Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



K-On! The Movie

Sewaktu menonton serial K-On season 2 yang berakhir menggantung dan dilanjutkan dengan pengumuman akan dibuatnya versi The Movie, cuma satu pendapatku: rumah produksinya mau cari untung mumpung serialnya ngetop. Benarkah demikian? Tapi tetap saja aku ingin nonton dan penasaran, seperti apa sih K-On! The Movie ini. Continue reading ‘K-On! The Movie’

Usagi Drop (Live Action)

Cukup banyak film yang bercerita tentang orang tua dadakan yang setengah terpaksa mengurus anak kecil, dari awalnya ogah-ogahan sampai akhirnya lambat lain berubah menjadi sosok orang tua yang sesungguhnya. Lihat saja contohnya film Hollywood Three Men and a Baby beserta sequelnya, lalu di belahan benua asia juga ada Speedy Scandal (Korea). Biarpun temanya diulang-ulang beberapa kalipun, asalkan digarap dengan menarik tentunya film dengan cerita seperti ini bsa dijadikan film hiburan buat tontonan keluarga. Usagi Drop (kadang diterjemahkan menjadi Bunny Drop) sendiri merupakan film layar lebar hasil adaptasi manga berjudul sama karya Yumi Unita yang juga telah diangkat menjadi serial anime dengan judul yang sama pula. Aku sendiri belum membaca manga ataupun menonton anime Usagi Drop, sehingga review ini murni hanya berdasarkan tontonan film live action saja. Continue reading ‘Usagi Drop (Live Action)’

The Detective 2 (B+ Jing Taam)

Jarang-jarang ada film sequel yang bisa menyamai kualitas film originalnya, apalagi untuk melebihi. Banyak contoh judul-judul film sequel yang hanya dianggap sebagai sisa-sisa kejayaan film originalnya untuk meraih keuntungan pasar. Contoh film-film menyamai atau malah melampaui kualitas film originalnya, Godfather II, Spider-Man 2, hingga Dark Knight. Film-film asia pun sama saja, karena kebanyakan film sequel hanya digunakan untuk meraup keuntungan semata atas popularitas film originalnya. The Detective atau judul aslinya C+ Jing Taam adalah film produksi 2007 yang disutradarai Oxide Pang, si sulung dari sutradara kembar Pang Brothers, yang sukses dengan film bertema horornya seperti The Eye. The Detective adalah salah satu karya bagus dari sutradara Hong Kong yang besar dan mengawali karirnya di Thailand ini. Berkisah tentang detektif partikelir Tam yang berbasis di China Town kota Bangkok, dibawakan dengan gaya yang menarik oleh Oxide dengan dukungan akting memikat dari Aaron Kwok sebagai sang detektif. Bagaimanakah jadinya bila kisah sang detektif Tam dibuat sequelnya 4 tahun kemudian? Continue reading ‘The Detective 2 (B+ Jing Taam)’

Resensi pendek dan singkat [5]

Sacrifice [2010]

Aku selalu suka film-film karya sutradara China terkenal Chen Kaige. Mau yang film kritik sosial budaya kayak Farewell My Concubine, atau film fantasi komersil seperti The Promise, atau film biografi kayak Mei Lenfang, bahkan film kelas berat yang boleh dibilang bikin aku pusing karena plotnya tak kumengerti kayak Temptress Moon, semuanya kutonton dan menyukainya. Gaya penyutradaraan, eksplorasi karakter, visualisasi dan sinematografi-nya lah yang membuatku suka dengan film-film karya Chen Kaige. Sacrifice inipun tak lepas dari gaya bercerita Chen Kaige yang unik. Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [5]‘

Sword of Desperation (Hisshiken Torisashi)

Aku termasuk orang yang menyukai karya tulisan Shuhei Fujisawa, padahal belum pernah sekalipun membaca buku karangannya. Yang menyebabkan aku menyukai karya beliau adalah film-film yang diadaptasi berdasarkan novel dan cerita pendek karangan Fujisawa. Shuhei Fujisawa mengkhususkan dirinya menulis cerita fiksi dengan setting jidaigeki (jaman para samurai) terutama jaman Edo. Keistimewaan karya Fujisawa adalah selalu mengambil sudut pandang kalangan kelas menengah ke bawah dengan tokoh utama samurai rendahan yang posisinya dalam struktur organisasi sama sekali tidak penting. Misalnya saja tokoh utama dalam Tasogare Seibei (Twilight Samurai), Seibei hanyalah seorang akuntan yang kerjaannya dalam benteng cuma mendata hasil bumi yang keluar-masuk gudang. Atau tokoh Mimura dalam Bushi no Ichibun (Love and Honor) yang cuma seorang pencicip masakan untuk menghindarkan tuannya penguasa benteng terkena racun lewat makanan. Sword of Desperation (SoD) diadaptasi berdasarkan cerpen berjudul sama (Hissiken Torisashi) yang diambil dari kumpulan cerpen serial Kakushiken. Serial Kakushiken (jurus simpanan) adalah serial yang dikhususkan oleh Fujisawa mengambil kisah dengan tokoh (baik tokoh utama maupun tokoh sampingan) yang memiliki jurus maut simpanan. Continue reading ‘Sword of Desperation (Hisshiken Torisashi)’

A Chinese Fairytale – Versi terbaru A Chinese Ghost Story 2011

Bagi yang suka sastra China klasik, besar kemungkinan anda pernah membaca atau paling tidak mengetahui tentang novel supernatural karya Pu Songling yang berjudul Kisah Aneh Liaozhai. Memang karya sastrawan Pu ini tidak seterkenal karya klasik lain seperti Kisah Tiga negara ataupun Perjalanan ke Barat yang hampir diketahui oleh seluruh orang-orang China maupun keturunan diluar China Mainland, tapi keunikan Pu Songling yang memasukkan tokoh-tokoh supernatural seperti hantu dan siluman membuat Kisah Aneh Liaozhai memperoleh kesan dan gaya penceritaan tersendiri. Diantara hampir 500 cerpen dari kumpulan cerita pendek yang terangkum dalam Kisah Aneh Liaozhai, mungkin ada 2 cerita yang paling banyak dikenal dewasa ini, dan yang berjasa memperkenalkannya adalah media film. Dua cerita tersebut yang diadaptasi menjadi film/serial TV adalah Qian Nü You Hun dan Hua Pi. Hua Pi pernah diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul Painted Skin, sedangkan Qian Nü You Hun (Cerita Hantu Wanita) telah meraih sukses komersial dengan nama A Chinese Ghost Story, baik sebagai film layar lebar, film animasi maupun serial TV. Mungkin yang paling sukses adalah adaptasi layar lebar versi 1987 yang dibintangi Leslie Cheung dan Joey Wong sebagai pasangan pelajar miskin dan hantu wanita cantik. Continue reading ‘A Chinese Fairytale – Versi terbaru A Chinese Ghost Story 2011′

Gantz: Perfect Answer


Seperti yang telah kutulis sebelumnya dalam review Gantz Live Action, Gantz: Perfect Answer adalah direct sequel dari film pertamanya tersebut yang mengambil setting beberapa bulan setelah misi Buddha seribu tangan. Para karakter yang telah ada pada film pertamanya kembali muncul seperti 2 tokoh utama Kei Kurono (Kazunari Ninomiya) dan Masaru Kato (Kenichi Matsuyama), malah beberapa diantara diberikan porsi lebih besar dibanding film sebelumnya seperti misalnya Tae (Yuriko Yoshitaka) dan Pak tua Suzuki (Tomorrow Taguchi). Sequelnya ini menambahkan beberapa tokoh baru, baik yang ada dalam manga maupun karakter yang dibuat untuk versi film. O iya, sebelumnya harus saya ingatkan. Walaupun film ini merupakan sequel dari Gantz Live Action, film ini bukanlah adaptasi manga Gantz mengingat sebagian besar plot utama cerita berubah. Memang sih, ada beberapa sub-plot manga seperti misalnya lulusan tim Gantz lama dipanggil pulang, member Gantz dalam misi yang biasanya tak terlihat menjadi terlihat orang lain, hingga misi memburu Tae Kojima hadir dalam film ini, tapi tetap saja kalau anda membaca manga Gantz akan merasakan perbedaan yang mendasar. Continue reading ‘Gantz: Perfect Answer’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 358 other followers

%d bloggers like this: