Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Train Brain Express

Entah siapa yang mentranslasikan judul film ini ke dalam bahasa Inggris seperti judul di atas, tapi judul Jepangnya sendiri lebih pas karena mengacu pada salah satu lagu Jazz terbaik yang pernah dibawakan oleh sang bangsawan piano Jazz Duke Ellington, The the “A” Train. Kenapa demikian? Karena salah satu tokoh utamanya penggemar musik yang juga gemar naik kereta. Hal yang membuatku tertarik nonton film ini adalah 2 pemeran utamanya yang boleh dibilang termasuk aktor muda berbakat Jepang yaitu Kenichi Matsuyama dan Eita Nagayama. Bagimana jika 2 gunung (Yama = Gunung) bersatu, akankah menjulang lebih tinggi?
Continue reading ‘Train Brain Express’

The Grandmaster

Kenal Wong Kar-wai? Wong adalah sutradara Hongkong yang dikenal dengan gaya penyutradaraan unik nan artistik disebut sebagai Auteur yang menghiasi film-film garapannya. Aku sendiri bukanlah penggemar berat film-film artistik model Auteur, tapi kadang-kadang ada beberapa yang kusuka. Mengingat kali ini Wong membuat film bergenre martial arts yang menghadirkan master Kungfu bernama Yip Man, aku cukup penasaran dengan hasilnya. Terus terang saja film Wong yang kutonton pertama kali justru film martial arts pertamanya yaitu Ashes of Time yang sukses membuatku tertidur setelah nonton setengah jam. Karena itu aku setengah berharap agar Wong belajar dari pengalamannya membuat Ashes of Time sehingga bisa membuat The Grandmaster sebagai film martial arts keduanya lebih menarik. Continue reading ‘The Grandmaster’

Confession of Murder

Akhir-akhir ini aku lebih banyak nonton film Korea dibandingkan film Jepang. Walaupun demikian aku jarang menulis reviewnya. Maklumlah selain sibuk dalam kehidupan pribadi, penyakit malas juga membuat jari-jari ini kaku buat mengetik tombol keyboard komputer. Baiklah, ini review pertama di bulan April dan kali ini yang diulas adalah sebuah film thriller Korea.

Korea Selatan memiliki perangkat peraturan hukum yang membatasi penuntutan hukum secara legal suatu kasus kriminal hingga 15 tahun setelah awal kejadian. Jika sudah melewati batas waktu 15 tahun, pelaku kasus kriminal tersebut bisa bebas dari hukuman tanpa bisa dituntut oleh pengadilan. Film ini dibuat berdasarkan kasus pembunuhan 10 wanita yang disebut sebagai kasus pembunuhan berantai Hwaseong yang juga menginspirasi film Memories of Murder.
Continue reading ‘Confession of Murder’

Space Sheriff Gavan: The Movie

Gavan the movie

Space Sheriff Gavan adalah serial Metal Heroes pertama genre tokusatsu yang diproduksi oleh Toei Production mengikuti kesuksesan genre tokusatsu lain seperti serial Kamen Rider dan Ultraman. Peluncuran film versi The Movie ini bertepatan pada peringatan 30 tahun pertama kali serial Space Sheriff Gavan diputar di media TV Jepang. Serial TV original Gavan sendiri beredar di Indonesia via kaset video mulai pertengahan tahun 1980-an. Bagi anak-anak yang tumbuh besar di era tahun 1980-an, serial Metal Heroes merupakan serial yang mencapai puncak kejayaannya melebihi serial Kamen Rider. Gavan (atau lebih dikenal di Indonesia dengan nama Gaban), dilanjutkan oleh suksesornya Sharivan (Shariban) hingga Shaider merajai genre tokusatsu tahun 1980-an di Indonesia. Memasuki era 1990-an, kejayaan Metal Heroes mengalami penurunan seiring dengan naiknya popularitas serial Kamen Rider yang dimotori oleh Kamen Rider Black alias Ksatria Baja Hitam. Setelah 30 berlalu, bagaimanakah popularitas si polisi luar angkasa Gaban? Ternyata Gaban masih laku, terbukti film cross-over antara Super Sentai dan Metal Heroes pertama Kaizoku Sentai Gokaiger vs. Space Sheriff Gavan: The Movie meraih untung lumayan sehingga Toei tak ragu melepas Gavan berpetualang sendirian dalam film tanpa didampingi kelompok Super Sentai. Continue reading ‘Space Sheriff Gavan: The Movie’

Tokyo Kazoku (Tokyo Family)

Tokyo Kazoku poster

Cukup lama aku tak pernah menonton film Jepang di bioskop. Terakhir kali aku nonton Rurounin Kenshin akhir Agustus tahun lalu dan setelah itu absen nonton film Jepang hingga aku menemukan Tokyo Kazoku. Aku nonton telat seminggu dan bisa dilihat antusiasme penonton sudah berkurang setelah tayang seminggu, saat itu yang nonton hanya 4 orang termasuk aku. Tokyo Kazoku atau juga dikenal dengan judul Tokyo Family merupakan film terbaru karya sutradara Yoji Yamada yang dikenal sebagai pembuat film bertema keluarga. Aku rata-rata menyukai film buatan Yamada, termasuk juga trilogi Twilight Samurai. Alasannya cukup simpel, Yamada tak memasukkan adegan lebay khas film drama Jepang umumnya tapi lebih memfokuskan scene-scene natural tentang hubungan antar sesama orang Jepang. Tadinya aku membaca kalau Tokyo Kazoku adalah film yang diinspirasi dan diatributkan bagi film legendaris arahan sutradara Yasujiro Ozu, Tokyo Story. Tapi ketika film siap tayang, tiba-tiba muncul ulasan bahwa Tokyo Kazoku lebih merupakan film remake Tokyo Story bukan sekedar film atribut untuk Yasujiro Ozu. Bagaimanakah hasil remake karya Yoji Yamada ini? Continue reading ‘Tokyo Kazoku (Tokyo Family)’

Tokyo Story (1953)

Isn’t Life Disappointing?
(Kyoko)

Tak banyak film drama jadul yang tampilannya masih hitam-putih dan ceritanya lambat bisa membuatku terkesan. Biasanya film dengan pacing cerita cepat seperti Seven Samurai karya Akira Kurosawa bisa masuk kriteria daftar film terbaikku. Tapi kalau sampai film dengan pacing lambat seperti Tokyo Story karya Yasujiro Ozu ini bisa masuk daftar film terbaik di mataku, tentunya bukan film sembarangan. Film buatan tahun 1953 ini memang termasuk salah satu karya master-piece sinema Jepang dan menjadi salah satu film wajib tonton bagi para penikmat film. Apanya sih yang membuat film ini luar biasa.
Continue reading ‘Tokyo Story (1953)’

Gyakuten Saiban Live Action

Anda seorang gamer? Mungkin pernah main serial video game buatan Capcom berjudul Gyakuten Saiban yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Phoenix Wright: Ace Attorney? Kalau iya, berarti film ini kemungkinan besar sudah diantisipasi untuk ditonton karena film Gyakuten Saiban ini adalah adaptasi dari game adventure dengan tema pengadilan tersebut. Aku sendiri bukan gamer sejati meski pernah main beberapa game, tapi sama sekali belum pernah memainkan game Phoenix Wright: Ace Attorney sehingga boleh dibilang nonton film ini tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan tentang plot cerita maupun karakter. Sutradara film ini adalah Miike Takeshi yang dikenal sebagai sutradara pembuat film-film gory, walaupun akhir-akhir ini mulai membuat film lintas genre, mulai dari film jidaigeki, komedi anak-anak, dan kali ini drama pengadilan. Continue reading ‘Gyakuten Saiban Live Action’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 375 other followers

%d bloggers like this: