Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Space Sheriff Gavan: The Movie

Gavan the movie

Space Sheriff Gavan adalah serial Metal Heroes pertama genre tokusatsu yang diproduksi oleh Toei Production mengikuti kesuksesan genre tokusatsu lain seperti serial Kamen Rider dan Ultraman. Peluncuran film versi The Movie ini bertepatan pada peringatan 30 tahun pertama kali serial Space Sheriff Gavan diputar di media TV Jepang. Serial TV original Gavan sendiri beredar di Indonesia via kaset video mulai pertengahan tahun 1980-an. Bagi anak-anak yang tumbuh besar di era tahun 1980-an, serial Metal Heroes merupakan serial yang mencapai puncak kejayaannya melebihi serial Kamen Rider. Gavan (atau lebih dikenal di Indonesia dengan nama Gaban), dilanjutkan oleh suksesornya Sharivan (Shariban) hingga Shaider merajai genre tokusatsu tahun 1980-an di Indonesia. Memasuki era 1990-an, kejayaan Metal Heroes mengalami penurunan seiring dengan naiknya popularitas serial Kamen Rider yang dimotori oleh Kamen Rider Black alias Ksatria Baja Hitam. Setelah 30 berlalu, bagaimanakah popularitas si polisi luar angkasa Gaban? Ternyata Gaban masih laku, terbukti film cross-over antara Super Sentai dan Metal Heroes pertama Kaizoku Sentai Gokaiger vs. Space Sheriff Gavan: The Movie meraih untung lumayan sehingga Toei tak ragu melepas Gavan berpetualang sendirian dalam film tanpa didampingi kelompok Super Sentai. Continue reading ‘Space Sheriff Gavan: The Movie’

Tokyo Kazoku (Tokyo Family)

Tokyo Kazoku poster

Cukup lama aku tak pernah menonton film Jepang di bioskop. Terakhir kali aku nonton Rurounin Kenshin akhir Agustus tahun lalu dan setelah itu absen nonton film Jepang hingga aku menemukan Tokyo Kazoku. Aku nonton telat seminggu dan bisa dilihat antusiasme penonton sudah berkurang setelah tayang seminggu, saat itu yang nonton hanya 4 orang termasuk aku. Tokyo Kazoku atau juga dikenal dengan judul Tokyo Family merupakan film terbaru karya sutradara Yoji Yamada yang dikenal sebagai pembuat film bertema keluarga. Aku rata-rata menyukai film buatan Yamada, termasuk juga trilogi Twilight Samurai. Alasannya cukup simpel, Yamada tak memasukkan adegan lebay khas film drama Jepang umumnya tapi lebih memfokuskan scene-scene natural tentang hubungan antar sesama orang Jepang. Tadinya aku membaca kalau Tokyo Kazoku adalah film yang diinspirasi dan diatributkan bagi film legendaris arahan sutradara Yasujiro Ozu, Tokyo Story. Tapi ketika film siap tayang, tiba-tiba muncul ulasan bahwa Tokyo Kazoku lebih merupakan film remake Tokyo Story bukan sekedar film atribut untuk Yasujiro Ozu. Bagaimanakah hasil remake karya Yoji Yamada ini? Continue reading ‘Tokyo Kazoku (Tokyo Family)’

Tokyo Story (1953)

Isn’t Life Disappointing?
(Kyoko)

Tak banyak film drama jadul yang tampilannya masih hitam-putih dan ceritanya lambat bisa membuatku terkesan. Biasanya film dengan pacing cerita cepat seperti Seven Samurai karya Akira Kurosawa bisa masuk kriteria daftar film terbaikku. Tapi kalau sampai film dengan pacing lambat seperti Tokyo Story karya Yasujiro Ozu ini bisa masuk daftar film terbaik di mataku, tentunya bukan film sembarangan. Film buatan tahun 1953 ini memang termasuk salah satu karya master-piece sinema Jepang dan menjadi salah satu film wajib tonton bagi para penikmat film. Apanya sih yang membuat film ini luar biasa.
Continue reading ‘Tokyo Story (1953)’

Gyakuten Saiban Live Action

Anda seorang gamer? Mungkin pernah main serial video game buatan Capcom berjudul Gyakuten Saiban yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Phoenix Wright: Ace Attorney? Kalau iya, berarti film ini kemungkinan besar sudah diantisipasi untuk ditonton karena film Gyakuten Saiban ini adalah adaptasi dari game adventure dengan tema pengadilan tersebut. Aku sendiri bukan gamer sejati meski pernah main beberapa game, tapi sama sekali belum pernah memainkan game Phoenix Wright: Ace Attorney sehingga boleh dibilang nonton film ini tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan tentang plot cerita maupun karakter. Sutradara film ini adalah Miike Takeshi yang dikenal sebagai sutradara pembuat film-film gory, walaupun akhir-akhir ini mulai membuat film lintas genre, mulai dari film jidaigeki, komedi anak-anak, dan kali ini drama pengadilan. Continue reading ‘Gyakuten Saiban Live Action’

Rurouni Kenshin Live Action


Rurouni Kenshin Meiji Kenkaku RĊmantan aka RuRoKen atau dikenal juga sebagai Samurai X merupakan salah satu manga/anime berpengaruh bagiku. Bagaimana tidak? Gara-gara nonton serial animenya, aku jadi ngefans berat sama Judy and Mary dan L’Arc~en~Ciel. Terus terang saja, plot RuRoKen yang menarik bagiku hanya ada dua yaitu kisah Kenshin muda mendapatkan luka silang di pipinya dan story arch Juuppon Gatana dengan musuh utama Shishio. Ketika pertama kali melihat trailer RuRoKen live action ini, seketika saja aku tak terlampau menggebu-gebu untuk nonton secepatnya karena plot cerita film hanya mengambil penggalan awal dari permulaan cerita manga dan animenya dengan musuh utama Udo Jin’e. Menurut kabar, film ini direncanakan sebagai awal dari seri Rurouni Kenshin, entah sebagai film layar lebar bersequel atau sebagai serial TV.
Continue reading ‘Rurouni Kenshin Live Action’

Robo-G

Empat tahun tanpa menghasilkan satu film pun setelah karya terakhirnya Happy Flight (2008), akhirnya Shinobu Yaguchi kembali duduk di kursi sutradara untuk menggarap film terbarunya. Waktu empat tahun rupanya cukup panjang bagi Yaguchi untuk menjadi lebih dewasa dalam berkarya, terutama ide segar bagi style ciri khas beliau yaitu From Zero to Hero. Tiga film terakhirnya selalu menampilkan tokoh utama anak-anak muda yang berjuang keras menuju keberhasilan. Water Boys dengan perenang SMA pecundangnya, Swing Girls bersama murid SMA yang bosan dengan rutinitas, dan terakhir Happy Flight dengan awak pesawat terbang komersil yang masih hijau. Kali ini Yaguchi menempatkan tokoh kakek jompo sebagai si tokoh utama, sebuah pilihan yang menunjukkan Yaguchi semakin berkembang dan tidak bergerak di area yang itu-itu saja walaupun juga tak meninggalkan genre film yang menjadi gaya dan ciri khasnya. Continue reading ‘Robo-G’

The Four

Seperti yang telah kutulis pada postingan sebelumnya, kali ini aku membahas film adaptasi terbaru dari novel silat serial Empat Opas karangan Wen Rui-an yang muncul di layar lebar. Pertama kali lihat trailernya, terus terang saja kalau aku tidak berharap terlalu banyak pada adaptasi buatan sutradara Gordon Chan ini. Gordon Chan dikenal sebagai sutradara film komedi pada awal karirnya sebagai sutradara, yang paling diingat tentunya kolaborasi Gordon Chan dengan komedian Stephen Chow dari Fight Back to School hingga King of Beggars. Akhir-akhir ini Gordon Chan lebih sering terlibat film aksi seperti Painted Skin, The King of Fighters hingga Mural. Dari tiga film terakhirnya, cuma Painted Skin yang kusuka dan sisanya boleh dibilang acak kadut. Yang membuatku kurang suka sewaktu menyaksikan trailer The Four adalah casting tokoh Tanpa Perasaan yang diubah gendernya menjadi seorang wanita. Oh, jangan salah sangka. Aku suka tokoh jagoan perempuan koq, tapi entah kenapa koq aku merasa terjadi miscasting pada sosok Tanpa Perasaan. Benarkah demikian?
Continue reading ‘The Four’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 368 other followers

%d bloggers like this: