!). Siapa yang menyangka kalau Dexter yang bekerja disiang hari di kantor kepolisian Miami akan berubah menjadi pembunuh berantai berdarah dingin dimalam hari. Bagi para pecandu kisah serial killer tentu membayangkan sosok bujangan keren, kulit putih, anti-sosial, broken-home, orang tua abusive dan karakteristik umum serial killer lainnya. Tapi Dexter bukanlah serial killer biasa dan ciri-ciri umum serial killer pada umumnya justru hanya terlihat fisiknya saja. Dilihat dari segi mental dan latar belakangnya, Dexter terlihat normal, punya hubungan sosial yang baik di lingkungannya, adik perempuan yang menyayangi dan terlihat sangat tergantung padanya, pacar tetap yang cakep, datang dari keluarga baik-baik. Dengan deskripsi cerita sampai disini saja, tentu anda akan membayangkan Dexter sebagai sebuah serial TV yang sangat menarik untuk diikuti.

Ketika umur 3 tahun, Dexter diadopsi oleh keluarga Morgan sebagai anak mereka. Dexter memperoleh ayah Harry Morgan seorang detektif kepolisian Miami yang disegani, ibu bernama Doris dan adik perempuan Deborah yang biasa dipanggil Debra dalam kondisi keluarga bahagia. Ketika mulai beranjak dewasa Harry mendapatkan Dexter memiliki kecenderungan psikopat. Karena semakin sulit dikendalikan, Harry awalnya mengijinkan Dexter untuk hanya membunuh hewan, hingga pada akhirnya Harry sadar kalau pada suatu saat Dexter dewasa tak akan bisa mengendalikan dirinya lebih jauh lagi. Harry memutuskan untuk mendidik dan melatih Dexter untuk menjadi vigilante yang hanya diperbolehkan membunuh orang-orang yang sudah dipastikan layak untuk dibunuh, ketika kebutuhan biologisnya untuk membunuh muncul. Kebanyakan korban Dexter sendiri malahan mempunyai kepribadian yang sama dengan Dexter, yaitu sesama serial killer.

Metode pembunuhan tanpa meninggalkan jejak rancangan Harry ini disebut dengan Code of Harry oleh Dexter. Karena training inilah hubungan Harry dan Dexter terlihat lebih akrab dimata Debra, sehingga Debra menganggap ayahnya lebih menyayangi Dexter si anak sempurna. Tentu saja Debra tidak tahu menahu dengan latihan dan sisi psikopat Dexter, belum lagi larangan Harry untuk membuka rahasianya pada siapa saja termasuk keluarga dekatnya. Harry adalah seorang detektif berpengalaman yang mengetahui ciri-ciri umum serial killer, sehingga dia mulai mengajari Dexter untuk mulai menerapkan cara hidup keseharian yang normal untuk menjauhkan kesan anti-sosial, dan hal lainnya yang mengacu pada sosok serial killer.

Tema serial ini sangat kontroversial. Jangankan di Indonesia, di Amerika sendiri walaupun mendapat pujian kritikus dan memenangkan Emmy Award tetap saja banyak orang yang memperdebatkan isi dan pesan serial TV ini. Ada pihak yang menunding serial ini ingin memberi pemakluman atas tindakan serial killer dan menunjukkan empati pada kekerasan yang dilakukan si serial killer. Karena itu jangan harap serial ini akan diputar di dunia pertelevisian Indonesia. Satu-satunya jalan hanya lewat DVD bajakan. Itu juga kalau anda tidak keberatan dan muak dengan banyaknya adegan sadis seperti mutilasi dan cipratan darah yang mewarnai serial ini.

Adalah novel laris berjudul Dark Dreaming Dexter karya Jeff Lindsay (sudah terbit terjemahan Indonesianya) yang menjadi pijakan pembuatan season 1 serial Dexter ini, walaupun season 2 dan selanjutnya sudah tidak mengikuti sequel novel karya Jeff Lindsay lagi. Sebagaimana novelnya, dalam serial ini juga Dexter berperan sebagai narator cerita. Season 1 banyak menampilkan adegan flashback mengenai hubungan Dexter dan ayahnya, pengaruh wejangan Harry terhadap Dexter hingga training yang diterima Dexter. Dexter ditampilkan sebagai orang tanpa emosi (Dexter menyebutnya “empty”) yang menjalani kehidupan sosialnya sebagai topeng sosok psikopat sesuai ajaran ayahnya. Selain itu juga ditampilkan hubungan Dexter dan adiknya Debra, seorang polisi yang berambisi untuk masuk jajaran detektif elit Miami Vice, juga hubungan Dexter dengan Rita, janda beranak dua korban mantan suami abusive yang digambarkan Dexter sebagai kamuflase sosial sosok serial killer dirinya. Season 1 ini juga mengetengahkan perburuan Dexter terhadap serial killer pintar berjuluk Ice Truck Killer yang terlihat sangat mengenal Dexter luar dalam termasuk masa lalu Dexter yang membuat dirinya menjadi monster pembunuh. Memasuki season 2, cerita lebih berfokus pada perburuan “Bay Harbor Butcher” yang tak lain tak bukan merupakan alter ego Dexter sebagai serial killer.

Bagi anda yang menyukai musik latin terutama irama Afro-Cuban tentu akan sangat menikmati iringan lagu berirama latin dengan banyak perkusi dan alat musik tiup disepanjang serial Dexter. Nilai lebih lainnya dalam film ini selain cerita drama misteri yang menarik, humor satir penuh ironi yang ditawarkan juga bisa membuat anda tersenyum pahit, bahkan tertawa masam. Entah berapa kali aku dibuat tertawa dengan perasaan tak enak pada adegan tertentu, terutama oleh kalimat satir dari narasi yang dibawakan oleh tokoh utamanya Dexter.

Dibawah ini adalah trailer serial Dexter untuk season 3.

Mobil Suit Gundam 00 – Serial Gundam paling realis

Judul asli: Kidou Sensi Gandamu Daburu O (機動戦士ガンダムダブルオー)
Sutradara: Seiji Mizushima
Produksi: Sunrise ( 2007 )
Episode: season 1 (25 episode), season 2 (ongoing)

“戦い!お前の信じる神のために!”
“Tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!”
“Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya”
(Setsuna F. Seiei aka Soran Ibrahim, pilot Gundam Exia)

300 tahun yang akan datang, tepatnya pada tahun 2307 masehi, bahan bakar fosil yang menjadi andalan masa sekarang sudah hampir habis sehingga umat manusia mengandalkan sumber energi baru yang lebih potensial yaitu energi matahari. Sumber energi didapat dari panel surya yang ditempatkan berjejer di orbit bumi supaya dapat menangkap tenaga matahari secara sangat efisien. Panel surya di luar atmosfer bumi tersebut disambung langsung ke permukaan bumi lewat pilar panjang yang disebut Orbital Elevator (lihat gambar bawah) sebagai penyalur energi yang ditangkap oleh panel surya. Sayangnya teknologi Orbital Elevator untuk mendapatkan energi matahari dengan cara ini sangat terbatas. Hanya ada 3 pilar Orbital Elevator yang eksis dan dibangun oleh tiga blok perserikatan negara pada masa itu yaitu: AEU (blok negara Eropa), Union (blok negara Amerika dan pendukung USA termasuk Jepang) serta Jinrui kaku renmei atau Liga Reformasi Rakyat yang disingkat Jinkakuren (Rusia, Asia timur kecuali Jepang, Asia barat kecuali Pakistan dan Bangladesh, serta ASEAN). Negara non-blok yang tidak termasuk tiga blok besar, tidak mendapatkan akses energi matahari tanpa persetujuan blok yang bersangkutan. Anda sendiri tentu bisa membayangkan kondisi negara-negara kaya di timur tengah penghasil minyak bumi dimasa depan, jika minyak bumi yang ditambang dibumi mereka habis disedot atau tidak laku lagi dijual.

180px-orbital_satellitePeta politik pada masa itu sangat dipengaruhi oleh masalah ekonomi (terutama masalah energi) sehingga sering terjadi konflik bersenjata oleh negara ataupun kelompok kecil yang didukung salah satu dari tiga blok besar tersebut. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba muncul sebuah kelompok paramiliter swasta yang misterius bernama Celestial Being dengan tujuan utamanya menghentikan perang dengan cara kekerasan. Setiap konflik militer di manapun di dunia ini dan oleh siapapun baik atas dasar konflik agama, ras maupun yang lain akan di intervensi oleh Celestial Being dengan kekerasan. Tidak ada yang dapat menghadapi Celestial Being yang memiliki Mobile Suit paling canggih di dunia yang diberi nama Gundam. Empat unit Mobil Suit Gundam ternyata lebih dari cukup untuk mengobrak abrik kekuatan militer masing-masing blok. Celestial Being tidak akan berhenti memporak porandakan seluruh kekuatan militer kelompok yang bertikai sebelum konflik/perang dihentikan. Dengan keberadaan Celestial Being, tatanan politik dan kekuasan pada saat itu jadi hancur berantakan.

Kelompok seperti apakah Celestial Being itu? Saking misteriusnya, seluruh anggota yang direkrut untuk menjadi anggota sendiri tidak saling mengenal latar belakang satu sama lain. Bahkan nama yang diperkenalkan pertama kali hanyalah nama alias, bukan nama asli. Sistem perekrutan anggota dilakukan oleh super komputer bernama Veda dan anggota yang direkrut dipilih sendiri oleh Veda tanpa ada yang tahu alasan perekrutan. Belum cukup kemisteriusan organisasi ini, pimpinan utama Celestial Being adalah seorang ilmuwan yang bernama Aeolia Schenberg, penemu teknologi GN Drive yang diketahui sudah meninggal dunia 200 tahun yang lalu. Lagipula apakah benar tujuan utama Celestial Being adalah menghentikan perang? Segampang itukah perang dapat dihentikan?

Kalimat pembuka diatas yang saya tulis saja belum cukup untuk menggambarkan betapa rumit plot cerita anime ini karena saya belum memaparkan tokoh-tokoh utama cerita. Dalam tubuh Celestial Being sendiri terdapat 4 pilot Gundam beserta awak pesawat induk tempat “parkir” Gundam bernama Ptolomeus yang masing-masing memiliki karakter dan latar belakang tersendiri. Belum lagi tokoh-tokoh dalam blok AEU, Union, dan Jinkakuren, juga PBB serta rakyat biasa sebagai pengamat luar yang juga memiliki karakteristik masing-masing dan sangat menarik. Konflik politik dan benturan budaya yang mewarnai serial ini menambah panjang kerumitan yang membuat penasaran para penonton.

Tapi anda jangan takut. Walaupun rumit, sutradara sangat pandai mengatur tempo sehingga satu demi satu keruwetan dapat dijelaskan pada setiap episode. Dan konflik yang mewarnai cerita, sangat menarik untuk disimak. Apalagi konsep cerita yang mewarnai serial Gundam kali ini lebih realistis. Lihat saja tahun yang dipakai mengikuti standar Masehi (Anno Domini) bukan tahun khayalan seperti serial Gundam sebelumnya. Konflik politik dan budaya juga benar-benar mengacu pada cerminan konflik masa sekarang seperti krisis energi, masalah perang terhadap terorisme, manipulasi media untuk membentuk opini publik, hingga masalah perang etnis. Saya sendiri bukanlah penggemar berat anime mecha (anime bertema robot raksasa), karena itu saya tidak tahu apakah Gundam yang ini merupakan pengulangan tema Gundam sebelumnya atau bukan. Yang pasti paling tidak saya memberanikan diri menyebut serial Mobile Suit Gundam 00 adalah serial Gundam paling realistis.

Kalau Neon Genesis Evangelion berat dicerita teori evolusi, maka Gundam 00 sarat dan berat dicerita politik dan konflik budaya. Bagi penggemar film berat dan banyak mikir, Mobile Suit Gundam 00 adalah pilihan yang cocok untuk anda. Sengaja saya tidak bercerita lebih lanjut karena takut merusak fantasi dan menghindari spoiler. Yang pasti 25 episode pada season 1 akan membuat anda ketagihan untuk lanjut ke season 2 yang juga direncanakan berjumlah 25 episode. Setting cerita season 2 sendiri dimulai 4 tahun setelah kejadian terakhir pada episode akhir season 1.

Ini adalah serial Gundam pertama yang menggunakan teknologi HDTV (High-Definition Television) dan widescreen sehingga para penonton dipastikan akan terpesona dengan detail visual effect dan desain robot Gundam serta animasi gambar yang menakjubkan. Kalaupun anda pusing dan bingung dengan plot cerita berbelit, anda bisa menonton berulang dan menonton ulangpun tidak terasa membosankan dengan animasi keren seperti ini.

(Edit 8 Februari 2009)
Barusan nonton season 2 episode 18. Ada adegan lucu yang bikin aku tertawa, ketika Ptolemaios dikepung pihak musuh seluruh pilot pergi menghadang musuh dengan alat tempur masing-masing. Masing-masing pilot baik dari pihak Celestial Being maupun musuh membisikkan nama orang yang disayanginya. Misalnya sepasang kekasih Saji dan Louise saling menyebut nama satu sama lain, lalu Marie membisikkan nama Kolonel Smirnov yang seperti ayahnya sendiri, Allelujah menyebut nama Marie, Andrei membisikkan nama ibunya, Lyle menyebut nama pacarnya Anew, Tieria menyebut Veda, dan terakhir si tokoh utama Setsuna F. Seiei membisikkan sebuah nama dengan mesra ……. “GUNDAM”. Hahahahaha…. :lol:

BLOOD+, salah satu serial anime misteri-thriller/horor terbaik

Produksi: Production I.G. dan Aniplex
Sutradara: Junichi Fujisaku
Genre: Drama misteri, thriller, horror
Masa tayang di Jepang: Oktober 2005 – September 2006
Jumlah episode: 50 (tamat)

Sebenarnya aku sudah pernah menulis review tentang serial anime ini tahun lalu dengan bahasa Inggris dan sudah diposting entah dimana. Kali ini aku menulis ulang dengan bahasa Indonesia dan interpretasi berbeda. Maklumlah, ini merupakan salah satu serial anime terbaik yang pernah kutonton walaupun belum bisa dibandingkan dengan serial Evangelion yang luar biasa itu.

Alasan awal diproduksinya serial ini adalah booming-nya film animasi produksi tahun 2001 berjudul Blood: The Last Vampire yang mendapatkan berbagai macam award disetiap festival film yang diikutinya di seluruh dunia. Film ini memang mendapatkan kritik positif dari para pengamat film dunia termasuk James Cameron yang memuji film Blood: The Last Vampire sebagai standar baru dunia animasi. Hanya saja banyak juga kritik yang menganggap film ini “short length and lack of a conclusion”.

Tahun 2005 bertepatan dengan kedatanganku ke Jepang, serial anime BLOOD+ ditayangkan di televisi Jepang hingga berakhir di episode final tahun 2006. Serial ini mengambil tema dan beberapa karakter yang sama dengan versi filmnya dengan setting dunia yang berbeda. Serial anime BLOOD+ sendiri mendapatkan penghargaan dari Japanese Media Art Festival ke 9 sebagai salah satu anime yang direkomendasikan dengan garapan terbaik.

Aku sengaja menulis resensi cerita hingga episode ke 6 demi merangsang niat pembaca untuk menonton, karena episode selebihnya akan mulai menguak misteri dibalik cerita sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya jumlah episode. Menu utama film ini adalah cerita dan misteri yang tersembunyi dibalik sosok tokoh utama yang bernama Saya Otonashi.

Setting cerita pada masa kini (tahun 2005) menceritakan tentang seorang anak SMU bernama Saya Otonashi yang tinggal bersama keluarganya di kota Okinawa yang berdekatan dengan Kadena, pusat pangkalan militer USA di Jepang. Saya dikenal orang sekitarnya mengidap penyakit amnesia (lupa ingatan) dan anemia sehingga wajib melakukan transfusi darah secara berkala. Keluarga Saya seluruhnya keluarga angkat, karena Saya sendiri tidak ingat sedikitpun tentang masa lalunya sampai George Miyagutsuku, seorang veteran perang Vietnam asal Amerika yang berkewarganegaraan Jepang, bersedia menampung Saya dan mengadopsinya sebagai anak.

Istri dan anak biologis George sendiri telah tiada akibat kecelakaan yang menimpa mereka bertahun-tahun yang lalu. Sebelum mengadopsi Saya, George terlebih dahulu telah mengadopsi dua bersaudara Kai Miyagutsuku dan Riku Miyagutsuku sebagai anak angkat. Jadilah Saya memiliki seorang ayah, seorang abang dan seorang adik lelaki.

Hidup Saya diawal episode terlihat menyenangkan terlepas dari perawatan penyakitnya serta mimpi buruk yang selalu membayangi tidurnya (dalam mimpinya ini Saya melihat seorang anak perempuan pada masa perang Vietnam membantai penduduk sipil, tentara dan monster). Punya ayah George yang mengasihinya, punya abang Kai yang sayang padanya walaupun sok protektif sebagai anak tertua, punya adik manja Riku yang suka masak dan teman-teman sebagaimana layaknya remaja dewasa di Jepang membuat hidup Saya serasa sempurna.

Hingga pada suatu hari Saya diserang monster mirip vampire yang dikemudian hari dikenal dengan nama Chiropteran. Ketika hampir celaka tiba-tiba muncul seorang misterius yang selalu membawa kotak Cello bernama Hagi menolong. Tapi Hagi hanya dapat membuat monster itu lumpuh tanpa bisa membunuhnya. Menurut Hagi, satu-satunya orang yang bisa bunuh Chiropteran hanya Saya sendiri. Saya tiba-tiba saja mendadak menjadi kalap dan dengan menggunakan katana (pedang samurai Jepang) yang dibawa oleh Hagi, Saya tanpa sadar membantai sang monster dengan sadis.

bloodplus1
(Gambar kiri) Keluarga Miyagusuku, George, Kai, Saya dan Riku.
(Gambar kanan) Saya Otonashi bersama teman-teman seperjuangannya

Rupanya rahasia Saya dimasa lalu diketahui oleh ayah angkatnya, namun George tak mau memberi tahu Saya karena khawatir kalau anak angkatnya jadi terpukul dengan masa lalunya yang gelap. Tak lama kemudian George didatangi seseorang dari organisasi rahasia yang bernama Red Shield yang menagih janji karena Red Shield telah mempercayakan Saya kepada George untuk dipelihara. Tapi George terus menolak menyerahkan Saya kepada Red Shield dengan alasan Saya belum siap, hingga suatu ketika Saya kembali diserang monster dan George tewas terbunuh karena melindungi Saya. Dari sini cerita serial ini mulai panas.

Saya mulai sedikit demi sedikit mendapatkan ingatannya dan memulai perjalanan keliling dunia dari Jepang, Vietnam, Rusia, Perancis hingga klimaksnya di London dalam rangka memberantas monster Chiropteran dengan anggapan hanya dirinya seoranglah yang mampu membunuh Chiropteran. Masalahnya Kai sebagai abang tertua merasa bertanggung jawab atas keluarga setelah George tewas. Dia tidak mau Saya pergi berkeliaran memberantas monster sendirian, sedangkan si bungsu Riku yang masih SMP tentu saja tidak mau ditinggal 2 kakaknya.

Berbekal pedang katana yang dibawa Hagi, mulailah petualangan Saya bersama Kai dan Riku dibantu Hagi menyingkap masa lalunya yang suram, masa lalu Red Shield dan organisasi saingannya Cinq Fleches beserta rahasia gelap dibalik perseteruan antara Red Shield dan Cinq Fleches.

Serial anime ini memiliki segala macam aspek yang dituntut untuk menjadi anime keren yaitu gambar, musik, dan tentu saja paling penting yakni cerita bagus. Kekuatan utama serial anime ini adalah penyingkapan misteri yang secara bertahap dan rapi dibongkar pada tiap episode sehingga menimbulkan rasa penasaran penonton. Setelah melewati setengah musim (sekitar episode 30/50) hampir seluruh misteri telah terungkap, tinggal bagaimana cara penyelesaian kisah. Hal inipun tak kalah menarik untuk disaksikan. Thriller yang disajikan juga cukup menawan dimana ketegangan selalu muncul silih berganti untuk setiap story arc. Unsur dramanya sendiri sangat menyentuh. Dari hubungan antar keluarga Miyagutsuku, hubungan Saya dengan “saudaranya” yang bernama Diva, hubungan antara “Queen dan Chevalier” (yang ini tonton sendiri, takut spoiler), hingga hubungan Saya dengan anggota organisasi Red Shield. Hal unik lainnya adalah tokoh Diva. Diva yang didapuk sebagai antagonis utama justru memiliki penampilan paling manis, paling cute, paling menggemaskan dan paling innocence. Hehehe… sulit membayangkan penampilan Diva yang demikian justru terbalik dengan posisinya sebagai tokoh antagonis, unik bukan?

Theme song dan soundtrack
blood_ost1Aku harus mengakui bahwa OST BLOOD+ termasuk salah satu OST serial anime terbaik yang pernah kudengar. Musik animenya sendiri digarap oleh langganan piala Oscar Hans Zimmer dan Mark Mancina menghasilkan musik indah dan menghanyutkan disepanjang film. Duet Zimmer-Mancina menghiasi serial ini dengan orkestra dan musik klasik termasuk permainan Cello oleh tokoh Hagi dan nyanyian opera tokoh Diva. Untuk opening dan ending theme song, Sony Music membentuk tim tersendiri untuk memilih artis dan lagu mereka. Hasilnya hampir seluruh theme song menjadi hits tangga lagu Oricon hingga pihak produser Production I.G. sendiri mengakui bahwa duet Zimmer-Mancina dan tim Sony Music melakukan pekerjaan hebat (excellent work) dalam menghadirkan musik untuk serial anime ini.

Sekedar pengetahuan saja kalau opening song diisi oleh lagu-lagu Rock menghentak dari Hitomi Takahashi, Hyde (vokalis L’arc en Ciel) hingga UVERworld, berkebalikan dengan ending song yang diisi oleh lagu-lagu Pop-Slow dari Angela Aki, Hajime Chiitose hingga Mika Nakashima.

Warning: Walaupun serial ini menampilkan gambar-gambar grafis yang indah, tapi banyak adegan kekerasan dan sadis yang penuh dengan darah muncrat disana-sini. Sebaiknya tidak ditonton oleh anak-anak.

Cerita: 4/5
Musik: 4/5
Total Rating: 4/5

Trailer berbahasa Inggris versi Cartoon Network

XIII: The Conspiracy – Mini seri ala The Bourne Trilogy

Produksi: Prodigy Picture and Cipango Film ( 2008 )
Jumlah episode: 2
Negara: Kanada/Prancis
Sutradara: Duane Clark
Pemain: Stephen Dorff, Val Kilmer

filmxiii1

Presiden wanita pertama USA Sally Sheridan tewas ditembak setelah membawakan pidato pada perayaan hari veteran di Raleigh, North Carolina. Setelah melakukan misinya, sang penembak justru diincar nyawanya oleh sesama temannya sendiri walau dia berhasil lolos dengan membawa luka parah. Tiga bulan kemudian di Virginia barat, seorang pria tua menemukan pemuda luka parah yang parasutnya tersangkut di pepohonan. Pemuda tersebut siuman tanpa memiliki ingatan apapun tentang identitas dirinya. Petunjuk yang ada hanya tato di dada dekat pundak kirinya yang bertuliskan angka XIII (tiga belas dalam huruf romawi) dan memory card yang tersembunyi di jam tangannya.

Pada saat bersamaan pemerintah USA yang sedang menghadapi PEMILU dalam waktu dekat berupaya untuk mengungkap kasus pembunuhan yang menimpa presiden Sally Sheridan. Kandidat presiden yang bertarung adalah mantan wakil presiden Galbrain yang menjabat sebagai presiden sementara dan Wally Sheridan, adik Sally Sheridan yang notabene gubernur North Carolina. Isu mengungkap pembunuhan Sally Sheridan tentu sangat berpengaruh terhadap hasil PEMILU. Apalagi Wally Sheridan jelas-jelas menuduh pemerintahan presiden Galbrain tidak serius menangani kasus pembunuhan kakaknya.

Di Virginia barat, XIII (Stephen Dorff) tiba-tiba saja diserang sehingga menyebabkan suami-istri tua yang menolongnya tewas. Pemimpin penyerangnya yang diketahui dipanggil dengan nama Mongoose (Val Kilmer) ternyata memiliki tato ditempat yang sama dengan kode XII (dua belas). Selain itu juga ditubuh orang-orang yang ingin menghabisi XIII ditemukan pula angka tato huruf romawi dengan angka berbeda. Lalu apakah arti tato angka romawi tersebut? Benarkah XIII yang membunuh presiden Sally Sheridan? Mulailah XIII mengadakan penyelidikan tentang siapakah sebenarnya jati dirinya.

Bagi yang pernah menonton The Bourne Trilogy pasti merasa sangat familiar dengan tema film seperti ini. Memang mini seri ini merupakan adaptasi komik berjudul XIII karya komikus Perancis-Belgia Jean Van Hammed dan William Vance yang terinspirasi novel karya Robert Ludlum tersebut. Sebelum mini seri ini, XIII terlebih dahulu diadaptasi menjadi sebuah game pada tahun 2003 yang dapat dimainkan pada konsol PS2, XBOX, Gamecube dan PC.

Mini seri yang berjumlah 2 episode ini sebenarnya lumayan menarik untuk ditonton. Penuh dengan misteri, thriller, dan cerita yang berbelit merupakan nilai jual utama. Sayangnya penggarapan skenario dan juga teknik penyutradaraannya lemah sehingga banyak hal-hal yang kelihatan remeh justru semakin membuat mini seri ini terlihat seperti just like another mini-series. Misalnya saja munculnya tokoh Kim Rowland bisa saja membuat cerita menjadi semakin menarik. Sayang tokoh ini hanya jadi tokoh sekedar numpang lewat. Belum lagi tokoh Mongoose yang kurang digali karakternya sehingga Mongoose hanya terlihat sebagai tukang jagal professional saja. Walaupun diawali dengan ide cerita yang menarik, jadilah film ini menjadi mini seri yang biasa-biasa saja.

Kalaupun panjang durasi film yang menjadi alasan, toh namanya juga mini seri. Mau dihabiskan ceritanya hingga 4 sampai 5 episode juga sepertinya tidak masalah. Untungnya akting Stephen Dorff dan Val Kilmer termasuk lumayan untuk sedikit mengangkat kualitas mini seri ini. Ini adalah kerjasama Dorff dan Kilmer yang kedua setelah mendapat pujian kritikus dalam film drama kehidupan penjara Felon. Selain itu juga adegan pertarungan XIII dan Mongoose yang menggunakan pecahan kaca sebagai senjata tergolong unik. Bagi yang suka film bergaya Bourne Trilogy, mini seri ini cukup menghibur koq.

Ide cerita: 3.5/5
Rating film: 2.5/5

Sanctuary – Serial sains-fiksi dari Kanada

Ide Cerita: Damian Kindler
Genre: Science-Fiction
Tayang TV perdana: Sci Fi Channel, 3 Oktober 2008
Pemain: Amanda Tapping, Robin Dunne, Emilie Ullerup, Ryan Robins, Christopher Heyerdahl

Kembali sebuah serial Kanada yang cukup menarik untuk dijadikan tontonan setelah sebelumnya saya telah membahas serial komedi Little Mosque on The Prairie. Kalau anda pernah menonton serial TV horor/misteri seperti Friday the 13th: The Series dan Poltergeist: Legacy yang masing-masing pernah diputar di TVRI dan AnTV, serial ini merupakan perpaduan tema antara keduanya. Kalau serial Friday the 13th: The Series mengetengahkan kisah pengumpulan barang-barang antik terkutuk, Sanctuary mengusung tema pengumpulan makhluk-makhluk tidak biasa (abnormal) kedalam tempat penampungan khusus yang diberi nama “Sanctuary for All” agar mereka tidak mengganggu komunitas manusia atau juga sebaliknya supaya masyarakat tidak mengganggu mereka (bagi yang berkelakuan baik). Hanya saja Sanctuary terdiri dari anggota-anggota dengan keahlian khusus dan melakukan pendekatan yang lebih kearah sains-fiksi seperti halnya dengan serial Kanada yang lain Poltergeist: Legacy.

Awalnya serial ini hanyalah merupakan webisode (serial yang ditayangkan lewat jaringan internet) hingga Sci Fi Channel yang melihat kesuksesan Sanctuary di jalur internet tertarik untuk melanjutkannya menjadi serial TV. Walaupun masih banyak kekurangan yang ditunjukkan, tetapi cerita yang dicoba untuk diangkat oleh penulis cerita lumayan menarik seperti legenda penyihir Inggris kuno Merlin dan Morgana le Fay, time traveler (mirip Hiro dari serial Heroes dari sisi negative), hingga sisi lain dari ilmuwan Nikola Tesla. Hanya saja serial ini memiliki kecenderungan untuk membosankan, jika tensi alur cerita tidak dijaga untuk tergarap dengan baik. Untuk ke 13 episode awal, sepertinya serial Sanctuary nggak jelek-jelek amat buat tontonan. Setelah episode pengenalan awal, mulai episode 7 (The Five) cerita mulai menegangkan.

Tokoh utama cerita:
Dr. Helen Magnus (Amanda Tapping). Salah seorang dokter wanita pertama Inggris yang lahir pada sekitar pertengahan abad 19. Diskriminasi gender pada abad 19 menyebabkan Helen sulit mendapatkan sertifikasi dokter walaupun hasil ujian menunjukkan kejeniusannya sehingga Helen meminta ayahnya Dr. Gregory Magnus yang juga seorang dokter dengan pendekatan keilmuan modern untuk mengajarinya secara langsung. Gregory Magnus akhirnya menyetujui untuk mendidik anaknya, hanya saja penelitian utama Gregory bukanlah penelitian biasa melainkan mempelajari makhluk-makhluk abnormal. Setelah kematian ayahnya, Helen melanjutkan usaha ayahnya hingga sekarang. Helen berumur 157 tahun dan tetap hidup hingga saat serial ini ditayangkan sebagai akibat dari pembuktian percobaan yang dilakukannya sendiri, yaitu menginjeksi diri sendiri dengan darah vampire yang dimurnikan. Helen yang lebih suka menyebut makhluk-makhluk tak biasa tersebut sebagai abnormal dari pada monster itu menganggap berhentinya penuaan umurnya adalah sebuah kutukan dari pada berkah.

Dr. Will Zimmerman (Robin Dunne). Anggota terbaru Sanctuary yang tadinya berprofesi sebagai psikiater forensik kepolisian sebelum direkrut oleh Helen untuk bekerja bagi Sanctuary untuk menolong pasien-pasien abnormalnya secara mental psikologis. Meski telah bekerja sebagai anggota Sanctuary, Will masih menyimpan perasaan skeptis tentang hal-hal yang menyimpang dari sains dan akal sehat walaupun secara perlahan mulai terbiasa menerimanya.

Ashley Magnus (Emilie Ullerup). Anak perempuan Helen dan John Druitt yang kelahirannya ditunda oleh Helen dengan membekukan janinnya. Ashley adalah agen lapangan dengan kemampuan mumpuni dalam hal memburu monster baik dengan senjata maupun tangan kosong dan tak segan-segan membunuh makhluk abnormal/monster (tidak seperti ibunya yang cenderung melindungi).

Henry Foss (Ryan Robins). Ahli desain senjata dan ilmuwan komputer yang bertugas menyuplai Ashley senjata dan alat-alat terbaru serta bertanggung jawab terhadap tetek bengek elektronik termasuk pertahanan dan perlindungan Sanctuary dari penyusup luar. Kakek dari kakeknya Henry adalah ahli senjata yang bekerja pada ayah Helen, Gregory Magnus. Henry Foss adalah werewolf yang pernah dirawat di Sanctuary for All.

Big Guy (Christopher Heyerdahl). Nama aslinya belum diketahui, tetapi Helen dan Will hingga saat ini selalu memanggilnya Big Guy. Pelayan, tukang masak, pengawal, hingga supir bagi Sanctuary. Tadinya merupakan pasien Helen yang menolak pergi setelah “disembuhkan”, sehingga Helen mengijinkannya tinggal dengan tugas seksi sibuk di bagian umum. Tampangnya yang berbulu mirip dengan Bigfoot atau Chewbacca tokoh Star Wars. Di situs resmi, nama panggilan sementaranya adalah Bigfoot.

John Druitt (juga diperankan Christopher Heyerdahl). Ayah biologis Ashley dan mantan tunangan Helen yang menguasai kemampuan teleportasi baik tempat maupun waktu yang menyebabkan dirinya mampu melakukan penjelajahan waktu. Sayangnya kemampuan teleportasi ini mengakibatkan otak John mengalami kerusakan sedikit demi sedikit setiap kali John melakukan teleportasi. Efek samping kerusakan otak ini menyebabkan John kehilangan rasa kemanusiaan dan peningkatan agresivitas untuk membunuh.

The Five. Kelompok lima ilmuwan jenius yang menyelidiki dan mempelajari makhluk abnormal dengan cara non-konvensional pada pertengahan abad 19. Helen Magnus, John Druitt dan tokoh ilmuwan sejarah asli Nikola Tesla juga termasuk anggota The Five. Salah satu percobaan yang dilakukan oleh The Five berdasarkan ide Helen Magnus adalah dengan menyuntikkan darah vampire yang dimurnikan akan memberikan kemampuan unik bagi yang disuntik. Seluruh anggota The Five disuntik dengan hasil kemampuan unik yang berbeda. Misalnya Helen dengan kemudaan dan keabadiannya, serta John Druitt dengan kemampuan teleportasinya. Anggota lainnya adalah James Watt, kepala Sanctuary Inggris.

Little Mosque on the Praire – Serial Kanada dengan tema masyarakat muslim

Ide cerita: Zarqa Nawaz
Produksi: CBC Television Canada
Pemain: Zaib Shaikh (Amaar), Carlo Rota (Yasir), Sitara Hewitt (Rayyan), Manoj Sood (Baber), Arlene Duncan (Fatima), Sheila McCarthy (Sarah)

Banyak serial komedi situasi menarik tapi sangat jarang ada serial komedi yang menempatkan tema keagamaan sebagai menu utama, apalagi agama Islam yang menjadi sorotan masyarakat barat sejak peristiwa runtuhnya WTC pada tanggal 11 September 2003. Serial buatan Kanada ini justru berani mengangkat tema komunitas muslim beserta problematikanya di dalam komunitas barat pada umumnya, Amerika utara pada khususnya. Cerita LMotP bersetting di sebuah kota kecil Mercy (kota fiksi) di Kanada.

mosque

Sinopsis
Cerita diawali dengan tokoh imigran asal Lebanon bernama Yasir Hamoudi yang menyediakan ruangan disebelah kantornya untuk difungsikan sebagai masjid. Yasir yang berprofesi sebagai kontraktor adalah tokoh yang selalu mencari jalan kompromi untuk menyelesaikan masalah, termasuk masalah yang berhubungan dengan agama yang dianutnya dengan lingkungan sekitarnya. Keluarga Hamoudi terdiri dari Yasir sendiri, istrinya Sarah seorang wanita bule yang masuk Islam ketika menikah dengan Yasir, dan anak perempuan mereka Rayyah seorang dokter muda yang berusaha keras menerapkan prinsip Islam dalam kehidupannya.

Amaar seorang mantan pengacara memutuskan untuk mengubah haluan hidupnya dari profesinya sebagai pengacara di kota Toronto dengan menerima tawaran menjadi imam sebuah masjid kecil disebuah kota kecil bernama Mercy. Tawaran menjadi imam baru masjid Mercy itu tak lain diajukan oleh Yasir melalui iklan di surat kabar.

Tokoh jamaah masjid Mercy yang menghiasi serial ini diantaranya adalah:
- Fatima, wanita imigran Nigeria yang membuka kedai Fatima Café. Fatima memiliki anak bernama Jamal yang sering kesal kalau dipaksa ibunya bermain congklak.
- Baber, tokoh muslim konservatif yang keras, seorang duda imigran (india/pakistan?) yang hidup bersama anak remaja perempuannya.
- Layla, anak Baber yang kadang merasa serba salah dengan sikap ayahnya dan keinginan mengikuti gaya hidup anak muda barat di lingkungan sekitar.

Tokoh non-muslim:
- Pendeta Duncan MaGee, seorang pendeta gereja Anglican yang liberal pemilik lahan yang menyewakan kantor kontraktor Yasir beserta masjid Mercy
- Walikota Ann Popowicz, Walikota perempuan yang memimpin kota Mercy sekaligus atasan Sarah yang bekerja sebagai PR (Public Relation) dikantor walikota.
- Fred Tupper. Pemilik dan pembawa acara talk-show utama radio lokal dengan tema bahaya kaum muslim terhadap komunitas kota. Seorang tokoh sinis dan selalu memandang negatif terhadap komunitas masjid Mercy termasuk memanggil mereka sebagai teroris, tetapi anehnya sering datang ke Fatima Café dimana komunitas masjid Mercy sering berkumpul. Kelihatannya naksir dengan si janda Fatima.
- Joe, petani lokal yang terlihat suka ikut-ikutan terutama dengan sikap Fred sehingga bisa dianggap sebagai “side-kick” nya Fred.

Hingga tulisan ini dibuat , LMotP telah memasuki musim tayang ke tiga. Serial komedi ini sangat digemari di Kanada dan mulai menular ke tetangganya Amerika Serikat yang berencana (seperti biasa) membuat remake dengan setting Amerika. Humor yang ditampilkan kebanyakan mengenai pertentangan antara persepsi hukum islam oleh muslim konservatif dan muslim liberal dikombinasikan dengan kesalah pahaman budaya antara timur-barat. Banyak isu mengenai islam yang ditampilkan dalam serial ini ikut memberi orang barat sedikit pemahaman tentang aplikasi islam dalam masyarakat. Misalnya saja masalah hijab (jilbab dan burkha), pembatas sholat antara pria dan wanita, masalah terorisme, poligami, puasa Ramadhan dan Idul Adha, hingga feminisme muslim.

Walaupun dengan mengambil tema sentral permasalahan masyarakat muslim di Kanada, serial ini tetaplah serial komedi. Ambillah nilai positif dari cerita dan temanya, jangan dipikirkan dengan serius cara penyelesaian konflik yang dibuat lucu-lucuan. Namanya juga serial komedi.

Next Page »