Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Hankyu Densha


Aku tahu keberadaan film ini ketika temanku Takero menulis update statusnya di socmed mixi tahun lalu, hanya saja ada hal yang membuatku membatalkan niatku nonton di bioskop. Hal itu adalah penggunaan logat kansai dalam mayoritas dialog dan terus terang saja, kemampuanku untuk mengerti dialek kansai menurutku masih kurang. Maklumlah, kalau nonton di bioskop tak bisa mengulang adegan yang berisi dialog yang tidak bisa ditangkap kupingku. Setelah keluar DVD-nya pun aku masih agak malas untuk nonton, baru tertarik ketika aku melihat salah satu pemerannya tertera di cover film yaitu Mana Ashida yang pernah kutonton di film Usagi Drop. Benar saja film ini menampilkan banyak dialog berdialek kansai karena settingnya di ambil di daerah kansai, propinsi Hyogo. Film ini merupakan adaptasi novel yang berjudul sama karya Hiro Arikawa. Hankyu Densha sendiri berarti KRL (Kereta Listrik) Hankyu, sebuah jalur KRL di daerah kansai yang dijadikan tempat berinteraksi para tokohnya. Karena KRL Hankyu punya banyak jalur, jalur yang digunakan untuk setting film ini hanya jalur Imazu. Continue reading ‘Hankyu Densha’

Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar sejarah

Kolaborasi sutradara/produser Tsui Hark dan bintang laga Jet Li sudah cukup dikenal oleh para pecinta film martial arts lewat seri Wong Fei-hung era 1990-an. Kali ini Tsui Hark kembali mengajak Jet Li dalam pembuatan karya terbarunya yang dilabeli oleh Tsui Hark sebagai re-imagine film produksi tahun 1992 New Dragon Gate Inn yang diproduseri oleh Tsui. New Dragon Gate Inn sendiri merupakan remake film Dragon Gate Inn produksi 1967 yang diisutradarai oleh sutradara legendaris Taiwan, King Hu. Kalau melihat setting film Flying Swords of Dragon Gate yang diambil 3 tahun setelah peristiwa terbakarnya Penginapan Gerbang Naga pada ending New Dragon Inn, film ini lebih cocok disebut sebagai sequel tak langsung dari New Dragon Inn daripada sebutan re-imagining. Tsui Hark menyatakan bahwa teknik 3D yang digunakan dalam film ini akan membuka interpretasi baru dalam film bergenre wuxia, namun sayangnya aku harus cukup puas nonton versi 2D-nya karena jadwal nontonnya 3D terlalu mepet buatku. Continue reading ‘Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar sejarah’

Wild 7 – Tujuh biker jagoan

Calling the fallen angel
Rolling on cold asphalt

Pertama kali tahu tentang film ini justru dari band rock terkenal L’Arc~en~Ciel, gara-gara mereka merilis single [CHASE] yang dijadikan theme song film ini. Tadinya aku merasa lucu dengan lirik lagu [CHASE] yang tertulis diatas. Setelah nonton barulah aku tahu maksudnya. Fallen angel yang di maksud adalah 7 jagoan dalam film ini merupakan mantan bandit, sedangkan bait kedua berhubungan dengan aksi mereka di jalanan. Ya…. mereka bertujuh adalah para biker yang menunggang 7 motor keren. Setelah tahu film ini akan diputar, langsung saja aku mencari info ceritanya dan ternyata film ini merupakan versi live action adaptasi manga berjudul sama yang anime-nya pernah populer di tahun 70-an. Continue reading ‘Wild 7 – Tujuh biker jagoan’

K-On! The Movie

Sewaktu menonton serial K-On season 2 yang berakhir menggantung dan dilanjutkan dengan pengumuman akan dibuatnya versi The Movie, cuma satu pendapatku: rumah produksinya mau cari untung mumpung serialnya ngetop. Benarkah demikian? Tapi tetap saja aku ingin nonton dan penasaran, seperti apa sih K-On! The Movie ini. Continue reading ‘K-On! The Movie’

Usagi Drop (Live Action)

Cukup banyak film yang bercerita tentang orang tua dadakan yang setengah terpaksa mengurus anak kecil, dari awalnya ogah-ogahan sampai akhirnya lambat lain berubah menjadi sosok orang tua yang sesungguhnya. Lihat saja contohnya film Hollywood Three Men and a Baby beserta sequelnya, lalu di belahan benua asia juga ada Speedy Scandal (Korea). Biarpun temanya diulang-ulang beberapa kalipun, asalkan digarap dengan menarik tentunya film dengan cerita seperti ini bsa dijadikan film hiburan buat tontonan keluarga. Usagi Drop (kadang diterjemahkan menjadi Bunny Drop) sendiri merupakan film layar lebar hasil adaptasi manga berjudul sama karya Yumi Unita yang juga telah diangkat menjadi serial anime dengan judul yang sama pula. Aku sendiri belum membaca manga ataupun menonton anime Usagi Drop, sehingga review ini murni hanya berdasarkan tontonan film live action saja. Continue reading ‘Usagi Drop (Live Action)’

The Detective 2 (B+ Jing Taam)

Jarang-jarang ada film sequel yang bisa menyamai kualitas film originalnya, apalagi untuk melebihi. Banyak contoh judul-judul film sequel yang hanya dianggap sebagai sisa-sisa kejayaan film originalnya untuk meraih keuntungan pasar. Contoh film-film menyamai atau malah melampaui kualitas film originalnya, Godfather II, Spider-Man 2, hingga Dark Knight. Film-film asia pun sama saja, karena kebanyakan film sequel hanya digunakan untuk meraup keuntungan semata atas popularitas film originalnya. The Detective atau judul aslinya C+ Jing Taam adalah film produksi 2007 yang disutradarai Oxide Pang, si sulung dari sutradara kembar Pang Brothers, yang sukses dengan film bertema horornya seperti The Eye. The Detective adalah salah satu karya bagus dari sutradara Hong Kong yang besar dan mengawali karirnya di Thailand ini. Berkisah tentang detektif partikelir Tam yang berbasis di China Town kota Bangkok, dibawakan dengan gaya yang menarik oleh Oxide dengan dukungan akting memikat dari Aaron Kwok sebagai sang detektif. Bagaimanakah jadinya bila kisah sang detektif Tam dibuat sequelnya 4 tahun kemudian? Continue reading ‘The Detective 2 (B+ Jing Taam)’

Resensi pendek dan singkat [5]

Sacrifice [2010]

Aku selalu suka film-film karya sutradara China terkenal Chen Kaige. Mau yang film kritik sosial budaya kayak Farewell My Concubine, atau film fantasi komersil seperti The Promise, atau film biografi kayak Mei Lenfang, bahkan film kelas berat yang boleh dibilang bikin aku pusing karena plotnya tak kumengerti kayak Temptress Moon, semuanya kutonton dan menyukainya. Gaya penyutradaraan, eksplorasi karakter, visualisasi dan sinematografi-nya lah yang membuatku suka dengan film-film karya Chen Kaige. Sacrifice inipun tak lepas dari gaya bercerita Chen Kaige yang unik. Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [5]‘


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 368 other followers

%d bloggers like this: