Archive for the 'Resensi Film Amerika' Category



17 Again – Terperangkap tubuh remaja

Sutradara: Burr Steers
Pemain: Zack Efron, Leslie Mann, Matthew Perry, Thomas Lennon.
Genre: Drama komedi remaja
Tahun: 2009

Sewaktu nonton diawal film, aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak karena kupikir, “toh film ini cuma seperti kebanyakan film remaja Amrik lainnya”. Ternyata film ini melewati ekspektasiku karena cukup banyak nilai lebih dari 17 again yang ditawarkan, sehingga akupun ikut merekomendasikan film ini buat ditonton para remaja abg. O iya, kalau ngomong soal orang dewasa terperangkap dalam tubuh orang yang berusia lebih muda, koq aku jadi ingat dengan serial anime Detective Conan yah.

Film diawali dengan kisah pemuda 17 tahun bernama Mike O’Donnell tahun 1989 yang memutuskan menikahi pacarnya Scarlett yang hamil diluar nikah serta meninggalkan impiannya masuk universitas dengan beasiswa sebagai pemain basket yang sudah berada didepan matanya. Hidup tak selamanya berjalan mulus, demikian juga dengan kisah romantis Mike-Scarlett. 20 tahun kemudian Mike dewasa (Matthew Perry) gagal mendapatkan promosi kerja, dipandang remeh oleh anak-anaknya, dan akhirnya menghadapi tuntutan cerai dari Scarlett. Sambil menunggu keputusan pengadilan, Mike terpaksa keluar dari rumah keluarga mereka dan menumpang hidup di rumah teman karibnya sejak SMU Ned, bujangan kaya raya yang terobsesi dengan segala macam media fantasi seperti The Lord of the Ring hingga Star Wars. Ketika mengunjungi SMU tempat anak-anaknya bersekolah (sekaligus SMU tempatnya lulus), Mike bertemu dengan petugas kebersihan sekolah yang aneh dan tanpa sengaja berkeluh kesah termasuk menyesali keputusannya pada masa lalu. Secara misterius Mike bertransformasi kembali menjadi dirinya saat berusia 17 tahun. Sayangnya keinginannya kurang komplit, karena hanya dirinya yang kembali muda, tidak demikian dengan lingkungan sekitarnya. Hanya Ned yang percaya dengan kondisi kembali mudanya Mike. Dari sini film mulai berangsur menarik melalui interaksi Mike dengan anak-anaknya yang berusia sebaya, bingungnya Mike menghadapi Scarlett yang notabene ibu “temannya”, bahkan Ned yang menyamar sebagai ayahnya Mike malah memanfaatkan kondisinya untuk mengejar cewek idamannya yang tak lain adalah kepala sekolah SMU tempat Mike “bersekolah” kembali. Campuran komedi dan drama permasalahan remaja sederhana ini cukup pas racikannya berkat skenario yang ditulis Jason Filardi dan Keenan Donahue. Sayangnya sutradara Burr Steers kurang maksimal memberdayakannya tak seperti karyanya di tahun 2002 Igby Goes Down, yang jauh lebih menarik penggarapannya.

Sebenarnya tema tentang anak kecil yang terperangkap didalam tubuh dewasa telah berulang kali dibuat oleh Hollywood, termasuk beberapa film dengan bintang ternama seperti Tom Hanks dalam Big, Robin Williams dalam Jack dan Jumanji. Kali ini yang terjadi sebaliknya, dimana Mike dewasa terperangkap dalam tubuh remaja 17 tahun (jadi ingat bertukar perannya Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan dalam Freaky Friday). Mungkin hal ini lebih gampang dijalani dari pada orang dewasa dalam tubuh anak-anak seperti Detective Conan misalnya. Yang terpikir oleh kita mungkin betapa menyenangkan menjadi muda kembali dan bisa bebas bermain-main tanpa memikirkan tanggung jawab sebagai orang dewasa dengan segala tetek bengek permasalahannya. Benarkah begitu?

Terlepas dari ending klise dan beberapa adegan lebay, menurutku disinilah letak menariknya film ini dan menyebabkan 17 again berbeda dengan film-film komedi remaja Amerika yang bertebaran di layar bioskop tanpa ada hal yang bisa dipetik. Bisa dilihat lewat adegan guru membagikan kondom untuk para murid di kelas (sebagai bentuk pencegahan hamil di luar nikah, sekaligus tindakan mengijinkan free sex bagaikan pedang bermata dua). Pada saat yang bersamaan, tokoh Mike justru bertingkah bagaikan orang tua yang menasehati anak-anak disekitarnya. Hanya saja karena yang “berbicara” adalah anak SMU, murid-murid lain mau mendengarkannya. Coba Mike “dewasa” yang memberi nasehat, kemungkinan besar seluruh murid bakalan menguap kebosanan sambil merutuk betapa kolotnya si “orang dewasa”. Mungkinkah ini suatu bentuk anak muda yang menganggap orang tua kolot? Memang seseorang tak akan bisa merasakan betapa sulitnya menjadi orang dewasa dan menjadi orang tua sampai akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri.

Dari seluruh kasting dalam film, terus terang saja aku merasa janggal dengan si Chandler Bing yang memerankan Mike dewasa. Zack Efron bermain lumayan baik dan aku yakin, keberadaannya dalam film cukup membuat cewek-cewek penonton bakalan nggak mau diajak naik ranjang oleh pacarnya. Pasangan yang patut di karuniai jempol ganda adalah Thomas Lennon dan Melora Hardin yang kebagian peran si teman karib Ned dan kepala sekolah. Terbayang adegan nge-date mereka mengobrol mesra dengan “bahasa Elf”, antara pengen ngakak dan balik pengen baca lagi trilogi The Lord of The Ring. Hehehehe……..

Rating: 3.25/5

Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue :mrgreen:, anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

Crossing Over – Terlalu banyak maunya

Produksi: The Weinstein Company (2009)
Sutradara: Wayne Kramer
Pemain: Harison Ford, Ashley Judd, Ray Liotta, Summer Bishil

crossing-over-posterMasalah keimigrasian selalu saja menghiasi permasalahan sosial di setiap negara, terlebih lagi di negara maju seperti USA. Kebanyakan dari para imigran dari luar negeri datang ke negara maju dengan motif untuk memperbaiki kondisi perekonomian dirinya dan keluarga. Apalagi negara seperti USA yang menawarkan iming-iming semu American Dream membuat banyak orang tertarik untuk mengadu nasib di sana baik secara legal maupun illegal. Hal lainnya mungkin disebabkan oleh motif politik ataupun alasan mengejar karir. Aku merasa film ini memiliki kemiripan kerangka dengan Crash dengan tendensi dan cara bercerita yang lebih sederhana dibandingkan film terbaik OSCAR 2005 tersebut.

Karena film ini menampilkan banyak karakter dengan permasalahan imigran yang berbeda-beda, dapat diasumsikan tak ada pemeran utama yang betul-betul menjadi sentral cerita. Setiap tokoh dalam kondisi dan batasan tertentu saling berhubungan satu sama lain, baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan nasib karakter. Beberapa bagian cerita cukup menarik dan menyentuh perasaan ditambah dengan berbagai konflik sosial kemasyarakatan seperti masalah terorisme, pemalsuan dokumen hingga urusan gangster.

Masalahnya, film ini memuat terlalu banyak hal untuk diceritakan sehingga apa yang ingin disampaikan seakan-akan mentah begitu saja. Contohnya saja bagian cerita yang paling kusukai yaitu tentang Talisma Jahangir, seorang remaja muslim 15 tahun yang berurusan dengan FBI dan dituduh sebagai calon suicide bomber hanya karena menulis makalah tugas sekolah dengan tema memahami maksud dan pemikiran pembajak pesawat insiden 11 September 2003. Cerita Talisma dibikin kontras dengan kisah keluarga Baraheri, imigran politik kaya raya dari Iran yang merasa dirinya sebagai muslim yang baik dan mendapatkan kewarganegaraan USA lewat proses naturalisasi. Belum lagi cerita digali lebih mendalam tiba-tiba perhatian penonton teralih dengan kisah aktris Australia yang mengejar karir Hollywood tapi terhadang visa ijin tinggal, cerita petugas imigrasi menolong anak imigran meksiko, persoalaan pengacara pembela imigran yang ingin mengadopsi anak afrika, hingga urusan Yahudi atheis berkewarganegaraan Inggris yang ingin mendapatkan visa ijin tinggal sebagai pengajar di sekolah Yahudi di USA lewat turunan darah Yahudinya.

Walaupun demikian, film ini menawarkan konflik-konflik yang menarik untuk disimak sekalipun dengan tumpang tindihnya cerita. Anda bisa memikirkan permasalahan yang ditawarkan dalam film ini lebih lanjut setelah menonton tanpa perlu memikirkan ending film. Toh hasil akhir yang didapat oleh para imigran hanya ada tiga koq, dapat ijin tinggal secara legal, gagal dan dideportasi, atau malah nekad tinggal terus tanpa ijin dengan segala resikonya. Mengenai akting para pendukungnya, aktor senior seperti Harison Ford tampil cukup meyakinkan sebagai petugas polisi bagian imigran gelap. Namun yang benar-benar patut mendapat pujian khusus adalah aktris muda turunan India, Summer Bishil yang membawakan peran Talisma sang anak imigran Bangladesh.

Rating: 3.25/5

Dragonball Evolution – Evolusi Manga yang Terlecehkan

Produksi: 21th Century Fox
Sutradara: James Wong
Genre: Fantasy Action
Pemain: Justin Chatwin, Jamie Chung, James Marsters, Chow Yuen-fat, Emma Rossum.

dragonballKebetulan sekali aku menonton 2 buah film adaptasi komik secara berurutan. Yang pertama aku nonton Watchmen yang diadaptasi dari komik Amerika berjudul sama karya duet Moore/Gibbons. Yang kedua adalah Dragonball Evolution yang merupakan adaptasi manga (komik Jepang) karya Akira Toriyama. Dalam tulisan ini aku cuma ingin membicarakan tentang bagaimana hasil karya kerja sama Hollywood dan perfilman Hongkong dalam rangka melecehkan sebuah karya manga fenomenal seperti Dragonball.

Sebelum menontonnya aku memang tidak berharap terlalu banyak pada adaptasi Dragonball kali ini. Paling tidak yang kucari adalah hiburan semata. Mengingat salah seorang produsernya adalah Stephen Chow, yang kunantikan dalam film ini adalah kelucuan tingkah Son Goku dan kawan-kawan. Apa lacur, jangankan adegan komedi khas Akira Toriyama muncul dalam film, hiburan yang kuharapkan juga sama sekali tak muncul seperti yang kubayangkan. Justru kebosanan melandaku ketika menonton film yang cuma berdurasi sekitar satu setengah jam ini. Bahkan hanya untuk sekedar film hiburan saja, Dragonball Evolution ini sudah mengecewakan.

Bagi para penggemar manga Dragonball tentunya tak perlu lagi kutulis isi ceritanya dan bagi yang belum pernah baca, agaknya cerita petualangannya tidak terlalu berat dan cukup menghibur. Masalah utama film ini adalah semangat petualangan yang begitu kental digambarkan dalam manga justru cuma jadi tempelan belaka. Yang ditonjolkan dalam film hanya Amerikanisasi kehidupan Son Goku, termasuk gaya setting sekolah Amerika yang “bullying the nerd guys” oleh para “cool guys” dalam film remaja Amerika turut meramaikan film ini. Apa tidak bosan mengulang adegan beginian? Tema hubungan romantis Goku dan Chichi yang unik dalam manganya diganti dengan gaya pacaran anak Amerika. Masih ingatkah anda adegan Chichi yang mengejar-ngejar Goku untuk minta kawin, sedangkan Goku yang polos menganggap kawin itu sejenis permen. Maaf, tidak bakalan ada adegan lucu seperti itu dalam film ini.

Bicara mengenai akting, lebih baik pasrah saja deh. Aktor senior seperti Chow Yuen-fat saja tak bisa berbuat banyak dengan kenyataan parahnya skenario film yang ditulis. Chow Yuen-fat disini cuma mirip pemain lenong yang mau melucu tapi nggak bisa bikin ketawa penonton. Hilang sudah sosok si tua bangka hentai Kame Sennin Muten Roshi yang genit dan lucu. Justin Chatwin yang dipuji sewaktu berperan sebagai anak sulung Tom Cruise dalam film War of the Worlds, dalam film ini seperti lupa cara berakting baik. Hal ini ditambah lebih parah dengan karakterisasi seluruh tokoh yang lemah.

Dan kalau anda berharap adegan tarung yang dahsyat, siap-siap saja kecewa. Mendingan nonton The Forbidden Kingdom-nya Jacky Chan yang paling tidak memperlihatkan adegan kelahi keren dengan jurus-jurus indah atau jurus-jurus lucu animasi Kung Fu Panda. Disini anda akan disungguhkan pertarungan antara penari yang sibuk berdansa saling menyerang tanpa ada semangat memukul lawan tarungnya. Spesial efeknya sendiri walaupun lumayan bagus, tapi sudah biasa dilihat difilm-film lain sehingga terlihat seperti tidak ada keistimewaannya. Bahkan tongkat dan awan kintoun yang identik dengan sosok Son Goku hilang dari layar lebar. Apakah karena produsernya yang orang China tidak mau sosok Son Goku disamakan dengan tokoh Sun Gokong yang memang diambil Toriyama sebagai dasar penciptakaan tokoh Son Goku?

Jadi sebenarnya apa yang ingin dijual oleh film ini? Hanya franchise sajakah? Entahlah, tapi paling tidak menurutku ini hanya sekedar film dengan niat nyari untung gede dengan cara melecehkan manga aslinya dengan membuat film yang asal jadi. Judul filmnya sangat tepat, Dragonball manga telah berevolusi menjadi Dragonball Amerika yang norak dan komersil. Mungkin kelebihan film ini ada dipemeran tokoh ceweknya yang menyegarkan mata seperti Jamie Chung (Chichi) dan Emmy Rossum (Bulma). Persetan dengan akting kaku mereka, tapi kok Muten Roshi tidak sampai tergoda ber-hentai ria dengan dua cewek mulus ini yah??

Rating: 1.5/5

Rachel Getting Married – Sebuah drama keluarga

Sutradara: Jonathan Demme
Produksi: SONY Pictures ( 2008 )
Genre: Drama
Pemain: Anne Hathaway, Rosemarie DeWitt, Bill Irwin.

“Everyone in the house is looking at me like I’m a sociopath. What do you expect me to do? Burn the house down?” (Anne Hathaway as Kym)

Sudah cukup lama tidak menonton film karya Jonathan Demme sejak The Manchurian Candidate, kali ini Demme mengajak para penonton meninggalkan dunia thriller dan memasuki genre film drama kehidupan keluarga. Drama versi Demme kali ini agak unik, berbeda dengan garapan film dramanya seperti Philadelphia yang mengantarkan Tom Hanks menggondol piala Oscar pertamanya. Hasilnya, banyak para kritikus menilai film ini sebagai karya terbaik Demme setelah Silence of the Lamb yang fenomenal itu.

Walaupun judul film mencantumkan nama Rachel (Rosemarie DeWitt), tokoh utama film ini adalah Kym (Anne Hathaway), saudara perempuan Rachel yang bolak balik masuk program rehabilitasi buat para pecandu obat-obatan. Film diawali dengan dijemputnya Kym dari tempat rehabilitasi oleh ayahnya Paul (Bill Irwin) dan ibu tirinya Carol (Anna Devaere Smith) untuk menghadiri persiapan pernikahan Rachel dengan calon suaminya Sydney. Dimenit-menit awal film hubungan antar anggota keluarga terlihat akrab dan harmonis, terutama hubungan dua kakak-adik Kym dan Rachel. Semakin lama semakin terlihat kalau Kym tidaklah sehangat itu hubungannya dengan seluruh anggota keluarga, malah sering dianggap sebagai si pengacau. Tentunya ada alasan dan latar belakang mengapa Kym kecanduan dan memiliki hubungan “basa-basi” dengan anggota keluarga yang lain. Lalu muncul tokoh Abby (Debra Winger) ibu kandung Kym dan Rachel yang terlihat cukup dekat dengan Rachel tapi tidak untuk Kym.

Aku suka dengan shoot dan pergerakan kamera serta pengambilan gambar gaya Demme yang menghiasi film ini. Kadang kamera menyorot adegan seperti layaknya standar film biasa. Tetapi jika sudah memasuki wilayah makan malam, rehearsal, resepsi pernikahan dan adegan rumah serta keluarga, kamera mengambil gambar bergaya semi-dokumenter. Menonton film ini seperti sedang menonton dokumentasi video keluarga Paul yang menyebabkan kita yang menonton mau tidak mau ikut terseret masuk kedalam film sebagai orang dekat keluarga yang sedang menonton rekaman video acara pernikahan kerabat kita sendiri.

Acara pernikahan dalam film ini sendiri unik. Tak usah berkomentarlah mengenai para hadirin yang multi ras (Sydney dan keluarganya sendiri berkulit hitam dan kerabat serta teman mereka yang multi etnis), musik yang menghiasi suasana seperti acara kumpul-kumpul bareng para pemusik berbagai aliran. Kadang background musiknya diisi oleh si pemusik yang hadir sebagai seorang tokoh di dalam adegan yang membutuhkan musik latar, walaupun si pemusik cuma figuran yang membawa gitar atau biola saja. Benar-benar mantap dan keren.

Akting para pemainnya benar-benar top, hampir seluruhnya bermain bagus terutama Anne Hathaway (Kym), Rosemarie DeWitt (Rachel) dan Bill Irwin (sang ayah Paul). Hathaway memang patut ikut bersaing bersama para nominator pemeran utama wanita terbaik piala Oscar 2009 karena dia berhasil membawakan peran Kym yang sinis sekaligus rapuh. Entahlah, apakah para juri OSCAR sempat juga melirik DeWitt dan Irwin sebagai nominator pemeran pembantu? Lalu ada pula Debra Winger yang berperan sebagai Ibu kandung. Walaupun porsi Winger tidak banyak, tapi Winger bermain bagus. Bisa dilihat pada adegan dialog penuh emosi antara Kym dan ibunya Abby yang mencuri perhatian. Terakhir coba bandingkan adegan antara Abby si ibu kandung dengan banyak dialog tapi jarang muncul dan Carol si ibu tiri dengan dialog seperlunya tapi selalu ada disetiap adegan penting. Seperti inikah peran ibu kandung dan ibu tiri ketika anak mereka menikah?
Selain itu juga terselip sedikit pertanyaan buat penonton, menurut anda apa sih makna dari pernikahan dan keluarga itu? Silahkan jawab sendiri……..

NB. Mulai sekarang aku akan menggunakan sistem perhitungan per 0.25

Rating: 4.25/5

Lost in Translation – Lost in Deja Vu

Catatan: Tadinya aku ragu untuk memasukkan tulisan ini ke blogspot yang memuat unek-unekku. Karena berhubungan dengan film, kuputuskan untuk mempostingnya disini.

Sutradara: Sofia Coppola
Produksi: Focus Features ( 2003 )
Pemain: Bill Murray, Scarlett Johansson

Pertama kali aku menonton film ini pada tahun 2004 lewat VCD di Indonesia dengan kondisi mengerti bahasa Inggris, melihat teks terjemahan bahasa Indonesia dan buta bahasa Jepang. Memang film yang mengisahkan tentang 2 orang asing yang kesepian sekaligus merasa terisolasi di tempat yang sama sekali asing sangat menarik untuk disimak. Masih ingat dibenakku seluruh adegan bahasa Jepang sengaja dibiarkan tanpa terjemahan sehingga lebih terasa lost in translation yang diinginkan oleh sang sutradara. Kondisi bentrok budaya antar timur dan barat juga sangat terasa walaupun dulu aku kurang mengerti mengapa Jepang dipilih, toh masih ada budaya timur lain dengan bahasa dan tulisan sama sekali berbeda seperti misalnya China, Korea atau Thailand.
Continue reading ‘Lost in Translation – Lost in Deja Vu’

Twilight – Antara aku, novel dan film Twilight

twilightPostingan kali ini bisa dibilang rada ketinggalan alias telat. Habis, film yang diserbu oleh para cewek dan ABG di Indonesia ini sudah tayang lumayan lama di layar bioskop. Walaupun sudah menonton bulan Desember tahun lalu lewat bajakan streaming internet, aku baru saja selesai baca buku pertama “Twilight” karya Stephenie Meyer. Jadi yang ingin saya bahas sedikit disini adalah membandingkan antara novel dan film adaptasinya. O iya, aku sih sebenarnya tidak terlalu berniat beli novelnya. Buku yang kubaca ini dibeli dan milik adikku Fitry, aku cuma numpang pinjam saja.

Wajar saja novel Twilight mendapatkan penghargaan disana sini, dipuji oleh para kritikus dan masuk dijajaran buku best seller di Amerika (dan beberapa negara lainnya). Walaupun demikian novel ini bukannya tanpa kelemahan, malah boleh dibilang cukup banyak. Bisa dilihat penokohan Edward Cullen yang terlihat mirip Romeo, Hamlet dan tokoh tragic hero yang lain dengan karakterisasi kurang kuat, lalu tokoh Bella yang menjadi narrator cerita terlalu tidak membumi (koq aku merasa karakter Bella lebih mirip vampire daripada manusia), belum lagi plot cerita sederhana yang malah dibikin melebar (kesannya bertele-tele), hingga tema lama yang juga boleh dibilang sudah lapuk (kisah cinta dua dunia berbeda). Tapi semua ini masih bisa aku maklumi mengingat Twilight adalah novel perdana Stephanie Meyer yang minim pengalaman menulis. Lagi pula penguatan karakterisasi tokoh bisa dilakukan dalam novel sequelnya (toh adanya 4 buku lebih dari cukup). Novel Twilight ini sendiri sebagai mana diakui oleh Meyer terinspirasi dari novel karya Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice (dianalogikan dalam novel sebagai bacaan favorit Bella)

Yang menjadi kelebihan dan membuat novel ini digila-gilai para fansnya mungkin gaya bahasa yang halus dan gampang diikuti, tema lapuk tentang cinta dibuat lebih fresh dengan memasukkan tokoh vampire dengan sosok baru (penggambaran vampire oleh Meyer dalam novel ini agak berbeda dengan gambaran kebanyakan dan sangat menarik), juga tentu saja hal yang membuat saya menyukai novel ini yaitu ketegangan yang dibangun secara bertahap, dari suasana asing disekeliling Bella, keanehan bertemu keluarga Cullen yang misterius, hingga bentrok dengan vampire nomad. Pendek kata, walaupun saya sudah menonton film serta mengetahui isi dan ending, novelnya tetap menggugah saya untuk membacanya hingga selesai. Untuk sebuah novel remaja, Twilight memang lebih dari sekedar novel biasa.

Dibandingkan novelnya, film adaptasi Twilight selain tetap memelihara kelemahan novelnya, parahnya kekuatan novelnya justru tidak muncul dalam filmnya. Malah boleh dibilang menambah daftar kelemahan yang sudah ada. Yang paling terlihat adalah ketegangan yang dibangun bertahap oleh novelnya justru hambar di 2/3 awal film. Perjuangan Bella dalam menghadapi suasana kota Fork yang dibencinya justru berjalan datar seperti juga dengan interaksi Bella dengan The Cullens. Ketegangan film baru terasa setelah Bela dan keluarga Cullen bertemu dengan trio vampire nomad dan diakhiri dengan suasana basi khas film remaja Amerika,bah……… Prom Night.

Memang sulit untuk mengadaptasi film sama bagusnya dengan novel, apalagi melebihi bukunya. Paling tidak buku pertama Twilight cukup menggugah pembaca untuk mencari novel sambungannya New Moon, yang kuharap bakalan lebih bagus dengan adanya pengalaman Meyer menulis Twilight. Film sequelnya sendiri? Kalau harus nonton bayar mahal-mahal di bioskop sih ogah, tapi kalau gratis lewat internet lagi sih mau aja.

“It’s twilight.”
“It’s the safest time of day for us. The easiest time. But also the saddest, in a way… the end of another day, the return of the night. Darkness is so predictable, don’t you think?”
(Edward Cullen, Twilight, Chapter 11)

Appaloosa – Genre koboy klasik Amerika

Sutradara: Ed Harris
Produksi: New Line Cinema ( 2008 )
Genre: Koboy – Western
Pemain: Ed Harris, Viggo Mortensen, Renee Zellwegner, Jeremy Irons

Sebetulnya saya agak malas membahas film Hollywood, akan tetapi untuk film Amerika yang cukup menarik dan jarang ada yang meresensinya dalam bahasa Indonesia tentu saja akan kubahas. Toh menulis film Hollywood bukanlah hal tabu bagiku, apalagi film ini adalah film koboy yang jarang dieksploitasi oleh sineas Amerika akhir-akhir ini.

Film dibuka dengan adegan marshal (jabatan semacam polisi) kota kecil Appaloosa yang datang ke ranch milik pemimpin geng koboy bernama Randall Bragg (Jeremy Irons) untuk menangkap anak buahnya yang didakwa membunuh dan memperkosa warga. Bragg bukan hanya menolak menyerahkan anak buahnya, bahkan dia juga membunuh sang marshal dan 2 orang deputinya.

Adegan selanjutnya beralih pada kedatangan 2 orang sahabat Everett Hitch (Ed Harris) dan Virgil Cole (Viggo Mortensen) ke kota Appaloosa. Hitch sendiri adalah veteran perang lulusan West Point yang berdua bersama Cole berprofesi sebagai petugas hukum bayaran. Oleh dewan pemimpin kota Appaloosa, duo koboy ini dikontrak untuk menyingkirkan Bragg beserta gengnya. Hitch meminta kekuasaan hukum penuh atas kota Appaloosa berada ditangannya, termasuk menjadi marshal baru dengan Cole sebagai deputi. Ketika ketegangan antara mereka berdua dengan geng Bragg semakin intens, kekompakan duet Hitch-Cole mulai terganggu dengan kedatangan wanita penggoda bernama Allie French (Renee Zellweger).

Film ini merupakan karya kedua Ed Harris selaku sutradara berdasarkan buku laris bertema western karya Robert B. Parker yang berjudul sama. Appaloosa mencoba untuk mengembalikan gaya bercerita koboy klasik Amerika yang sempat tergilas koboy spaghetti italia. Koboy klasik Amerika memang lebih menitik beratkan drama dan intrik antar tokoh dari pada aksi dan adu tembak (contoh: High Noon dan Warlock), dan Ed Harris cukup berhasil membawa film koboy ini ke gaya klasik dengan baik.

Kekuatan utama Appaloosa adalah karakter para tokoh utama dan intrik hubungan antar mereka. Dialog serta adu akting para pemainnya benar-benar dimanfaatkan sutradara Ed Harris dalam menghadirkan film koboy berkelas. Beruntung sekali 4 tokoh utama dimainkan oleh aktor dan aktris watak yang mampu membawakan peran dengan pas, terutama Renee Zellweger dan Viggo Mortensen. Gaya genit nan menggoda (sekaligus berhasil membuatku sebal) Zellweger benar-benar menambah hangat suasana. Zellweger mampu membawakan peran seorang wanita yang terlihat lemah ditengah kerasnya dunia wild west tetapi kuat dengan senjata pesona dan daya pikat yang mampu menaklukkan koboy gagah bersenjata pistol. Mortensen sendiri terlihat sangat cool sebagai koboy yang notabene “hanya” menjabat sebagai deputi. Saya jadi teringat dengan pembawaan Val Kilmer yang bermain sebagai Doc Holiday dalam film Tombstone. Lance Henriksen hanya muncul sebentar, tapi kehadirannya mampu mencuri perhatian.

Akting Ed Harris dan Jeremy Irons sendiri sebenarnya tidaklah mengecewakan, hanya saja karakter yang mereka bawakan menimbulkan sedikit kritikan untuk penulis skenario. Tokoh Hitch terlalu sentimentil untuk ukuran seorang veteran perang dan koboy berpengalaman, hal ini terlihat beberapa kali pada adegan Hitch “curhat” dengan Cole. Sedangkan karakter yang dibawakan Jeremy Irons kurang dikembangkan terlalu dalam. Dia muncul diawal film sebagai pemimpin geng yang kejam dan berpengaruh, tapi entah kenapa belakangan malah muncul bagaikan businessman. Perubahan karakterisasi tokoh antagonis ini malah lewat begitu saja.

Secara keseluruhan, film ini bagaikan air pemuas dahaga film koboy old-fashion yang jarang muncul. Paling cuma remake film 3:10 from Yuma-nya Russel Crowe dan The Assassination of Jesse James-nya Brad Pitt yang masuk kategori koboy klasik bagus akhir-akhir ini.

Rating: 3.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 353 other followers