Archive for the 'Resensi Film Amerika' Category



Julie & Julia: Film 2 in 1

Akhirnya penulis sekaligus sutradara Nora Ephron bikin film lagi setelah terakhir kalinya mengarahkan Nicole Kidman sebagai penyihir pada tahun 2005. Bagi penggemar film-film bertema feminis, tentu anda merasa akrab dengan nama Ephron yang telah menelurkan karya-karya penuh kenangan seperti Slepless in Seattle dan tentu saja karya fenomenalnya sebagai penulis, When Harry met Sally… Kali ini Ephron kembali ke kursi sutradara merangkap penulis skenario dan produser, mengarahkan aktris senior Meryl Streep dan juniornya Amy Adams dalam satu film dengan setting 2 masa (tahun 1950-an dan 2002) serta 2 lokasi (Perancis dan Amerika).
Continue reading ‘Julie & Julia: Film 2 in 1′

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’

Resensi pendek dan singkat

Selama 2 minggu nonton film dari yang ringan hingga yang agak berat, tapi males banget bikin review. Sepertinya virus kemalasan sedang menyerang para blogger akhir-akhir ini. OK, kali ini cuma review singkat saja dari hasil nonton dua minggu.

1. Tracing Shadow

Genre: Kungfu, Comedy
Sebetulnya film produksi Hongkong ini tidak terlalu istimewa menurutku, hanya saja kemunculan 3 pelawak dengan tampang mirip trio superstar Hongkong Jackie Chan, Jet Li dan Andy Lau plus gerombolan penyaru penyanyi Hip Hop asal Taiwan Jay Chou cukup memeriahkan film kungfu komedi yang dibalut petualangan mencari harta karun ini. Sayangnya hanya sekedar meriah, dalam artian tanpa berisi. Kehadiran anak kandung Jackie Chan yang bernama Jaycee ternyata tak terlalu menolong film ini untuk jadi lebih baik. Tapi untuk sekedar hiburan sih lumayan lah.

Mau lihat tampang plagiator sang superstar mirip apa tidak? silahkan lihat disini:
Trailer Tracing Shadow

Rating: 2.5/5

2. 20th Century Boys, 2nd Chapter

Genre: Adventure, Mystery
Sekali lagi aku kecewa dengan film Jepang dengan budget besar adaptasi dari salah satu manga favoritku ini. Setelah plot cerita yang lumayan dengan gaya flash back pada chapter pertama, bagian kedua ini justru berjalan datar begitu saja mirip dorama tanggung. Ada dua hal hal yang menarik perhatianku yaitu, pertama keberadaan si cakep imut Airi Taira yang berperan sebagai Kanna. Yang kedua adalah kemunculan Kenji kembali diakhir film sambil mengendarai motor, plus menggendong gitarnya. Bagi pengemar versi manga-nya mungkin film ini cukup mengesankan. Tapi bagi penggemar film, adaptasi kali ini menurutku mengecewakan.

Rating: 2.5/5

3. Mother (Judul Korea: Madeo)

Genre: Drama, Mystery, Detective
Film ini mengalahkan Thirst, film pastor yang berubah jadi vampir karya sutradara langganan festival Park Chan-wook dalam ajang pengiriman film wakil Korea Selatan ke ajang Academy Award. Tapi sutradara Mother sendiri bukan orang sembarangan. Nama Bong Joon-ho yang dikenal sebagai pembuat film adaptasi dari kisah nyata Memories of Murder yang juga banyak mendapatkan apresiasi positif kritikus dari berbagai ajang festival internasional.

Seperti juga Memories of Murder, Joon-ho sekali lagi menampilkan sinematografi yang menakjubkan dalam film Mother ini. Kisah seorang ibu biasa yang menjadi detektif amatir dadakan demi membuktikan ketidak bersalahan anak kesayangannya yang berpenyakit mental dalam kasus pembunuhan seorang anak sekolah. Kim Hye-ja berperan sebagai ibu yang akan berbuat apa saja demi anaknya, berakting bagus dan menyentuh perasaan. O iya, film ini adalah come back Won Bin setelah sekian lama absen dari dunia layar lebar. Aktingnya sebagai terdakwa pembunuh, seorang pria dewasa tapi berpikiran seperti anak kecil cukup meyakinkan. Berbeda dengan genre film “drama sedih” asal Korea seperti biasanya, sedih dalam film ini justru penuh dengan ironi kasih sayang ibu.

Rating: 3.75/5

4. The Taking of Pelham 123

Genre: Action, Thriller
Sebenarnya film bertema pembajakan kereta listrik ini lumayan bisa memberikan premis positif. Sayang, hanya sekedar premis tidak diikuti dengan kenyataannya. Akting Denzel Washington dan John Travolta tidak terlalu istimewa, walaupun tidak bisa dianggap jelek. Standar akting para aktor kelas atas lah. Lumayan tegang sih, tapi masih jauh untuk mendapatkan pujian sebagai film thriller terbaik. Hal yang paling menarik justru bukan pada cara pembajakannya, melainkan hubungan antara pasar saham dan ide membajak geng John Travolta.

Rating: 3/5

5. Overheard

Genre: Drama, Thriller
Film yang mengisahkan regu khusus para tukang sadap anggota kepolisian Hongkong ini lumayan menarik menurutku, apalagi dengan menampilkan rutinitas hidup para anggota regu yang kerjanya hanya menunggu, menunggu dan menunggu sang tersangka kasus trading saham ilegal kelepasan ngomong untuk dijadikan bukti di pengadilan. Sayangnya ketegangan diawal film ketika mereka memasang penyadap cuma begitu saja. Sisanya hanya menceritakan drama kehidupan anggota regu tanpa unsur suspense yang kuat, walaupun eksekusi diakhir film agak diluar dugaanku.

Rating: 3/5

6. Zombieland

Genre: Horror, Comedy, Road Movie
Campuran film zombie dan road movie ini sangat sukses meraih dollar dalam daftar box office movie. Ramuan komedi yang pas dalam perjalanan 4 survivor serangan zombie ini enak ditonton sebagai hiburan. 4 karakter berbeda dengan chemistry unik, dengan sukses ditampilkan untuk menghadapi para zombie. Tiap karakter diberikan nama berdasarkan daerah asal mereka yaitu Tallahassee, Colombus, Wichita dan Little Rock. Karakter Tallahassee yang dimainkan oleh Woody Harrelsson cukup menarik, terutama hobinya yang lebih suka membantai zombie dengan “penuh gaya” dari pada langsung tembak hingga menghadirkan Zombie Kill of the Week sebagai hiburan. O iya, komedian Bill Murray muncul sebentar sebagai dirinya sendiri yang selamat dari serangan zombie. Percayalah, Bill Murray masih mampu memancing tawa dari penampilannya yang cuma secuil itu. Tapi film ini tetap saja hanya sebuah film hiburan yang setelah ditonton dengan gampang dilupakan.

Rating: 3.25/5

17 Again – Terperangkap tubuh remaja

Sutradara: Burr Steers
Pemain: Zack Efron, Leslie Mann, Matthew Perry, Thomas Lennon.
Genre: Drama komedi remaja
Tahun: 2009

Sewaktu nonton diawal film, aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak karena kupikir, “toh film ini cuma seperti kebanyakan film remaja Amrik lainnya”. Ternyata film ini melewati ekspektasiku karena cukup banyak nilai lebih dari 17 again yang ditawarkan, sehingga akupun ikut merekomendasikan film ini buat ditonton para remaja abg. O iya, kalau ngomong soal orang dewasa terperangkap dalam tubuh orang yang berusia lebih muda, koq aku jadi ingat dengan serial anime Detective Conan yah.

Film diawali dengan kisah pemuda 17 tahun bernama Mike O’Donnell tahun 1989 yang memutuskan menikahi pacarnya Scarlett yang hamil diluar nikah serta meninggalkan impiannya masuk universitas dengan beasiswa sebagai pemain basket yang sudah berada didepan matanya. Hidup tak selamanya berjalan mulus, demikian juga dengan kisah romantis Mike-Scarlett. 20 tahun kemudian Mike dewasa (Matthew Perry) gagal mendapatkan promosi kerja, dipandang remeh oleh anak-anaknya, dan akhirnya menghadapi tuntutan cerai dari Scarlett. Sambil menunggu keputusan pengadilan, Mike terpaksa keluar dari rumah keluarga mereka dan menumpang hidup di rumah teman karibnya sejak SMU Ned, bujangan kaya raya yang terobsesi dengan segala macam media fantasi seperti The Lord of the Ring hingga Star Wars. Ketika mengunjungi SMU tempat anak-anaknya bersekolah (sekaligus SMU tempatnya lulus), Mike bertemu dengan petugas kebersihan sekolah yang aneh dan tanpa sengaja berkeluh kesah termasuk menyesali keputusannya pada masa lalu. Secara misterius Mike bertransformasi kembali menjadi dirinya saat berusia 17 tahun. Sayangnya keinginannya kurang komplit, karena hanya dirinya yang kembali muda, tidak demikian dengan lingkungan sekitarnya. Hanya Ned yang percaya dengan kondisi kembali mudanya Mike. Dari sini film mulai berangsur menarik melalui interaksi Mike dengan anak-anaknya yang berusia sebaya, bingungnya Mike menghadapi Scarlett yang notabene ibu “temannya”, bahkan Ned yang menyamar sebagai ayahnya Mike malah memanfaatkan kondisinya untuk mengejar cewek idamannya yang tak lain adalah kepala sekolah SMU tempat Mike “bersekolah” kembali. Campuran komedi dan drama permasalahan remaja sederhana ini cukup pas racikannya berkat skenario yang ditulis Jason Filardi dan Keenan Donahue. Sayangnya sutradara Burr Steers kurang maksimal memberdayakannya tak seperti karyanya di tahun 2002 Igby Goes Down, yang jauh lebih menarik penggarapannya.

Sebenarnya tema tentang anak kecil yang terperangkap didalam tubuh dewasa telah berulang kali dibuat oleh Hollywood, termasuk beberapa film dengan bintang ternama seperti Tom Hanks dalam Big, Robin Williams dalam Jack dan Jumanji. Kali ini yang terjadi sebaliknya, dimana Mike dewasa terperangkap dalam tubuh remaja 17 tahun (jadi ingat bertukar perannya Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan dalam Freaky Friday). Mungkin hal ini lebih gampang dijalani dari pada orang dewasa dalam tubuh anak-anak seperti Detective Conan misalnya. Yang terpikir oleh kita mungkin betapa menyenangkan menjadi muda kembali dan bisa bebas bermain-main tanpa memikirkan tanggung jawab sebagai orang dewasa dengan segala tetek bengek permasalahannya. Benarkah begitu?

Terlepas dari ending klise dan beberapa adegan lebay, menurutku disinilah letak menariknya film ini dan menyebabkan 17 again berbeda dengan film-film komedi remaja Amerika yang bertebaran di layar bioskop tanpa ada hal yang bisa dipetik. Bisa dilihat lewat adegan guru membagikan kondom untuk para murid di kelas (sebagai bentuk pencegahan hamil di luar nikah, sekaligus tindakan mengijinkan free sex bagaikan pedang bermata dua). Pada saat yang bersamaan, tokoh Mike justru bertingkah bagaikan orang tua yang menasehati anak-anak disekitarnya. Hanya saja karena yang “berbicara” adalah anak SMU, murid-murid lain mau mendengarkannya. Coba Mike “dewasa” yang memberi nasehat, kemungkinan besar seluruh murid bakalan menguap kebosanan sambil merutuk betapa kolotnya si “orang dewasa”. Mungkinkah ini suatu bentuk anak muda yang menganggap orang tua kolot? Memang seseorang tak akan bisa merasakan betapa sulitnya menjadi orang dewasa dan menjadi orang tua sampai akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri.

Dari seluruh kasting dalam film, terus terang saja aku merasa janggal dengan si Chandler Bing yang memerankan Mike dewasa. Zack Efron bermain lumayan baik dan aku yakin, keberadaannya dalam film cukup membuat cewek-cewek penonton bakalan nggak mau diajak naik ranjang oleh pacarnya. Pasangan yang patut di karuniai jempol ganda adalah Thomas Lennon dan Melora Hardin yang kebagian peran si teman karib Ned dan kepala sekolah. Terbayang adegan nge-date mereka mengobrol mesra dengan “bahasa Elf”, antara pengen ngakak dan balik pengen baca lagi trilogi The Lord of The Ring. Hehehehe……..

Rating: 3.25/5

Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue :mrgreen:, anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

Crossing Over – Terlalu banyak maunya

Produksi: The Weinstein Company (2009)
Sutradara: Wayne Kramer
Pemain: Harison Ford, Ashley Judd, Ray Liotta, Summer Bishil

crossing-over-posterMasalah keimigrasian selalu saja menghiasi permasalahan sosial di setiap negara, terlebih lagi di negara maju seperti USA. Kebanyakan dari para imigran dari luar negeri datang ke negara maju dengan motif untuk memperbaiki kondisi perekonomian dirinya dan keluarga. Apalagi negara seperti USA yang menawarkan iming-iming semu American Dream membuat banyak orang tertarik untuk mengadu nasib di sana baik secara legal maupun illegal. Hal lainnya mungkin disebabkan oleh motif politik ataupun alasan mengejar karir. Aku merasa film ini memiliki kemiripan kerangka dengan Crash dengan tendensi dan cara bercerita yang lebih sederhana dibandingkan film terbaik OSCAR 2005 tersebut.

Karena film ini menampilkan banyak karakter dengan permasalahan imigran yang berbeda-beda, dapat diasumsikan tak ada pemeran utama yang betul-betul menjadi sentral cerita. Setiap tokoh dalam kondisi dan batasan tertentu saling berhubungan satu sama lain, baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan nasib karakter. Beberapa bagian cerita cukup menarik dan menyentuh perasaan ditambah dengan berbagai konflik sosial kemasyarakatan seperti masalah terorisme, pemalsuan dokumen hingga urusan gangster.

Masalahnya, film ini memuat terlalu banyak hal untuk diceritakan sehingga apa yang ingin disampaikan seakan-akan mentah begitu saja. Contohnya saja bagian cerita yang paling kusukai yaitu tentang Talisma Jahangir, seorang remaja muslim 15 tahun yang berurusan dengan FBI dan dituduh sebagai calon suicide bomber hanya karena menulis makalah tugas sekolah dengan tema memahami maksud dan pemikiran pembajak pesawat insiden 11 September 2003. Cerita Talisma dibikin kontras dengan kisah keluarga Baraheri, imigran politik kaya raya dari Iran yang merasa dirinya sebagai muslim yang baik dan mendapatkan kewarganegaraan USA lewat proses naturalisasi. Belum lagi cerita digali lebih mendalam tiba-tiba perhatian penonton teralih dengan kisah aktris Australia yang mengejar karir Hollywood tapi terhadang visa ijin tinggal, cerita petugas imigrasi menolong anak imigran meksiko, persoalaan pengacara pembela imigran yang ingin mengadopsi anak afrika, hingga urusan Yahudi atheis berkewarganegaraan Inggris yang ingin mendapatkan visa ijin tinggal sebagai pengajar di sekolah Yahudi di USA lewat turunan darah Yahudinya.

Walaupun demikian, film ini menawarkan konflik-konflik yang menarik untuk disimak sekalipun dengan tumpang tindihnya cerita. Anda bisa memikirkan permasalahan yang ditawarkan dalam film ini lebih lanjut setelah menonton tanpa perlu memikirkan ending film. Toh hasil akhir yang didapat oleh para imigran hanya ada tiga koq, dapat ijin tinggal secara legal, gagal dan dideportasi, atau malah nekad tinggal terus tanpa ijin dengan segala resikonya. Mengenai akting para pendukungnya, aktor senior seperti Harison Ford tampil cukup meyakinkan sebagai petugas polisi bagian imigran gelap. Namun yang benar-benar patut mendapat pujian khusus adalah aktris muda turunan India, Summer Bishil yang membawakan peran Talisma sang anak imigran Bangladesh.

Rating: 3.25/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 358 other followers

%d bloggers like this: