Archive for the 'Resensi Film Asia' Category

Koran Jepang tentang demo AV idol di Indonesia

Media cetak maupun televisi Indonesia memang ribut membahas pro kontra kedatangan Maria Ozawa untuk membintangi film yang direncanakan berjudul menculik Miyabi (padahal di Jepang sendiri, Ozawa sudah lama tak memakai nama panggung miyabi). Bagaimana dengan media cetak Jepang? Ternyata berita tentang pro kontra ini juga ada yang menghiasi media cetak Jepang, walaupun harus diakui bahwa hanya satu dari media cetak beroplah besar yang memberitakan hal ini yaitu Asahi Shimbun, itupun hanya memberikan sedikit info tanpa opini. Yomiuri Shimbun dan Mainichi Shimbun malah tak pernah menyinggungnya sama sekali. Berita tentang Indonesia yang mendominasi isi koran oplah besar ternyata mengenai gempa di Sumatera beberapa minggu yang lalu, termasuk cara penanggulangan, sistem pemberian bantuan obat-obatan dan makanan yang masih mengecewakan hingga berbagai macam tetek bengeknya seperti tentang konstruksi rumah masyarakat Indonesia yang gampang runtuh, walau terkena gempa berskala kecil sekalipun.

Asahi Shimbun
Asahi Shimbun membahas tentang kemungkinan pencekalan Maria Ozawa masuk ke Indonesia untuk tujuan syuting film, sehingga menyebabkan jadwal syuting film menculik miyabi tersebut terpaksa ditunda. Selain menuliskan komentar Menkominfo M. Nuh, Asahi Shimbun juga menuliskan keberadaan UU anti-pornografi.
“Walaupun tidak bugil, AV idol dilarang syuting” oleh Asahi Shimbun (10/13 ‘2009)

Shikoku Shimbun/Fukui Shimbun/Chuugoku Shimbun, dll
Shikoku Shimbun, dll menekankan tentang kontroversi kedatangan Ozawa-san yang berhubungan dengan keberadaan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Lucunya, koran ini juga menampilkan foto lampiran pedagang kaki lima yang sedang menjajakan jualan DVD bajakan Maria Ozawa di trotoar jalan. Berita yang ditampilkan oleh beberapa koran online ternyata mempunyai isi yang sama, kadang dengan judul berbeda.
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Shikoku Shinbun (10/14 ‘2009)
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Fukui Shimbun (10/14 ‘2009)

Resensi pendek dan singkat

Selama 2 minggu nonton film dari yang ringan hingga yang agak berat, tapi males banget bikin review. Sepertinya virus kemalasan sedang menyerang para blogger akhir-akhir ini. OK, kali ini cuma review singkat saja dari hasil nonton dua minggu.

1. Tracing Shadow

Genre: Kungfu, Comedy
Sebetulnya film produksi Hongkong ini tidak terlalu istimewa menurutku, hanya saja kemunculan 3 pelawak dengan tampang mirip trio superstar Hongkong Jackie Chan, Jet Li dan Andy Lau plus gerombolan penyaru penyanyi Hip Hop asal Taiwan Jay Chou cukup memeriahkan film kungfu komedi yang dibalut petualangan mencari harta karun ini. Sayangnya hanya sekedar meriah, dalam artian tanpa berisi. Kehadiran anak kandung Jackie Chan yang bernama Jaycee ternyata tak terlalu menolong film ini untuk jadi lebih baik. Tapi untuk sekedar hiburan sih lumayan lah.

Mau lihat tampang plagiator sang superstar mirip apa tidak? silahkan lihat disini:
Trailer Tracing Shadow

Rating: 2.5/5

2. 20th Century Boys, 2nd Chapter

Genre: Adventure, Mystery
Sekali lagi aku kecewa dengan film Jepang dengan budget besar adaptasi dari salah satu manga favoritku ini. Setelah plot cerita yang lumayan dengan gaya flash back pada chapter pertama, bagian kedua ini justru berjalan datar begitu saja mirip dorama tanggung. Ada dua hal hal yang menarik perhatianku yaitu, pertama keberadaan si cakep imut Airi Taira yang berperan sebagai Kanna. Yang kedua adalah kemunculan Kenji kembali diakhir film sambil mengendarai motor, plus menggendong gitarnya. Bagi pengemar versi manga-nya mungkin film ini cukup mengesankan. Tapi bagi penggemar film, adaptasi kali ini menurutku mengecewakan.

Rating: 2.5/5

3. Mother (Judul Korea: Madeo)

Genre: Drama, Mystery, Detective
Film ini mengalahkan Thirst, film pastor yang berubah jadi vampir karya sutradara langganan festival Park Chan-wook dalam ajang pengiriman film wakil Korea Selatan ke ajang Academy Award. Tapi sutradara Mother sendiri bukan orang sembarangan. Nama Bong Joon-ho yang dikenal sebagai pembuat film adaptasi dari kisah nyata Memories of Murder yang juga banyak mendapatkan apresiasi positif kritikus dari berbagai ajang festival internasional.

Seperti juga Memories of Murder, Joon-ho sekali lagi menampilkan sinematografi yang menakjubkan dalam film Mother ini. Kisah seorang ibu biasa yang menjadi detektif amatir dadakan demi membuktikan ketidak bersalahan anak kesayangannya yang berpenyakit mental dalam kasus pembunuhan seorang anak sekolah. Kim Hye-ja berperan sebagai ibu yang akan berbuat apa saja demi anaknya, berakting bagus dan menyentuh perasaan. O iya, film ini adalah come back Won Bin setelah sekian lama absen dari dunia layar lebar. Aktingnya sebagai terdakwa pembunuh, seorang pria dewasa tapi berpikiran seperti anak kecil cukup meyakinkan. Berbeda dengan genre film “drama sedih” asal Korea seperti biasanya, sedih dalam film ini justru penuh dengan ironi kasih sayang ibu.

Rating: 3.75/5

4. The Taking of Pelham 123

Genre: Action, Thriller
Sebenarnya film bertema pembajakan kereta listrik ini lumayan bisa memberikan premis positif. Sayang, hanya sekedar premis tidak diikuti dengan kenyataannya. Akting Denzel Washington dan John Travolta tidak terlalu istimewa, walaupun tidak bisa dianggap jelek. Standar akting para aktor kelas atas lah. Lumayan tegang sih, tapi masih jauh untuk mendapatkan pujian sebagai film thriller terbaik. Hal yang paling menarik justru bukan pada cara pembajakannya, melainkan hubungan antara pasar saham dan ide membajak geng John Travolta.

Rating: 3/5

5. Overheard

Genre: Drama, Thriller
Film yang mengisahkan regu khusus para tukang sadap anggota kepolisian Hongkong ini lumayan menarik menurutku, apalagi dengan menampilkan rutinitas hidup para anggota regu yang kerjanya hanya menunggu, menunggu dan menunggu sang tersangka kasus trading saham ilegal kelepasan ngomong untuk dijadikan bukti di pengadilan. Sayangnya ketegangan diawal film ketika mereka memasang penyadap cuma begitu saja. Sisanya hanya menceritakan drama kehidupan anggota regu tanpa unsur suspense yang kuat, walaupun eksekusi diakhir film agak diluar dugaanku.

Rating: 3/5

6. Zombieland

Genre: Horror, Comedy, Road Movie
Campuran film zombie dan road movie ini sangat sukses meraih dollar dalam daftar box office movie. Ramuan komedi yang pas dalam perjalanan 4 survivor serangan zombie ini enak ditonton sebagai hiburan. 4 karakter berbeda dengan chemistry unik, dengan sukses ditampilkan untuk menghadapi para zombie. Tiap karakter diberikan nama berdasarkan daerah asal mereka yaitu Tallahassee, Colombus, Wichita dan Little Rock. Karakter Tallahassee yang dimainkan oleh Woody Harrelsson cukup menarik, terutama hobinya yang lebih suka membantai zombie dengan “penuh gaya” dari pada langsung tembak hingga menghadirkan Zombie Kill of the Week sebagai hiburan. O iya, komedian Bill Murray muncul sebentar sebagai dirinya sendiri yang selamat dari serangan zombie. Percayalah, Bill Murray masih mampu memancing tawa dari penampilannya yang cuma secuil itu. Tapi film ini tetap saja hanya sebuah film hiburan yang setelah ditonton dengan gampang dilupakan.

Rating: 3.25/5

Merantau – Kembalinya film laga rasa Indonesia

Pada saat mudik ke Indonesia, tentu saja tak akan kulewatkan untuk menonton film produksi negara sendiri. Tadinya aku berminat untuk nonton 3 film, tetapi akhirnya hanya film Merantau yang dapat kutonton. Film Garuda di dadaku sudah lewat masa tayang dan film merah putih mendapat rekomendasi jelek oleh seorang teman sehingga kulewatkan untuk menyelamatkan dana nonton filmku.

Sebenarnya sudah banyak orang yang menulis resensi dan sepertinya juga sudah banyak yang tahu isi cerita film ini. Bisa dibilang plot cerita film ini sangat klise dan sedikit mirip dengan film aksi Thailand berjudul Ong Bak yang dibintangi oleh Tony Jaa. Sama-sama menceritakan orang kampung yang datang ke kota besar (walaupun dengan tujuan berbeda) dan sama-sama menampilkan tokoh utama yang masih memiliki hati nurani yang belum ternoda oleh keras dan kejamnya kota besar.

Hasilnya kalau menurutku sih lumayan, terutama dari segi adegan fighting dan kamera yang cukup memukau penonton. Sayangnya eksekusi cerita ternyata tidak berbanding lurus dengan dua hal diatas. Masih banyak bolong-bolong yang harus diperbaiki oleh sutradara yang notabene orang Inggris bernama Gareth Evans. Memang ide pembuatan film merantau ini dicetuskan oleh Evans sendiri yang tertarik untuk membuat film fiksi tentang bela diri silat setelah sebelumnya pernah menyutradarai film dokumenter tentang silat di Indonesia. Aku sempat merasakan aura kebosanan dalam beberapa adegan drama yang sangat terasa dipanjang-panjangkan tanpa maksud jelas yang membuat film seakan berjalan tertatih-tatih. Untungnya saja adegan laga yang menjadi penghubung drama sinetron (terutama drama ber-setting Jakarta) cukup dapat membuatku tak terlalu mengidahkan adegan dramanya. Belum lagi gerakan kamera yang dinamis lumayan mengobati kekecewaanku.

Akting Iko Uwais sebagai pendatang baru tidak terlalu mengecewakan, paling tidak mungkin Iko bisa belajar banyak dengan Christine Hakim yang bermain sebagai ibu tokoh Yuda yang diperankan oleh Iko. Christine Hakim sendiri bermain baik seperti biasanya, sayangnya dialog bahasa minang tidak terlampau ditonjolkan (lebih ke dialog bahasa Indonesia dengan dialek minang) sehingga rasa ke”minangkabau”an Hakim kurang kental. Mungkin akting yang paling menyebalkan justru Sisca Jessica yang berperan sebagai Astri. Kata-kata umpatannya miskin banget dan selalu berulang-ulang sehingga aku teringat pada tokoh Justo dalam serial TV Little Missy, belum lagi akting ala kadarnya. Alex Abbad yang jadi pecundang antagonis lumayan bisa menampilkan tokoh oportunis dalam kehidupan malam Jakarta.

Dengan tampilnya film merantau ini aku harapkan bisa merangsang sineas Indonesia untuk menggarap serius pasar film laga yang kukira masih banyak diminati oleh penontonton lokal. Paling tidak, bisa berkaca film Ip Man sebagai contoh. Film Ip Man disutradarai oleh Wilson Yip, tetapi khusus adegan laganya disutradarai oleh Sammo Hung yang merangkap sebagai penata laga dan Yip terlihat menyerahkan sepenuhnya konsep penyutradaraan adegan laga kepada Hung yang memang sudah berpengalaman menyutradarai film, sehingga Yip bisa fokus untuk adegan drama. Toh masih banyak gaya silat Indonesia yang belum diangkat secara komersil ke layar lebar. Contohnya saja di kampungku nun jauh di pulau Belitung sana, Silat Sinding yang jarang diminati mulai kekurangan praktisi. Walaupun ini tak terlepas juga dari sistim pengajaran Sinding yang turun temurun antar keluarga dan memang Sinding jarang diajarkan karena seluruh pukulannya hanya ditujukan untuk membunuh lawan alias silat untuk perang.

Rating Film: 2.75/5
Sutradara: 2.5/5
Kamera: 3.5/5

Shinjuku Incident – Drama kekerasan imigran gelap

Produksi: JCE Movie Ltd. (2009)
Sutradara: Derek Yee
Pemain: Jackie Chan, Daniel Wu, Naoto Takenaka, Xu Jinglei, Fan Bingbing

Bukan hanya sekali Jackie Chan bermain film serius dalam artian keluar dari lingkaran film yang membuat namanya ngetop yakni eksyen komedi. Salah satu film serius terbaik Jackie yang pernah kutonton adalah Crime Story, film buatan tahun 1993 yang mengangkat kisah nyata penculikan usahawan kaya Hongkong. Selain itu Jackie juga pernah membuat film serius lainnya seperti New Police Story. Mungkin Jackie ingin sekedar refreshing dari dunia eksyen komedi dan mencoba bermain dalam film yang lebih menekankan akting dari pada mengadu jotosnya.

Jackie Chan bermain bagus sebagai Teitou si imigran gelap yang terdampar di jepang akibat mencari kekasihnya yang hilang, hanya saja akting Jackie dalam Crime Story masih lebih bagus dari pada film ini. Daniel Wu yang main bareng Jackie dalam New Police Story bermain lumayan bagus terutama dibagian awal film, hanya saja gayanya dipertengahan akhir film sebagai pecandu berpakaian ng-punk kayaknya kurang ngepas. Xu Jinglei yang jadi rebutan Andy Lau dan Jet Li dalam The Warlords kurang bermain total. Si cantik Fan Bing Bing terlihat berakting bagaikan pemanis saja (tampang cakepnya lumayan menghibur ditengah gersangnya wajah-wajah kereng dan sangar aktor lain). Para aktor Jepang lainnya sepertinya memiliki wajah balok, mimik muka mereka tampak kurang bisa berekspresi, apa mungkin karena peran mereka sebagai Yakuza mengharuskan berwajah cool? Hanya Naoto Takenaka yang bermain sebagai inspektur polisi Kitano bermain keren, lengkap dengan banyolan kasar dan dialog broken Chinese-nya. Aktor ahli bela diri Yasuaki Kurata yang baru-baru ini ikutan tampil dalam Blood: The Last Vampire hanya sekedar numpang lewat dengan dialog seperlunya. Jangan harap ada adegan pertarungan Jackie Chan vs Kurata dalam film ini seperti Jet Li vs Kurata dalam film Fist of Legend.

Walaupun film ini menampilkan beberapa adegan eksyen, tapi perkelahian yang ditampilkan hanya eksyen gaya serabutan alias tidak pakai jurus. Maklumlah tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam film ini, termasuk peran Jackie Chan, bukanlah sosok pendekar. Terus terang saja gaya berantem yang brutal dalam Shinjuku Accident mengingatkanku pada film-film bertema gangster China Triads Young and Dangerous yang pernah booming akhir 1990-an dengan bintang Ekin Cheng hingga sequel nya berseri-seri. Labrak sana sini, sikat kanan kiri, serabutan, sampai main keroyokan gaya tawuran hingga belepotan darah. Malah mungkin tawuran versi Shinjuku Incident lebih brutal. Ya, kalau dari segi eksyen film ini tidak menawarkan apa-apa, karena terlihat sutradara Derek Yee hanya ingin merefleksikan betapa kerasnya hidup sebagai imigran gelap.

Film ini menampilkan cerita drama kekerasan tentang nasib buruh imigran China yang datang sebagai pendatang gelap di Jepang dengan setting awal tahun 1990-an, ketika industry Jepang sedang sibuk-sibuknya menerima orderan disertai banyaknya imigran gelap China yang masuk ke jepang berkat masih lemahnya peraturan keimigrasian Jepang pada saat itu. Sebenarnya tema ini juga sudah beberapa kali diangkat oleh sutradara lainnya dan memang masih menjadi masalah dunia secara global. Ironis memang, kapitalisme yang melahirkan permasalahan buruh imigran gelap justru menolak kehadiran mereka secara terang-terangan. Memang permasalahan ini bagaikan pedang bermata dua. Disatu sisi menimbulkan permasalahan sosial, disisi lain roda industri membutuhkan buruh yang mau bekerja di lingkungan yang biasanya kotor dan berbahaya dengan upah rendah.

Yang patut kuacungi jempol untuk sang sutradara adalah usaha memotret hidup para imigran ilegal pada awal film hingga pertengahan. Potret para imigran gelap hidup berkumpul satu sama lain, dari saling mengajari trik “hidup mudah” bagi para pendatang baru hingga prinsip kekeluargaan yang saling membantu, dapat ditampilkan lumayan menyentuh. Penggambaran prinsip saling makan satu sama lain dan cari selamat masing-masing juga disuguhkan cukup baik. Sebenarnya pertentangan antara komunitas imigran gelap dalam film bisa ditampilkan tanpa melibatkan Yakuza terlalu banyak. Sayangnya skenario dan plot cerita mengharuskan demikian, sehingga film justru jatuh menjadi film perseteruan gangster-gangsteran. Drama mengesankan di awal cerita agak melorot ritmenya menjelang sepertiga akhir. Walaupun demikian, tetaplah film ini masih cukup layak untuk ditonton bagi para penggemar drama kehidupan manusia. Sekali lagi, jangan berharap Jackie Chan akan memamerkan jurus-jurus kung fu nya dalam film ini.

Salah satu dialog favoritku antara Jackie Chan dan Daniel Wu
Jackie Chan melihat temannya mengambil barang tanpa bayar.

Jackie: Eh, koq itu barang gak ada yang jagain?
Daniel: Orang Jepang nggak mencuri, jadinya mereka pikir orang lain juga sama kayak gitu. …. Goblok !!

Rating: 3.5/5

K-20: Legend of the Mask

Judul asli: K-20: 怪人二十面相・伝 (K-20: Legenda si misterius berwajah 20)
Produksi: Toho dan NTV ( 2008 )
Genre: Mystery, Adventure, Fantasy
Sutradara: Shimako Sato
Pemain: Kaneshiro Takeshi, Matsu Takako, Nakamura Toru

Mungkin tidak terlalu banyak penggemar cerita detektif yang mengenal pengarang novel cerita misteri asal Jepang yang bernama Edogawa Ranpo. Di Jepang sendiri nama Edogawa dikenal lewat tokoh detektif fiktif rekaannya Kogoro Akechi, yang banyak dipengaruhi oleh tokoh detektif Sherlock Holmes ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Dalam cerita yang melibatkan tokoh Kogoro Akechi, salah satu rival berat sang detektif adalah si maling bermuka 20 alias Kaijin nijuu mensou (si misterius dengan 20 wajah). Film yang diangkat dari novel misteri karya Kitamura Sou ini menampilkan tokoh-tokoh ciptaan Edogawa Ranpo termasuk side-kick Kogoro Akechi, Kobayashi Yoshio dan geng detektif ciliknya (Shounen Tantei Dan). Bagi penggemar manga dan anime Detective Conan, tentu merasa familiar dengan banyak hal. Ya, memang Aoyama Gosho menciptakan Detective Conan berdasarkan karya dan tokoh ciptaan Edogawa Ranpo. Bisa dilihat dari pemilihan nama Edogawa Conan (nama Edogawa), Kogoro Mouri (berdasarkan nama Kogoro Akechi) hingga tokoh maling misterius Kaito Kid (berdasarkan Kaijin 20 Mensou).

Cerita film ini berlangsung pada dunia alternatif, dimana Perang Dunia II berhasil dihindari dan Jepang tak pernah terlibat dalam perang tersebut. Ibukota Jepang Tokyo dikenal dengan nama Teito (arti harfiah: Ibukota Kaisar), dan masyarakat Jepang terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas rakyat jelata dan aristokrat yang hidup dengan strata sosial dan ekonomi yang jauh berbeda. Selain itu juga Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh Jerman dibandingkan Amerika (pada kenyataan sekarang) dilihat dari sosial budaya dan sistem kemiliteran. Pada masa ini muncul sang maling misterius dengan panggilan Kaijin nijuu mensou (disingkat K-20) alias si misterius berwajah 20 karena kemampuan menyamarnya yang lihay dan banyak membuat para petugas hukum kewalahan mengungkap identitas aslinya.

Kisah berawal dari pencurian mesin transfer energi ciptaan ilmuwan jenius Nikola Tesla oleh maling misterius K-20. Pada kesempatan lainnya, detektif ternama Kogoro Akechi (Nakamura Toru) akan melangsungkan pertunangannya dengan Yoko (Matsu Takako), seorang wanita dari keluarga bangsawan Hashiba, yang memiliki lukisan “Tower of Babel” (tentu saja lukisan ini menjadi incaran K-20). Pada saat pesta pertunangan berlangsung, Endo Heikichi (Kaneshiro Takeshi) ditangkap dan dituduh sebagai K-20 yang mengincar lukisan “Tower of Babel”. Endo yang notabene seorang pemain akrobat sirkus, merasa dipermainkan dan dijebak oleh K-20 asli. Setelah berhasil meloloskan diri dengan dibantu oleh teman-temannya kelompok maling kelas teri, Endo bertekad mencari K-20 asli untuk membersihkan namanya dan membangun kembali kelompok sirkusnya yang telah dihancurkan oleh pemerintah melanjuti penangkapan Endo sebagai K-20. Pertemuan Endo dkk dengan pasangan Kogoro dan Yuko mengungkap ada suatu misteri dibalik lukisan incaran K-20. Selain itu juga timbul percikan konflik antara Endo yang mewakili kelompok masyarakat kelas bawah dengan golongan aristokrat dan bangsawan yang diwakili Kogoro dan Yoko. Dan pada akhirnya, benarkah Endo dijebak oleh K-20? Atau malahan Endo sendirilah K-20 itu? Silahkan menebak hingga film berakhir.

Awalnya aku menyangka film ini akan penuh dengan dialog-dialog yang membutuhkan konsentrasi tinggi layaknya film bergenre detektif misteri. Ternyata dugaanku salah, karena porsi petualangan mendapat jatah yang jauh lebih banyak dibandingkan cerita misterinya. Cukup banyak adegan aksi yang mewarnai film ini dengan bumbu komedi yang terselip diantaranya. Cerita misterinya sendiri lebih banyak berputar disekitar kemisteriusan tokoh maling K-20 dan barang incarannya. Ya, film ini lebih mirip dengan aksi petualangan Indiana Jones dibandingkan film-film adaptasi novel tokoh Sherlock Holmes maupun Hercule Poirot. Agak mengejutkan memang, apalagi mengingat sutradara Shimako Sato adalah seorang wanita (bukan isu gender lho, karena kebanyakan sutradara wanita cenderung menggarap drama atau komedi).

Sebenarnya konflik tentang pertentangan antara kelompok proletar dan borjuis cukup menarik untuk digali lebih mendalam sebagaimana V for Vendetta. Sayangnya sejak awal memang film ini ingin ditujukan sebagai film hiburan sehingga konflik antar kelas masyarakat tersebut tidak banyak muncul. Walaupun demikian adegan pergesekan antara gaya hidup bangsawan dan jelata cukup menarik karena ditampilkan dalam bentuk dialog humor antara tokoh Endo dan Yuko. Selain itu karakterisasi tokoh kurang mendalam, apalagi sosok Kogoro yang katanya detektif ternama namun tidak terlihat kemampuannya menganalisa kasus.

Kota Teito yang direfleksikan sebagai Tokyo tahun 1949 tanpa tersentuh perang dunia II ditampilkan dalam bentuk CGI yang lumayan bagus. Sedangkan kondisi Jepang pada tahun itu yang dipengaruhi Jerman disajikan dengan lumayan menarik. Lihat saja mobil polisi yang jaman sekarang ditulis dengan kata POLICE untuk mendampingi huruf kanji, dalam film ditulis dengan kata POLIZEI. Belum lagi gaya, seragam dan penampilan militer Jepang bak tentara Jerman pada jaman perang dunia II.

Boleh dikatakan film ini sangat menghibur, seru, tidak terlalu banyak mikir, dan penuh dengan aksi akrobatik ala sirkus. Mungkin bagi anda yang melihat poster dengan kostum mirip Zorro/Robin Hood dan menonton trailer menyangka kalau film ini mewakili genre superhero Amerika yang merebak melalui Superman, Spiderman dkk. Tapi bagiku film ini lebih bernuansa petualangan ala Indiana Jones dibandingkan superhero. Yang pasti durasi film yang berjalan dua jam ini cukup membuatku betah menonton hingga selesai. Sebagai hiburan akhir dipenghujung film, silahkan menikmati lagu The Shock of Lightning milik band asal Inggris Oasis yang menghiasi ending credit title.

Rating: 3.5/5

Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5

Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue :mrgreen: , anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

Swing Girls – Big Band para cewek SMU

Sutradara: Shinobu Yaguchi
Genre: Drama, komedi, musical
Produksi: Altamira Pictures, Japan (2004)
Pemain: Juri Ueno, Yuta Hiraoka, Shihori Kanjiya, Yuika Motokariya dan Naoto Takenaka.

Swing Girls ……. and a boy
(Takuo Nakamura, pemain piano, leader dan satu-satunya cowok dalam band)

Setelah pada postingan sebelumnya aku membahas film Linda Linda Linda yang bertemakan perjuangan 3 hari grup girl band yang beranggotakan 4 orang, kali ini aku membahas film Swing Girls yang bercerita tentang usaha anak-anak SMU dalam membentuk grup Big Band dari permulaan. Dibilang dari permulaan karena mereka sama sekali tak bisa memainkan alat musik tiup yang menjadi instrument utama Big Band. Kalau anda mengenal nama sutradara Shinobu Yaguchi yang dikenal lewat karya fenomenal Waterboys, tentu anda tak bakal kecewa dengan film garapannya kali ini. Yaguchi kembali mengangkat cerita perjuangan anak-anak SMU dalam menghadapi tantangan untuk melakukan hal yang berbeda. Kalau dalam Waterboys Yaguchi mengangkat cerita anak lelaki berlatih renang indah, kali ini Yaguchi menggunakan grup musik Big Band sebagai tujuan belajar hidup anak-anak SMU (seberapa banyak sih anak SMU tertarik main musik Jazz dalam grup Big Band?).

(warning, sinopsis dibawah mengandung spoiler)
Tomoko Suzuki (Juri Ueno) dan teman-teman sekelasnya merasa bosan dalam kelas matematika pak guru Ozawa (Naoto Takenaka). Supaya bisa membolos dari pelajaran matematika, Tomoko dkk membujuk pak Ozawa untuk mengijinkan mereka untuk mengantar makanan untuk grup brass band yang tertinggal. Karena keteledoran Tomoko dkk, seluruh anggota grup brass band sakit perut akibat makanan basi. Pemain simbal Takuo Nakamura (Yuta Hiraoka) yang mengurusi makanan dituntut bertanggung jawab untuk menyiapkan pemain brass band pengganti, karena tugas brass band selanjutnya adalah mendukung tim baseball sekolah dalam pertandingan yang akan diadakan dalam waktu dekat.

Merasa dikerjai, Takuo ganti meminta pertanggung jawaban Tomoko dkk dengan cara menyuruh mereka mengisi lowongan pemain brass band. Walaupun pada awalnya tak tertarik, tetapi demi bolos pelajaran pak Ozawa secara legal, Tomoko dkk menerima tawaran Takuo. Sayangnya jumlah mereka hanya 14, jumlah yang tak mencukupi untuk kelompok brass band yang membutuhkan 25-26 pemain, walaupun sudah ditambah 2 cewek pemain gitar dan bass grup punk yang barusan bubar. Takuo yang ternyata jago main piano ini mendapatkan ide untuk menutupi kekurangan jumlah pemain dengan cara membentuk kelompok Big Band yang memiliki jumlah pemain standarnya 17 orang. Lewat latihan intensif (walaupun pada awalnya para cewek kurang kerjaan ini cuma main-main), cewek-cewek yang tadinya tak bisa memainkan alat musik ini mulai dapat membawakan sebuah nomor jazz standard karya Duke Ellington, Take the “A” train, dengan “lumayan”. Sayangnya para pemain asli brass band yang tadinya sakit sudah sehat kembali dan meminta balik alat musik mereka.

Terlanjur cinta pada saxophone pinjamannya, Tomoko mulai mencari cara untuk membeli sebuah saxophone walaupun banyak anggota lainnya sudah menyerah. Temannya Yoshie (Shihori Kanjiya) yang mendapat tugas bermain trompet ikut terpengaruh dengan semangat Tomoko, begitu juga Sekiguchi (Yuika Motokariya) yang memang dari awal sangat bersemangat menguasai permainan trombone dan Naomi Tanaka (Yukari Toyoshima) yang mulai gandrung bermain drum. Ditambah Takuo pada piano dan duo cewek punk pada gitar dan bass, mereka mulai berlatih lagu-lagu standar Big Band lain seperti In The Mood karya Glenn Miller. Setelah menyadari kemampuan mereka tak menunjukkan peningkatan berarti tanpa pelatih yang tepat, mereka dikejutkan oleh sosok pak guru matematika Ozawa yang ternyata penggemar musik Jazz. Bagaimanakah perjuangan mereka selanjutnya dan apakah jumlah mereka kembali lengkap 17 orang untuk membawakan Big Band secara lengkap?

Terus terang saja skenario film ini masih menunjukkan beberapa bolong disana sini dengan peristiwa kebetulan demi menyederhanakan dan memendekkan cerita, tapi aku sendiri masih bisa memaklumi jika menonton secara keseluruhan. Nilai yang ingin disampaikan tentang “dimana ada kemauan, disitu ada jalan” cukup berhasil dibawakan oleh Yaguchi tanpa terkesan menggurui. Adegan komedi khas Yaguchi terselip disana sini semakin menyegarkan suasana yang telah dibangun lewat lagu-lagu Big Band lawas yang cukup dikenal oleh para penggemar musik. Sayangnya, karena terlalu banyak kasting pemerannya sehingga fokus tokoh utamanya agak bergeser dan kurang digali. Jadilah latar belakang tokoh dan permasalahan disekelilingnya tertutupi dengan usaha dan semangat para anak SMU ini untuk meraih tujuan mereka bermain musik dalam sebuah grup Big Band. Biarpun demikian, secara keseluruhan Swing Girls masih lebih baik dibandingkan Linda Linda Linda yang menurutku terlalu datar dan sederhana dari segi plot cerita.

Akting para pemain muda Juri Ueno dan Yuta Hiraoka cukup gemilang sehingga mereka diganjar New comer of the Year dalam Japanese Academy Award 2004 selain 5 penghargaan lainnya. Yang cukup mengejutkan, sebagian besar cewek yang berperan sebagai anggota grup Big Band ternyata sebelum main film ini juga memang tak bisa memainkan alat musik. Mereka dilatih bermain saxophone, trumpet, trombone dan drum selama 3 bulan untuk persiapan film dan jadinya mereka benar-benar memainkan seluruh lagu dalam film tanpa pemusik pengganti. Malah khusus untuk Kanjiya dan Motokariya yang baru bergabung satu setengah bulan sebelum syuting perdana (karena harus menyelesaikan kontrak film lain) hanya punya waktu satu setengah bulan untuk menguasai trumpet dan trombone. Sebagai pembuktian dan ajang promosi film, seluruh anggota grup Big Band Swing Girls mengadakan sebuah live concert dan mengeluarkan single dari lagu-lagu yang mereka mainkan dalam film (lihat saja kemampuan mereka dalam klip live concert dibawah).

Tambahan
Jika ingin melihat perjuangan mereka berlatih 3 bulan sampai nangis-nangis sebelum syuting, bisa dilihat di link youtube sini. Sedangkan cuplikan perjuangan Kanjiya dan Motokariya selama 1.5 bulan mengejar ketinggalan bisa dilihat disini. Yang paling lelet bergabung adalah Hiraoka yang juga belum bisa bermain piano dan Toyoshima yang baru pertama kalinya bermain drum. Hiraoka yang satu-satunya cowok bergabung dengan kumpulan 16 cewek lain serta Toyoshima hanya punya waktu latihan 1 bulan, cuplikan latihan 1 bulan mereka berdua bisa dilihat disini.
Hasil latihan mereka bisa dilihat dari video konser mereka di balasan komentar di bawah. O iya, mereka juga sempat mengisi acara Summer Jazz Festival di Nango (2004/8/30) walaupun mereka cuma Big Band amatiran.

Bagi penggemar musik terutama Jazz, rugi kalau belum nonton film ini.
I Love Big Band!!!!

Rating: 3.5/5

Trailer Swing Girls

In the mood oleh Swing Girls dalam live concert

Linda Linda Linda – 3 hari girl band dadakan

Sutradara: Nobuhiro Yamashita
Genre: Drama, musikal, remaja
Produksi: Covers & Co Japan (2005)
Pemain: Bae Do-na, Yuu Kashii, Aki Maeda, Shiori Sekine

lindaposterKetika menonton film ini, tanpa sadar aku teringat pada film-film produksi dalam negeri yang suka mengambil tema yang tak jauh dari cerita hantu dan komedi seks. Kalaupun ada yang mengambil tema diluar “pakem” favorit, tema film yang diambil justru terlalu berat untuk ditonton oleh orang-orang muda maupun kalangan remaja. Hasilnya para remaja Indonesia mengalihkan perhatian mereka pada film-film produksi Hollywood seperti Twilight. Film Linda Linda Linda ini seharusnya bisa menjadi contoh bagaimana membuat film remaja dengan cerita ringan tapi cukup menarik untuk disaksikan.

Sebuah girl band (grup band yang seluruh anggotanya cewek) SMU terancam bubar 3 hari sebelum pertunjukan terakhir mereka diajang festival budaya di sekolah mereka. Pemain gitar yang tangannya cidera dan vokalis yang bertengkar dengan pemain keyboard menjadi penyebabnya. Setelah sang vokalis keluar, pemain keyboard Kei (Yuu Kashii) yang menjadi band leader sementara memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana mereka untuk manggung. Pemain bass Nozomi (Shiori Sekine) dan drummer Kyoko (Aki Maeda) mendukung keputusan Kei, walaupun dalam waktu tiga hari mereka harus mencari pemain gitar dan vokalis baru sekaligus berlatih untuk persiapan pertunjukan. Akhirnya diputuskan Kei pindah peranan menjadi pemain gitar sehingga tinggal posisi vokalis yang masih lowong. Ketika mereka bertiga sedang berembug tentang penentuan vokalis, dengan enaknya Kei bilang siapapun cewek pertama yang lewat depan gerbang sekolah yang mulai sepi akan diminta untuk menjadi vokalis anyar band mereka. Dengan mengesampingkan mantan vokalis sebelumnya yang lewat, muncul pelajar asing dari Korea Selatan yang bernama Son (Bae Doo-na). Seketika itu juga mereka bertiga mengajak dan membujuk Son untuk bergabung dengan girl band mereka.

Setelah Son setuju bergabung, kwartet ini mulai memilih lagu dan berlatih memainkannya. Karena hanya memiliki waktu 3 hari saja, mereka memilih untuk membawakan lagu cover version band Punk Rock terkenal The Blue Hearts yang diantaranya berjudul Linda Linda daripada menciptakan lagu original sendiri. Masalah dimulai dari Kei si pemain keyboard yang tidak biasa memainkan gitar. Tetapi yang lebih parahnya lagi adalah masalah Son yang tidak bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Waktu pendek selama tiga hari membuat mereka berempat berjuang keras supaya penampilan terakhir di festival budaya sekolah tidak menjadi ajang yang memalukan. Akibatnya mereka begadang semalaman dan kurang tidur. Bagaimanakah hasil akhir dari usaha mereka?

lindalindalinda

Kalau membaca sinopsis singkat diatas, film ini kelihatan sekali mengambil tema dan alur yang sangat sederhana. Tetapi sederhana bukanlah berati tidak menarik. Memang ada film Indonesia seperti Bukan Bintang Biasa yang mengambil tema remaja yang bergelut dengan seni, hanya saja cerita dan alur yang diambil terlalu mengawang-awang. Ada pula film Hollywood yang mengambil tema drama remaja pemusik, namun lagi-lagi dengan cerita yang kurang membumi. Lihatlah film ini, para remaja tokoh utama film ini tidak berniat nge-band untuk tampil dipanggung sebesar Tokyo Budokan yang hanya ada didalam mimpi mereka. Mereka hanya ingin tampil di ajang festival budaya sekolah yang levelnya hanya untuk menghibur teman-teman satu sekolah. Kisah cinta dalam film ini hanyalah bumbu pemanis belaka karena hampir tak terlalu mempengaruhi plot cerita yang lebih berfokus pada hubungan antara anggota band. Mungkin hanya cerita hubungan malu-malu mau antara Kyoko dengan cowok taksirannya Kazuya yang agak mendominasi cabang plot romantisasi anggota band.

Awalnya film ini berjalan agak lamban, tapi seiring dengan masuknya tokoh siswi Korea yang pemalu menjadi vokalis membuat film berangsur menjadi lebih menarik. Tokoh Son yang tidak lancar berbahasa Jepang berusaha untuk tidak mengecewakan teman-temannya dengan cara berlatih menyanyi lagu Jepang sendiri di karaoke. Lucu juga adegan Son dengan bahasa Jepangnya yang pas-pasan mendebat pegawai karaoke untuk mendapatkan sewa karaoke box yang lebih murah. Belum lagi usaha mati-matian Son menyanyi lagu Jepang di karaoke hingga akhirnya dengan setengah putus asa banting setir nyanyi lagu Korea :lol:

Permainan aktris Korea Bae Doo-na sebagai Son memang menjadi daya tarik utama film ini karena keunikan karakter si pelajar asing. Tanpa tokoh Son dan gaya kikuk Bae Doo-na dalam membawakannya, mungkin Linda Linda Linda hanya akan menjadi film remaja yang biasa-biasa saja. Shiori Sekine dan Aki Maeda yang membawakan peran pemain bass dan drummer memang aslinya adalah pemusik, sehingga mereka tidak canggung bermain alat-alat musik dalam film ini. Berbeda dengan Yuu Kashii atau Yuu Odagiri (setelah menikah dengan pemeran Kamen Rider Kuuga, Joe Odagiri) yang aslinya aktris dan model. Paling tidak, penampilan cewek-cewek cute ini membuat susana lebih meriah. Yang agak mengejutkan, mungkin penampilan cameo Kenichi Matsuyama (L dalam Death Note) yang berperan sebagai Maki, cowok yang naksir Son dan “nembak” si siswi Korea pake bahasa Korea :mrgreen:

Judul film ini diambil dari judul lagu band Punk Rock populer Jepang The Blue Hearts, yang terkenal pada akhir 1980-an. Ada 3 lagu milik The Blue Hearts yang dinyanyikan oleh grup tokoh utama dalam film yaitu, Linda Linda, Boku no Migi Te dan Owaranai Uta. Tokoh Son si pelajar Korea yang memberi nama grup mereka berdasarkan nama The Blue Hearts, yaitu Paran Maum (The Blue Heart dalam bahasa Korea). Paran Maum sendiri merilis CD single mereka menyertai album OST Linda Linda Linda yang digarap oleh gitaris The Smashing Pumpkins, James Iha. Bagi penggemar film drama musikal, Linda Linda Linda bisa menjadi pilihan menarik untuk melewatkan waktu.

Rating: 3/5

Trailer

Paran Maum mini concert – Linda Linda and Owaranai Uta

Bokuchu: Perang jahil anak SMU vs Polisi Kampung

Judul: Bokutachi to Chuuzaisan no 700 nichi sensou (ぼくたちと駐在さんの700日戦争)
Arti: 700 hari pertempuran antara kami dan sang polisi
Sutradara: Tsukamoto Renpei
Produksi: Gaga Film ( 2008 )
Pemain: Ichihara Hayato, Sasaki Kuranosuke, Asou Kumiko
bokuchu1

Kebetulan sekali aku belum lama habis menonton film ini ketika seorang pengunjung blog datang dan bertanya bahasan tentang film yang diadaptasi dari novel ini. Awalnya, novel yang judul panjangnya disingkat menjadi Bokuchu (dari kata Boku dan Chu) ini adalah sebuah essay yang dimuat didalam sebuah blog tahun 2006 yang diakui oleh penulisnya Kurowa sebagai cerita semi-fiksi pengalaman pribadinya. Essay ini menarik pehatian banyak orang hingga dalam waktu satu tahun sanggup menarik pengunjung dan pembaca tetap hingga 5 juta orang. Pada bulan Maret tahun 2009, bab terakhir menceritakan tokoh utama dan teman-temannya lulus SMU. Cerita bersambung ini akhirnya dibuat dalam bentuk novel hingga diadaptasi menjadi film. Jika cerita aslinya mengambil setting lokasi kampung kecil ditepi kota Nagai, propinsi Yamagata, film adaptasinya memindahkan setting cerita ke sebuah kampung di Karasuyama, propinsi Tochigi.

Cerita bersetting pada tahun 1979 dengan narrator cerita yang menyebut dirinya dengan kata Boku (artinya:aku) tanpa mengungkapkan nama tokoh, hanya nama panggilannya saja yang lebih ngetop dan menjadi trademark dirinya sepanjang cerita, yaitu Mamachari (sepeda emak-emak) karena dia sering bepergian mengendarai sepeda keranjang milik ibunya. Mamachari dan teman-teman satu gengnya dikenal sebagai anak SMU tukang rusuh nomor satu dikampungnya dan tak ada yang bisa lolos dari ulah jahil mereka. Hingga kedatangan seorang polisi yang baru pindah ke kampung mereka dan sang polisi menilang seorang anggota kelompok jahil mereka karena mengendarai motor skuter dengan kecepatan melebihi batas. Tindakan polisi baru ini tentu dianggap kelompok jahil Mamachari sebagai tindakan cari gara-gara, sehingga mereka berencana untuk membalasnya.

Dalam aksinya membalas dengan cara menjahili sang polisi (dipanggil Chuuzaisan), justru Chuuzai balik mengerjai mereka. Sejak itu Mamachari dan kelompoknya merasa ditantang dan mendeklarasikan perang jahil-jahilan terhadap Chuuzai tanpa menyadari kalau Chuuzai adalah lawan berat yang punya ide jahil tak kalah canggih dibandingkan ide jahil Mamachari dan kawan-kawan. Mulailah perang urat saraf hingga perang urat malu antara sang polisi kampung dengan geng Mamachari disepanjang cerita.

Sebenarnya film ini tidak terlalu istimewa amat, malah mirip dengan dorama (sinetron Jepang) dengan cerita yang datar begitu-begitu saja. Ditambah lagi tiap cerita dibuat terpisah-pisah dan terpotong satu sama lain seperti tiap bab novel yang ceritanya diadaptasi oleh film ini. Akting pemainnya juga tidak terlampau istimewa, hanya akting Sasaki Kuranosuke sebagai Chuuzai dan Ichihara Hayato sebagai Mamachari yang lumayan. Tapi yang membuat film ini istimewa adalah adegan komedinya yang benar-benar bisa membuat penonton ngakak sampai sakit perut. Belum lagi ide-ide kreatif saling berbalas jahil antara kedua belah pihak yang walaupun bisa ditebak, tapi tetap saja mampu membuat tertawa terpingkal-pingkal. Sayangnya ketika film mendekati akhir, tiba-tiba saja suasana film mendadak berubah dari komedi menjadi drama mendayu-dayu yang bagiku justru mengganggu suasana lucu yang sudah dirancang dari awal dengan baik. Walaupun demikian, film ini tetap lumayan menarik untuk ditonton oleh anda yang suka komedi slaptik model Warkop Dono Kasino Indro jaman baheula.

Nb.
1. Chuuzai berarti ditempatkan dan Chuuzai-san berarti orang yang ditempatkan. Dalam konteks cerita ini, sang polisi kampung ditempatkan di pos polisi dan menetap disana sebagai rumahnya, dimana tingkat bawah (lantai satu) adalah pos polisi dan tingkat atas difungsikan sebagai tempat tinggal sang polisi bersama keluarganya. Jika sang polisi menetap ditempat lain, dia bukanlah Chuuzai-san melainkan polisi biasa.
2. Kebetulan sekali tokoh Mamachari dalam film ini punya gaya jalan, ketawa hingga tingkah lakunya mirip dengan teman Jepang yang bernama Hara. Bikin aku ketawa lebih ngakak lagi tuh.
3. Kalau anda mengerti bahasa dan tingkah laku kehidupan orang Jepang sehari-hari, kelucuan film ini akan bertambah dengan sendirinya berdasarkan pemahaman anda.

Rating: 2.75/5

Next Page »