Archive for the 'Resensi Anime' Category

K-On! Real Live Compilation

Lagi nggak mood bikin review anime K-On! Buat gantinya, aku bikin postingan ini saja. Walaupun secara plot dan cerita, K-On! masih kurang luar biasa sebagai sebuah anime, tetapi jika ditinjau dari segi musikalitas kukira anime bertema kelompok musik ini patut diacungi jempol. Lagu-lagu yang dibawakan oleh grup fiksi Houkago Tea Time alias After School Tea Time yang mewarnai anime 12 episode (plus 1 special episode) bagus dari segi aransemen musiknya. Selain laku dipasaran*), ending theme song Don’t Say Lazy juga berhasil meraih penghargaan Best Theme Song dalam Animation Kobe Award 2009. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan perilisan CD single khusus image character’s song) yang menampilkan masing-masing karakter anime dengan seiyuu (pengisi suara) sebagai vokalis. Hampir seluruh lagu diciptakan dan diaransemen oleh Hyakkoku Hajime. Mengenai siapa vokalis Houkago Tea Time yang lebih cocok antara Mio dan Yui, Arm-suhu juga telah membahasnya di postingan ini

*) single opening dan ending song Cagayake! Girls dan Don’t Say Lazy masuk peringkat 1 dan 2 single terlaris ORICON selama 2 minggu, mini album yang dirilis dengan judul band fiktif mereka “Houkago Tea Time” berhasil masuk peringkat satu album terlaris ORICON per minggu, sehingga menyebabkan album ini semenjadi album band fiktif pertama yang berhasil menduduki peringkat satu album terlaris versi ORICON.

Postingan ini hanya menampilkan para musisi yang membawakan lagu-lagu Houkago Tea Time secara live. Versi Cover Band mana yang paling anda suka? Silahkan nikmati.

Opening Theme Song “Cagayake! Girls”

—-

Ending Song “Don’t Say Lazy”

—-

Insert Song “Fuwa-Fuwa Time”

—-

Insert Song “Watashi no Koi ha Hocchikisu”

Detective Conan OVA 9

Ini cuma sekedar postingan numpang lewat.
conan
Wajah Conan dengan muka Shinichi plus kaca mata

Barusan aja aku nonton Detective Conan OVA 9 yang judulnya 10 nen go no Houjin alias stranger in 10 years. Ceritanya cukup unik karena mengambil perspektif apa yang akan terjadi jika Conan dalam 10 tahun mendatang tidak dapat mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula. Seperti apa yang diulas oleh Ai Habara, Conan telah meminum berkali-kali antidote APTX 4869 hingga akhirnya kebal terhadap pengaruh antidote. Sejak SMP atau 5 tahun terakhir, antidote yang diminum oleh Conan sama sekali tak berpengaruh karena tubuhnya imune terhadap antidote sehingga Conan sudah tak bisa lagi kembali ke tubuh semula. Conan tetap tumbuh bersama dengan para sahabat kelompok detektif ciliknya hingga kelas 2 SMA. Ran dan Sonoko telah menjadi dewasa dan berusia 27 tahun disertai cerita Ran dilamar oleh Dr. Araide. Heiji bersama Kazuha muncul di TV dan bertengkar sampai sang pembawa acara bertanya tentang hari pernikahan mereka. Hingga Kogoro Mouri yang semakin tenggelam dalam lautan alkohol akibat patah hati karena artis pujaannya Yoko Okino akan segera menikah.
shounen
Kelompok detektif remaja ki-ka Mitsuhiko, Genta, Ayumi didepan Conan

Karena cuma OVA, waktu tayangnya juga pendek tak sampai 30 menit. Walaupun demikian aku justru dapat melihat sisi lain yang menarik dari serial ini. Sepertinya cukup menarik untuk melihat perjalanan Conan dan teman-teman detektif ciliknya yang telah tumbuh remaja. Paling tidak sangat bagus untuk selingan serial Conan yang mulai membosankan akhir-akhir ini. Aku harap Aoyama Gosho dapat membuat sebuah cerita spin off yang cukup panjang dari sekedar OVA ditambah dengan sebuah film Detective Conan the movie yang mengisahkan tentang alternative dimension dimana Conan menjadi dewasa tanpa bisa kembali ke tubuh semulanya. Sambil menanti alur utamanya diselesaikan oleh Aoyama Gosho, bukankah cerita Conan dalam setting alternative dimension ini merupakan sebuah penyegaran.

The Sky Crawlers – Pilot Belia Tak Pernah Tua

Judul asli: スカイ・クロラ (Sukai Kurora)
Produksi: Production I.G ( 2008 )
Sutradara: Mamoru Oshii
Genre: Anime, Drama perang
Seiyu (pengisi suara): Kikuchi Rinko, Kase Ryo

君は大人になりたいと思う?僕達キルドレは歳を取らない
Kimi wa otona ni naritai to omou? bokutachi kirudore wa toshi wo toranai
Apakah kau ingin jadi dewasa? Kami para kirudore tak bertambah tua.

(Kannami Yuichi, anggota kelompok para pilot kirudore)

01_the_sky_crawlersMungkin nama Mamoru Oshii tidak terlalu terkenal di dalam dunia non-anime. Akan tetapi didalam dunia anime, nama sutradara sekaligus penulis ini merupakan nama yang sangat berpengaruh dengan karya-karya fenomenalnya seperti Jin-Roh: The Wolf Brigade dan Ghost in the Shell. Nama Oshii memang tidak segemerlap nama Hayao Miyazaki di dunia internasional walaupun menurutku mereka berdua memiliki kemampuan setara dengan gaya penyutradaraan berbeda. Hubungan antara Miyazaki dan Oshii sendiri skeptis secara professional sampai sekarang, tetapi mereka berdua saling menghormati secara personal. Menurut Oshii, karya Miyazaki terlalu idealis, tidak realistis dan sikap Miyazaki juga terlalu keras pada anak buahnya. Sedangkan Miyazaki sendiri mengkritik karya Oshii terlalu berat karena bermain dalam filosofi sehingga kurang menghibur (dan tentu saja membuat namanya kurang dikenal dunia internasional).

Aku sendiri sebenarnya tak keberatan dengan cekcok professional kedua sutradara anime hebat ini, toh apa yang mereka tunding satu sama lain memang benar koq. Namun justru itulah kekuatan masing-masing sutradara dalam berkarya. Lihatlah film-film karya Miyazaki yang indah dipandang dengan imajinasi mengawang-awang tanpa batas. Tapi justru dengan demikian film buatan Miyazaki mampu menghibur penonton segala usia. Bertolak belakang dengan buatan Oshii yang filosofis sehingga sulit dinikmati oleh anak-anak tetapi sangat menarik bagi orang dewasa. Masih ingat dengan cerita Jin-Roh yang ditulis oleh Oshii? Betapa Oshii menggunakan cerita si kecil kerudung merah dan serigala dalam menggambarkan kisah pasukan anti teroris. Kali ini Oshii menggarap film yang diadaptasi dari novel karya pengarang misteri Hiroshi Mori yang berkisah tentang pilot muda belia yang kuanggap sedikit mengambil kiasan latar cerita Peter Pan.

The Sky Crawler bercerita mengenai kelompok pilot yang dipanggil Kirudore dari pihak Rostock yang berperang melawan kelompok Lautern. Kannami Yuichi adalah pilot yang baru saja ditransfer ke pangkalan dibawah pimpinan seorang wanita bernama Kusanagi Suito. Kannami ditransfer untuk menggantikan seorang pilot bernama Jinrou yang diketahuinya telah tewas. Hanya ada 4 pilot aktif yang ada di pangkalan plus Kusanagi yang bisa menerbangkan pesawat. Keempat pilot tersebut termasuk kedalam kelompok Kirudore. Kirudore adalah kumpulan pilot-pilot muda yang tak pernah menjadi tua. Hanya ada 2 pilihan dalam kehidupan para Kirudore yaitu hidup muda belia atau mati di udara. Kemampuan bertempur para Kirudore tak tertandingi oleh pilot-pilot Lautern, kecuali 1 orang yang dipanggil Teacher. Kisah berputar disekitar hubungan roman Kannami dengan Kusanagi, teka-teki kematian Jinrou yang ternyata juga memiliki hubungan mesra dengan Kusanagi, eksistensi Kirudore dan siapa sebenarnya Teacher si pembantai Kirudore itu sendiri.

Muda selamanya dan penerbang! Pasti nama Peter Pan dari Neverland akan terlintas dipikiran anda. Memang kelihatannya film ini secara abstrak agak mengacu pada tokoh Peter Pan ciptaan J. M. Barrie yang muda abadi, hanya saja apakah menjadi muda selamanya itu menarik? Kalaupun menarik bagi Peter Pan, bagaimana dengan orang disekitar Peter Pan yang umurnya terus bertambah? Apakah mereka tidak akan bosan terus menerus bertemu seorang Peter Pan yang tak pernah tumbuh, sedangkan mereka melalui waktu dengan umur bertambah?

Terus terang saja film ini memiliki cerita yang cukup dalam dan rumit karena ceritanya sendiri mengalir melalui dialog antar tokoh yang tidak terlalu banyak jumlahnya, sehingga membutuhkan ketelatenan penonton untuk memahami isi cerita. Misteri tentang apakah itu Kirudore dan mengapa selalu ada satu pilot baru yang menggantikan satu pilot yang tewas akan dijawab perlahan-lahan. Setting film walaupun terlihat seperti kondisi pada saat perang dunia kedua (bentuk pesawat dan situasi sekitar pangkalan), namun sesungguh tidak terlampau jelas sehingga bisa dianggap alternative dimension. Kelompok Rostock dan Lautern sendiri tidak begitu jelas statusnya, apakah mereka itu dua negara yang sedang berperang, perusahaan yang bersaing, atau malah hanya dua kelompok fiktif yang dijadikan rival demi sebuah game perang dimana sosok Teacher adalah “Boss Enemy” yang tak terkalahkan? Dengan cerita semi-abstrak seperti ini saya sarankan agar anda menontonnya pelan-pelan karena jika anda dapat meresapi inti cerita, anda akan merasakan sensasi yang berbeda dari pada menonton anime biasa. Seperti biasanya menonton karya Oshii, jangan berharap mendapatkan cerita lucu dan menyenangkan dalam film ini seperti halnya karya Miyazaki.

Kelebihan utama film ini adalah visualisasi gambarnya yang luar biasa! Terutama gambar landscape pemandangan langit dan daratan yang indah, detail pesawat, hingga sajian utamanya, adegan pertempuran di udara yang diiringi dengan suara membahana kreasi Skywalker Sound milik Lucasfilm yang mantap punya. Ada beberapa adegan pertempuran dengan slow motion yang ditampilkan mengingatkanku pada film arahan John Woo. Baru kali ini aku menyaksikan adegan dogfight antar pesawat tempur yang menakjubkan, bahkan lebih keren dibandingkan film Hollywood dengan full teknik CGI canggih. Padahal film ini merupakan gabungan antara teknik CGI dan animasi gambar khas anime, atau malah gabungan inilah yang menjadi kelebihan utama The Sky Crawlers.

Jika anda seorang penggemar anime berkelas, jangan sampai melewatkan karya Mamoru Oshii yang satu ini. Bahkan jika anda tidak mengerti isi cerita film ini sekalipun, anda akan mendapatkan hiburan dengan sajian gambar animasi pertempuran di udara yang berbeda. Satu lagi, ada adegan yang akan membuat cerita lebih jelas (atau lebih rumit?) diakhir film setelah cast film habis ditampilkan, karena itu jangan matikan film ini sebelum benar-benar habis. Lagipula sambil menunggu cast film selesai, anda bisa sekaligus menikmati lagu Konya mo Hoshi ni Dakarete (Malam inipun direngkuh bintang) yang dibawakan dengan manis oleh penyanyi pop Jepang, Ayaka. Yang ingin mengunduh lagu ini silahkan kesini.

Gambar: 4.25/5 dan 4.75/5 (untuk adegan dogfight)
Rating: 4/5

Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif

Judul asli: Vals im Bashir
Genre: Animasi, Semi-dokumenter
Sutradara: Ari Folman
Pengisi suara: Ari Folman, Ori Sivan, Ron Ben Yishai
Catatan, hampir seluruh tokoh yang muncul adalah tokoh nyata yang juga diisi suaranya oleh tokoh aslinya.

waltzwithbashir1Seingatku, aku belum pernah nonton film produksi Israel, jadi menonton film animasi semi-dokumenter ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan meresensi sebuah film buatan Israel. Film ini adalah wakil Israel untuk memperebutkan piala Oscar dalam ajang Academy Award for Best Foreign Language Film, masuk nominasi utama tetapi kalah bersaing dengan film wakil Jepang yang berjudul Departures (Okuribito). Walaupun Waltz with Bashir ini termasuk kategori film istimewa, tapi kupikir masih sedikit berada dibawah Okuribito dan The Class (wakil Perancis).

Ari Folman seorang produser dan sutradara film mengalami halusinasi dan mimpi buruk tentang kejadian invasi Israel ke Lebanon. Anehnya kejadian pada saat Folman bertugas dalam rangka wajib militer tersebut sama sekali tidak dapat diingatnya secara jelas. Untuk mengumpulkan ingatannya kembali, Folman mulai mencari mantan rekan-rekan sesama serdadunya pada saat kejadian dan melakukan serangkaian wawancara dengan mereka. Selain itu juga ditampilkan wawancara Folman dengan psikolog dan wartawan yang juga hadir pada saat kejadian invasi, terutama yang menyangkut peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila

Hal yang pertama ingin aku komentari adalah pilihan sutradara membuat film ini dengan teknik animasi dibanding dengan live action. Terus terang saja, menurutku mungkin efek penceritaan dan daya tarik film akan berkurang banyak jika menggunakan visualisasi live action. Oleh karena itu pemilihan media animasi sebagai pilihan sangatlah tepat.
Permainan warna dan pencahayaan! Itulah yang menjadi kekuatan utama sinematografi film animasi comic strip ini. Warna-warna gelap dan suram mewarnai film, ditimpa dengan cahaya terang yang menyebabkan degradasi warna menjadi terlihat unik dan mewakili kekalutan pikiran tokoh utama serta kekosongan jiwanya. Aku sendiri walaupun penggemar anime Jepang, sebenarnya agak kurang tertarik dengan gambar animasi comic strip. Hanya saja keunikan gambar animasi film ini memang berbeda dan menarik.

Lagu-lagu yang menghiasi film ini kadang berlirik komedi satir. Dengar saja sebuah lagu rock yang bertema tentang “aku mengebom Beirut setiap hari” diiringi secara visualisasi tentara Israel mengicar “teroris” yang malahan lolos melulu disertai banyaknya korban penduduk akibat salah sasaran dan rudal nyasar. Pada akhir lagunya keluar lirik “tentu saja disepanjang jalan kami juga tak sengaja membunuh orang-orang tak bersalah”. Sulit untuk tertawa walaupun lirik lagunya yang satir seolah-olah mengolok-ngolok tentara Israel sendiri yang tidak becus membidik atau memang sengaja menembak salah sasaran. Belum lagi hiasan musik klasik disepanjang adegan pertempuran, baik yang ditampilkan slow motion ataupun sambil berdansa waltz mengacu pada judul film.

Bukan teknik animasi dan musik saja yang patut dipuji dari film ini. Inti cerita dari film itu sendiri yang menyebabkan para juri Oscar memasukkan film animasi ini masuk nominasi. Bagi yang kurang tertarik dengan film bergaya narasi digabung dengan deskripsi kilas balik (flashback) mungkin akan bosan dengan dialog-dialog antar tokohnya, walaupun bagiku justru dialog-dialog inilah yang menjadi kekuatan film animasi ini. Lewat narasi tokoh utamanya beserta obrolan dan wawancara dengan rekan-rekannya, para penonton dibawa masuk kedalam realitas kehidupan para serdadu bawahan Israel, khususnya secara psikologis.

Bagian terbesar yang menjadi inti film ini adalah peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila yang terjadi di Lebanon tahun 1982. Ketika itu Milisi Kristen Phalangist yang berada dibawah pengawasan Israel membantai pengungsi palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila tanpa ada tindakan Israel untuk mencegah, malahan “membantu” visual para milisi dimalam hari lewat penembakan cahaya flare ke langit diatas kamp pengungsi. Ada yang menyebutkan kalau Israel terlibat langsung dan ada pula yang menyatakan Israel terlibat secara tidak langsung (pinjam tangan milisi Phalangist). Dalam film ini, para serdadu Israel memposisikan dirinya sebagai pihak yang terlibat secara tidak langsung. Melihat dan mengetahui adanya pembantaian didekatnya tetapi tidak ada niat dan usaha untuk mencegah, walaupun sebenarnya mereka mampu. Cahaya-cahaya suar kekuningan (dari flare) di langit yang ditembakkan oleh militer Israel diatas kamp pengungsi terlihat indah didalam film berpadu dengan kegelapan malam yang mistis. Pada saat yang sama, terjadi pembantaian berdarah yang berlangsung secara mengerikan didalam kamp pengungsi Sabra dan Shatila.

Kalau anda selesai menonton film ini, ada kemungkinan anda akan mempertanyakan hal yang sama dengan diriku. Apakah jika anda punya kemampuan untuk menghentikan pembantaian tetapi justru membiarkannya, anda sama saja dengan menjadi pelaku pembantaian itu sendiri? Tragedi pembantaian paling aktual yang terjadi akhir-akhir ini adalah serangan zionis Israel ke Jalur Gaza. Ironisnya justru film Israel sendiri yang mengingatkan betapa sikap diam banyak negara didunia terutama tetangga perbatasan Jalur Gaza yaitu Mesir sama artinya ikut membantai penduduk Jalur Gaza. Mereka semua memang boleh mengutuk, tapi apakah hanya dengan mengutuk akan menghentikan pembantaian? Toh lebih dari seminggu serangan gencar dilakukan dan membunuh lebih dari seribu rakyat sipil. Dengan menghentikan serangan zionis Israel selama satu hari saja, mungkin bisa menyelamatkan puluhan hingga ratusan penduduk. Jika mampu mencegah tapi tak mau melakukannya, apa bedanya dengan melakukan lewat pinjam tangan orang lain?

Apakah Ari Folman benar-benar lupa dengan peristiwa Sabra dan Shatila, atau dia memang terpaksa lupa sebagai wujud melarikan diri dari rasa bersalah? Dipersilahkan anda menjawabnya sendiri. Lagipula banyak negara didunia ini yang berpura-pura lupa dengan pembantaian di Jalur Gaza setelah gencatan senjata dibelakukan bulan Januari lalu. Justru film produksi Israel yang kembali mengingatkanku pada kejamnya Operation Cast Lead dan sikap berpangku tangan dunia internasional. Mengulangi sejarah pembantaian di Rwanda, Somalia dan Bosnia yang terjadi sebelumnya dengan hanya mengungkapkan rasa penyesalan tanpa tindakan mencegah. Di Indonesia sendiri masih banyak orang yang berpura-pura lupa dengan tragedi DOM di Aceh. Sebuah Genosida pasif.

Film animasi ini diakhiri dengan pemutaran film dokumenter asli (bukan animasi) hasil akhir dari pembantaian Sabra dan Shatila, sunyi tanpa suara, hanya pemandangan mayat-mayat bergeletakan sehingga sangat mencekam perasaan.

NB:
- Postingan ini hanya membahas tentang film yang bertema politik dan genosida. Harap memberi komentar yang sesuai dengan tema postingan yaitu film. Jika tidak, saya tidak ragu untuk menghapus.
- Walaupun film ini dipenuhi adegan kekerasan perang, semangat anti genosida-nya sangat terasa. Tercermin lewat Folman yang membandingkan Kamp Auschwitz dengan pembantaian penduduk Palestina. Dalam hal ini Folman cukup berani mengkritik kebijakan politik zionisme negaranya sendiri.
- Kemungkinan besar film ini tidak akan masuk Indonesia, hanya ada dua jalan untuk menontonnya: download bajakannya atau nonton DVD bajakan. Ingat, menonton bajakan film ini berarti merugikan perindustrian Israel (dalam hal ini industri film). :lol: :lol:

Rating: 4/5

Mobil Suit Gundam 00 – Serial Gundam paling realis

Judul asli: Kidou Sensi Gandamu Daburu O (機動戦士ガンダムダブルオー)
Sutradara: Seiji Mizushima
Produksi: Sunrise ( 2007 )
Episode: season 1 (25 episode), season 2 (ongoing)

“戦い!お前の信じる神のために!”
“Tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!”
“Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya”
(Setsuna F. Seiei aka Soran Ibrahim, pilot Gundam Exia)

300 tahun yang akan datang, tepatnya pada tahun 2307 masehi, bahan bakar fosil yang menjadi andalan masa sekarang sudah hampir habis sehingga umat manusia mengandalkan sumber energi baru yang lebih potensial yaitu energi matahari. Sumber energi didapat dari panel surya yang ditempatkan berjejer di orbit bumi supaya dapat menangkap tenaga matahari secara sangat efisien. Panel surya di luar atmosfer bumi tersebut disambung langsung ke permukaan bumi lewat pilar panjang yang disebut Orbital Elevator (lihat gambar bawah) sebagai penyalur energi yang ditangkap oleh panel surya. Sayangnya teknologi Orbital Elevator untuk mendapatkan energi matahari dengan cara ini sangat terbatas. Hanya ada 3 pilar Orbital Elevator yang eksis dan dibangun oleh tiga blok perserikatan negara pada masa itu yaitu: AEU (blok negara Eropa), Union (blok negara Amerika dan pendukung USA termasuk Jepang) serta Jinrui kaku renmei atau Liga Reformasi Rakyat yang disingkat Jinkakuren (Rusia, Asia timur kecuali Jepang, Asia barat kecuali Pakistan dan Bangladesh, serta ASEAN). Negara non-blok yang tidak termasuk tiga blok besar, tidak mendapatkan akses energi matahari tanpa persetujuan blok yang bersangkutan. Anda sendiri tentu bisa membayangkan kondisi negara-negara kaya di timur tengah penghasil minyak bumi dimasa depan, jika minyak bumi yang ditambang dibumi mereka habis disedot atau tidak laku lagi dijual.

180px-orbital_satellitePeta politik pada masa itu sangat dipengaruhi oleh masalah ekonomi (terutama masalah energi) sehingga sering terjadi konflik bersenjata oleh negara ataupun kelompok kecil yang didukung salah satu dari tiga blok besar tersebut. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba muncul sebuah kelompok paramiliter swasta yang misterius bernama Celestial Being dengan tujuan utamanya menghentikan perang dengan cara kekerasan. Setiap konflik militer di manapun di dunia ini dan oleh siapapun baik atas dasar konflik agama, ras maupun yang lain akan di intervensi oleh Celestial Being dengan kekerasan. Tidak ada yang dapat menghadapi Celestial Being yang memiliki Mobile Suit paling canggih di dunia yang diberi nama Gundam. Empat unit Mobil Suit Gundam ternyata lebih dari cukup untuk mengobrak abrik kekuatan militer masing-masing blok. Celestial Being tidak akan berhenti memporak porandakan seluruh kekuatan militer kelompok yang bertikai sebelum konflik/perang dihentikan. Dengan keberadaan Celestial Being, tatanan politik dan kekuasan pada saat itu jadi hancur berantakan.

Kelompok seperti apakah Celestial Being itu? Saking misteriusnya, seluruh anggota yang direkrut untuk menjadi anggota sendiri tidak saling mengenal latar belakang satu sama lain. Bahkan nama yang diperkenalkan pertama kali hanyalah nama alias, bukan nama asli. Sistem perekrutan anggota dilakukan oleh super komputer bernama Veda dan anggota yang direkrut dipilih sendiri oleh Veda tanpa ada yang tahu alasan perekrutan. Belum cukup kemisteriusan organisasi ini, pimpinan utama Celestial Being adalah seorang ilmuwan yang bernama Aeolia Schenberg, penemu teknologi GN Drive yang diketahui sudah meninggal dunia 200 tahun yang lalu. Lagipula apakah benar tujuan utama Celestial Being adalah menghentikan perang? Segampang itukah perang dapat dihentikan?

Kalimat pembuka diatas yang saya tulis saja belum cukup untuk menggambarkan betapa rumit plot cerita anime ini karena saya belum memaparkan tokoh-tokoh utama cerita. Dalam tubuh Celestial Being sendiri terdapat 4 pilot Gundam beserta awak pesawat induk tempat “parkir” Gundam bernama Ptolomeus yang masing-masing memiliki karakter dan latar belakang tersendiri. Belum lagi tokoh-tokoh dalam blok AEU, Union, dan Jinkakuren, juga PBB serta rakyat biasa sebagai pengamat luar yang juga memiliki karakteristik masing-masing dan sangat menarik. Konflik politik dan benturan budaya yang mewarnai serial ini menambah panjang kerumitan yang membuat penasaran para penonton.

Tapi anda jangan takut. Walaupun rumit, sutradara sangat pandai mengatur tempo sehingga satu demi satu keruwetan dapat dijelaskan pada setiap episode. Dan konflik yang mewarnai cerita, sangat menarik untuk disimak. Apalagi konsep cerita yang mewarnai serial Gundam kali ini lebih realistis. Lihat saja tahun yang dipakai mengikuti standar Masehi (Anno Domini) bukan tahun khayalan seperti serial Gundam sebelumnya. Konflik politik dan budaya juga benar-benar mengacu pada cerminan konflik masa sekarang seperti krisis energi, masalah perang terhadap terorisme, manipulasi media untuk membentuk opini publik, hingga masalah perang etnis. Saya sendiri bukanlah penggemar berat anime mecha (anime bertema robot raksasa), karena itu saya tidak tahu apakah Gundam yang ini merupakan pengulangan tema Gundam sebelumnya atau bukan. Yang pasti paling tidak saya memberanikan diri menyebut serial Mobile Suit Gundam 00 adalah serial Gundam paling realistis.

Kalau Neon Genesis Evangelion berat dicerita teori evolusi, maka Gundam 00 sarat dan berat dicerita politik dan konflik budaya. Bagi penggemar film berat dan banyak mikir, Mobile Suit Gundam 00 adalah pilihan yang cocok untuk anda. Sengaja saya tidak bercerita lebih lanjut karena takut merusak fantasi dan menghindari spoiler. Yang pasti 25 episode pada season 1 akan membuat anda ketagihan untuk lanjut ke season 2 yang juga direncanakan berjumlah 25 episode. Setting cerita season 2 sendiri dimulai 4 tahun setelah kejadian terakhir pada episode akhir season 1.

Ini adalah serial Gundam pertama yang menggunakan teknologi HDTV (High-Definition Television) dan widescreen sehingga para penonton dipastikan akan terpesona dengan detail visual effect dan desain robot Gundam serta animasi gambar yang menakjubkan. Kalaupun anda pusing dan bingung dengan plot cerita berbelit, anda bisa menonton berulang dan menonton ulangpun tidak terasa membosankan dengan animasi keren seperti ini.

(Edit 8 Februari 2009)
Barusan nonton season 2 episode 18. Ada adegan lucu yang bikin aku tertawa, ketika Ptolemaios dikepung pihak musuh seluruh pilot pergi menghadang musuh dengan alat tempur masing-masing. Masing-masing pilot baik dari pihak Celestial Being maupun musuh membisikkan nama orang yang disayanginya. Misalnya sepasang kekasih Saji dan Louise saling menyebut nama satu sama lain, lalu Marie membisikkan nama Kolonel Smirnov yang seperti ayahnya sendiri, Allelujah menyebut nama Marie, Andrei membisikkan nama ibunya, Lyle menyebut nama pacarnya Anew, Tieria menyebut Veda, dan terakhir si tokoh utama Setsuna F. Seiei membisikkan sebuah nama dengan mesra ……. “GUNDAM”. Hahahahaha…. :lol:

Brave Story – Anime kisah si pemberani

Judul asli: Bureibu Sutori (ブレイブ・ストーリー)
Genre: Drama, petualangan, fantasi
Produksi: Gonzo ( 2006 )
Sutradara: Koichi Chigira

brave-story2Anime movie ini diangkat dari buku novel karya Miyuki Abe yang telah dibuat adaptasinya dalam bentuk manga sebelumnya. Tadinya sebelum habis menonton anime ini aku mengira bahwa cerita anime ini berdasarkan game RPG model Final Fantasy atau Dragon Quest. Dugaanku salah besar, malah game RPG-nya sendiri baru diluncurkan hanya beda 2 hari sebelum tayang animenya di bioskop-bioskop Jepang. Plot ceritanya sendiri cukup menarik dengan menampilkan perjalanan fantasi seorang remaja untuk meraih harapannya.

Seorang anak SMP bernama Wataru merasa hidupnya hancur berantakan setelah ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya (kemungkinan besar orang tuanya bercerai). Pada saat yang sama di kelas Wataru, murid pindahan baru yang bernama Ashikawa menyebarkan kabar tentang gedung tua berhantu untuk menyembunyikan rahasia sebuah gerbang ajaib yang terdapat di gedung tua tersebut. Dibalik gerbang ajaib tersebut terdapat dunia fantasi bernama Vision dengan dewi impian yang mampu mengabulkan segala macam permohonan. Tak lama kemudian secara tiba-tiba ibu Wataru ditemukan pingsan dan dalam keadaan kritis sehingga harus dirawat dirumah sakit. Wataru dengan nekad memutuskan untuk pergi ke balik gerbang ajaib untuk meminta pada dewi impian supaya mengembalikan seluruh keluarganya bahagia seperti semula.

Ternyata bagi setiap manusia yang masuk lewat gerbang ajaib (disebut sebagai Tabibito – penjelajah) harus melewati ujian penentuan peringkat terlebih dahulu berdasarkan nilai keahlian, stamina dan keberanian. Ashikawa yang pintar dan pemberani rupanya sudah terlebih dahulu masuk dan mendapatkan nilai tinggi sehingga mengawali perjalanannya sebagai “wizard” dengan senjata tongkat penyihir. Sedangkan hasil ujian Wataru sangat rendah sehingga harus mengawali perjalanannya dengan level Tabibito paling bawah yaitu sebagai “Minarai no Yuusha atau The Brave Apprentice” (agak bingung mengartikannya, mungkin “pembantu ksatria” kali yah) dengan senjata pedang jelek. Untuk menemui sang dewi impian seluruh Tabibito harus mengumpulkan 5 bola kristal yang masing-masing memiliki kekuatan. Kristal pertama diberikan diawal perjalanan sebagai modal dan 4 kristal lain harus ditemukan sendiri (tahu sendiri kan awalnya kenapa aku menyangka anime ini berdasarkan game RPG). Mulailah perjalanan Wataru dan Ashikawa untuk menemui sang dewi impian untuk menggapai permohonannya. Wataru dengan kemampuannya yang pas-pasan lambat laun mulai semakin hebat akibat kegigihan dan kekeras kepalaannya. Bagaimana dengan Ashikawa? Permohonan apakah yang diinginkan Ashikawa?

Walaupun mirip karakter game RPG, plot ceritanya sendiri lumayan bagus terutama pada perjalanan Wataru di dunia Vision. Tentang gambarnya sendiri lumayan keren, walaupun jika dibandingkan dengan anime 5 centimeters per second masih kalah kelas. Yang agak menyebalkan adalah pace cerita yang terkesan buru-buru sehingga terdapat hal-hal menarik yang dibiarkan lewat begitu saja karena mengejar waktu tayang. Yah, sutradaranya memang gagal dalam mengatur tempo. Padahal tema ceritanya sendiri walau terlihat sederhana sebenarnya jika dipikirkan lebih mendalam cukup rumit. Mungkin dengan membaca novelnya akan membuat menonton anime ini menjadi lebih menarik. Tanpa novelnya, menonton animenya tersendiri lumayan menghibur koq.

Sekarang lagi nyari-nyari anime karya Mamoru Oshii (Ghost in Shell dan Jin-Roh) yang judulnya The Sky Crawlers yang bercerita tentang para pilot fighter pesawat dogfight. Novel yang menjadi adaptasinya sendiri keren dan kalau melihat sutradara sekelas Oshii, filmnya bakalan mantap punya.

Rating: 3/5

Detective Conan The Movie 12: Full Score of Fear

Judul asli: 名探偵コナン戦慄の楽譜 (Meitantei Konan Senritsu no Gakufu)
Produksi: Toho ( 2008 )
Sutradara: Taiichiro Yamamoto

Terus terang saja aku kecewa dengan film layar lebar Detective Conan kedua belas kali ini. Selain misteri yang dibahas tidak terlalu bikin penasaran, thriller yang dikemas kurang seru, tokoh yang diajukan oleh penulis cerita juga kurang mantap. Jadinya film ini jatuhnya biasa saja, tidak ada hal yang istimewa untuk Detective Conan The Movie kali ini. O iya, aku sebenarnya sudah nonton tahun kemarin sekitar bulan Juni (tanpa teks), karena takut terjadinya salah pengertian bahasa terpaksa nonton ulang film yang sama dengan teks terjemahan.

Film dibuka dengan adegan pengeboman akademi musik Doumoto yang banyak melahirkan pemusik-pemusik klasik Jepang kelas dunia, mulai dari penyanyi soprano, violist, hingga pianis. Korban yang tewas tidak berhenti begitu saja melainkan dilanjutkan dengan pembunuhan musisi yang berhubungan dengan akademi musik Doumoto lainnya hingga total pengeboman berjumlah tiga. Disetiap tempat kejadian ditemukan flute (sejenis suling) masing-masing bagian kepala (head joint), tubuh (body) dan bagian kaki (foot joint) dari satu flute utuh.

Kejadian ini dilanjutkan dengan serangan terhadap penyanyi soprano terkenal yang juga penyanyi utama akademi musik Doumoto menjelang Doumoto Concert. Conan yang bersama teman-temannya yang menghadiri acara tentu tak mau tinggal diam. Mulailah Conan menyelidiki seluruh kejadian dibalik keterlibatan akademi musik Doumoto untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar didepan matanya.

Film kali ini sama membosankannya dengan the movie sebelumnya Jolly Roger in the Deep Azure. Jangankan untuk menyaingi keistimewaan Detective Conan The Movie terbaik yang pernah saya tonton The Panthom of Baker Street, untuk sekedar sama bagusnya dengan Countdown to Heaven saja masih kalah kelas. Satu-satunya adegan menarik yang saya lihat adalah latihan paduan suara anak-anak SD Teitan tempat Conan dan teman-temannya sekolah. Lucu juga melihat betapa anak SD nyanyi di kritik oleh penyanyi soprano professional. Conan sendiri di”bantai” karena dirinya “onchi” (tone-deaf alias pekak nada) hehehe…… :D

Menurut kabar terbaru, bulan april 2009 bakalan keluar Detective Conan The Movie: The Raven Chaser yang akan menampilkan kembali musuh berat Conan yakni Kuro Sosiki (Organisasi Hitam) yang sudah lama hilang dari peredaran cerita. Semoga the movie yang akan datang tidak mengecewakan.

Rating: 2.5/5

BLOOD+, salah satu serial anime misteri-thriller/horor terbaik

Produksi: Production I.G. dan Aniplex
Sutradara: Junichi Fujisaku
Genre: Drama misteri, thriller, horror
Masa tayang di Jepang: Oktober 2005 – September 2006
Jumlah episode: 50 (tamat)

Sebenarnya aku sudah pernah menulis review tentang serial anime ini tahun lalu dengan bahasa Inggris dan sudah diposting entah dimana. Kali ini aku menulis ulang dengan bahasa Indonesia dan interpretasi berbeda. Maklumlah, ini merupakan salah satu serial anime terbaik yang pernah kutonton walaupun belum bisa dibandingkan dengan serial Evangelion yang luar biasa itu.

Alasan awal diproduksinya serial ini adalah booming-nya film animasi produksi tahun 2001 berjudul Blood: The Last Vampire yang mendapatkan berbagai macam award disetiap festival film yang diikutinya di seluruh dunia. Film ini memang mendapatkan kritik positif dari para pengamat film dunia termasuk James Cameron yang memuji film Blood: The Last Vampire sebagai standar baru dunia animasi. Hanya saja banyak juga kritik yang menganggap film ini “short length and lack of a conclusion”.

Tahun 2005 bertepatan dengan kedatanganku ke Jepang, serial anime BLOOD+ ditayangkan di televisi Jepang hingga berakhir di episode final tahun 2006. Serial ini mengambil tema dan beberapa karakter yang sama dengan versi filmnya dengan setting dunia yang berbeda. Serial anime BLOOD+ sendiri mendapatkan penghargaan dari Japanese Media Art Festival ke 9 sebagai salah satu anime yang direkomendasikan dengan garapan terbaik.

Aku sengaja menulis resensi cerita hingga episode ke 6 demi merangsang niat pembaca untuk menonton, karena episode selebihnya akan mulai menguak misteri dibalik cerita sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya jumlah episode. Menu utama film ini adalah cerita dan misteri yang tersembunyi dibalik sosok tokoh utama yang bernama Saya Otonashi.

Setting cerita pada masa kini (tahun 2005) menceritakan tentang seorang anak SMU bernama Saya Otonashi yang tinggal bersama keluarganya di kota Okinawa yang berdekatan dengan Kadena, pusat pangkalan militer USA di Jepang. Saya dikenal orang sekitarnya mengidap penyakit amnesia (lupa ingatan) dan anemia sehingga wajib melakukan transfusi darah secara berkala. Keluarga Saya seluruhnya keluarga angkat, karena Saya sendiri tidak ingat sedikitpun tentang masa lalunya sampai George Miyagutsuku, seorang veteran perang Vietnam asal Amerika yang berkewarganegaraan Jepang, bersedia menampung Saya dan mengadopsinya sebagai anak.

Istri dan anak biologis George sendiri telah tiada akibat kecelakaan yang menimpa mereka bertahun-tahun yang lalu. Sebelum mengadopsi Saya, George terlebih dahulu telah mengadopsi dua bersaudara Kai Miyagutsuku dan Riku Miyagutsuku sebagai anak angkat. Jadilah Saya memiliki seorang ayah, seorang abang dan seorang adik lelaki.

Hidup Saya diawal episode terlihat menyenangkan terlepas dari perawatan penyakitnya serta mimpi buruk yang selalu membayangi tidurnya (dalam mimpinya ini Saya melihat seorang anak perempuan pada masa perang Vietnam membantai penduduk sipil, tentara dan monster). Punya ayah George yang mengasihinya, punya abang Kai yang sayang padanya walaupun sok protektif sebagai anak tertua, punya adik manja Riku yang suka masak dan teman-teman sebagaimana layaknya remaja dewasa di Jepang membuat hidup Saya serasa sempurna.

Hingga pada suatu hari Saya diserang monster mirip vampire yang dikemudian hari dikenal dengan nama Chiropteran. Ketika hampir celaka tiba-tiba muncul seorang misterius yang selalu membawa kotak Cello bernama Hagi menolong. Tapi Hagi hanya dapat membuat monster itu lumpuh tanpa bisa membunuhnya. Menurut Hagi, satu-satunya orang yang bisa bunuh Chiropteran hanya Saya sendiri. Saya tiba-tiba saja mendadak menjadi kalap dan dengan menggunakan katana (pedang samurai Jepang) yang dibawa oleh Hagi, Saya tanpa sadar membantai sang monster dengan sadis.

bloodplus1
(Gambar kiri) Keluarga Miyagusuku, George, Kai, Saya dan Riku.
(Gambar kanan) Saya Otonashi bersama teman-teman seperjuangannya

Rupanya rahasia Saya dimasa lalu diketahui oleh ayah angkatnya, namun George tak mau memberi tahu Saya karena khawatir kalau anak angkatnya jadi terpukul dengan masa lalunya yang gelap. Tak lama kemudian George didatangi seseorang dari organisasi rahasia yang bernama Red Shield yang menagih janji karena Red Shield telah mempercayakan Saya kepada George untuk dipelihara. Tapi George terus menolak menyerahkan Saya kepada Red Shield dengan alasan Saya belum siap, hingga suatu ketika Saya kembali diserang monster dan George tewas terbunuh karena melindungi Saya. Dari sini cerita serial ini mulai panas.

Saya mulai sedikit demi sedikit mendapatkan ingatannya dan memulai perjalanan keliling dunia dari Jepang, Vietnam, Rusia, Perancis hingga klimaksnya di London dalam rangka memberantas monster Chiropteran dengan anggapan hanya dirinya seoranglah yang mampu membunuh Chiropteran. Masalahnya Kai sebagai abang tertua merasa bertanggung jawab atas keluarga setelah George tewas. Dia tidak mau Saya pergi berkeliaran memberantas monster sendirian, sedangkan si bungsu Riku yang masih SMP tentu saja tidak mau ditinggal 2 kakaknya.

Berbekal pedang katana yang dibawa Hagi, mulailah petualangan Saya bersama Kai dan Riku dibantu Hagi menyingkap masa lalunya yang suram, masa lalu Red Shield dan organisasi saingannya Cinq Fleches beserta rahasia gelap dibalik perseteruan antara Red Shield dan Cinq Fleches.

Serial anime ini memiliki segala macam aspek yang dituntut untuk menjadi anime keren yaitu gambar, musik, dan tentu saja paling penting yakni cerita bagus. Kekuatan utama serial anime ini adalah penyingkapan misteri yang secara bertahap dan rapi dibongkar pada tiap episode sehingga menimbulkan rasa penasaran penonton. Setelah melewati setengah musim (sekitar episode 30/50) hampir seluruh misteri telah terungkap, tinggal bagaimana cara penyelesaian kisah. Hal inipun tak kalah menarik untuk disaksikan. Thriller yang disajikan juga cukup menawan dimana ketegangan selalu muncul silih berganti untuk setiap story arc. Unsur dramanya sendiri sangat menyentuh. Dari hubungan antar keluarga Miyagutsuku, hubungan Saya dengan “saudaranya” yang bernama Diva, hubungan antara “Queen dan Chevalier” (yang ini tonton sendiri, takut spoiler), hingga hubungan Saya dengan anggota organisasi Red Shield. Hal unik lainnya adalah tokoh Diva. Diva yang didapuk sebagai antagonis utama justru memiliki penampilan paling manis, paling cute, paling menggemaskan dan paling innocence. Hehehe… sulit membayangkan penampilan Diva yang demikian justru terbalik dengan posisinya sebagai tokoh antagonis, unik bukan?

Theme song dan soundtrack
blood_ost1Aku harus mengakui bahwa OST BLOOD+ termasuk salah satu OST serial anime terbaik yang pernah kudengar. Musik animenya sendiri digarap oleh langganan piala Oscar Hans Zimmer dan Mark Mancina menghasilkan musik indah dan menghanyutkan disepanjang film. Duet Zimmer-Mancina menghiasi serial ini dengan orkestra dan musik klasik termasuk permainan Cello oleh tokoh Hagi dan nyanyian opera tokoh Diva. Untuk opening dan ending theme song, Sony Music membentuk tim tersendiri untuk memilih artis dan lagu mereka. Hasilnya hampir seluruh theme song menjadi hits tangga lagu Oricon hingga pihak produser Production I.G. sendiri mengakui bahwa duet Zimmer-Mancina dan tim Sony Music melakukan pekerjaan hebat (excellent work) dalam menghadirkan musik untuk serial anime ini.

Sekedar pengetahuan saja kalau opening song diisi oleh lagu-lagu Rock menghentak dari Hitomi Takahashi, Hyde (vokalis L’arc en Ciel) hingga UVERworld, berkebalikan dengan ending song yang diisi oleh lagu-lagu Pop-Slow dari Angela Aki, Hajime Chiitose hingga Mika Nakashima.

Warning: Walaupun serial ini menampilkan gambar-gambar grafis yang indah, tapi banyak adegan kekerasan dan sadis yang penuh dengan darah muncrat disana-sini. Sebaiknya tidak ditonton oleh anak-anak.

Cerita: 4/5
Musik: 4/5
Total Rating: 4/5

Trailer berbahasa Inggris versi Cartoon Network

Detroit Metal City

efbd84efbd8defbd83

“Boku ga sitakatta no ha, Konna bando jyanai dayo….Okaaaasaaaannn!”
Band yang gue pengen jalanin, bukan yang beginian….Emaaaakkkkk!

Habis juga nonton anime OVA nya yang berjumlah 12 seri (tiap seri cuma 13 menitan) setelah habis membaca manganya. Aku juga cukup terkejut ketika menonton iklan di TV kalau versi LIVE bioskopnya akan ditayangkan. Karena kondisi keuangan yang terbatas plus bahasa Jepang yang masih nanggung ancurnya, terpaksa urung nonton di bioskop dan memilih nyari di Internet. Tak ada subtitle pun jadi, karena kalau nonton gratisan kan bisa diulang kalau ada dialog yang kurang ngerti bahasanya. Maklumlah, animenya saja banyak ngomong pakai bahasa slang. Sayangnya DVDnya baru keluar bulan februari nanti, terpaksa nunggu deh, namanya juga pengen gratisan :P

Manga dan Anime
Cerita dibawah ini mengandung spoiler. Tapi untuk sebuah film komedi dan bukan misteri/thriller, spoiler cerita tidaklah terlalu bermasalah.

Perbedaan cerita versi manga dan animenya tidak terlalu jauh, hanya saja versi anime sedikit lebih sopan dengan pengurangan kata-kata kasar plus menghaluskan adegan yang kurang senonoh.

Bercerita tentang Negishi Soichi seorang pemuda pemalu dari kampung di propinsi Oita. Penggemar lagu-lagu pop manis model ABBA ini pindah ke kota besar Tokyo untuk melanjutkan pendidikan ke universitas sekaligus mengejar cita-citanya. Cita-citanya nggak aneh, cuma kepengen membentuk pop band yang sesuai dengan hobinya setelah lulus kuliah. Apa daya yang terjadi justru Soichi terdampar menjadi vokalis sekaligus gitaris dan penulis lagu grup band death metal yang berorientasi panggung bergaya KISS (pake muka coreng moreng segala) bernama Detroit Metal City alias DMC.

Celakanya band yang cuma dianggap Soichii sebagai batu loncatan karir musiknya ini justru jadinya ngetop banget, untung saja ketiga personel band selalu memakai nama samaran plus make-up yang menyembunyikan identitas dirinya. Jadilah tidak ada yang mengetahui kalau sang vokalis si raja setan yang bernama Johannes Krauser II adalah alter ego dari Negishi Soichi.

Parahnya cewek taksirannya membenci sosok band DMC, keluarganya dikampung (terutama emak yang disayanginya) tidak mengetahui hal ini. Bisa mati jantungan emaknya Soichi kalau sampai tahu anak culunnya ternyata si setan vokalis bejat yang suka teriak dalam lagunya f@*k…f@*k….bunuh…bunuh…bunuh….rape….rape……tralalalala…….

Gawatnya walaupun Soichi tidak menyukai musik death metal, dianya sendiri adalah gitaris rock handal dan punya karisma sebagai vokalis metal yang hebat dan mampu menarik massa untuk menggilai DMC sampai banyak fans percaya kalau Krauser II adalah setan asli dari neraka. Jadinya Soichi setengah mati menutupi identitas Johannes Krauser II nya yang semakin hari semakin ngetop dan mulai dicari-cari orang, sosok asli dibalik riasan panggungnya.

Usahanya untuk pindah ke jalur musik pop semakin sulit plus sosok Johannes Krauser II yang kasar dan brutal dipanggung mulai mempengaruhi sifat asli kesehariannya yang kalem. Ditambah lagi semua anggota band termasuk Soichi sangat takut terhadap cewek manager perusahaan rekaman Death Record pemegang kontrak DMC yang galak tapi selalu punya ide cemerlang (sekaligus gokil) untuk membuat nama DMC semakin meroket.

Humor yang ditampilkan manga dan animenya benar-benar lucu dan mampu mengocok perut. Aku sendiri bisa tertawa sampai terpingkal-pingkal kalau melihat tingkah Negishi Soichi yang sial tapi beruntung. Sayangnya humor-humor yang ditampilkan benar-benar kasar baik audio maupun visual sehingga DMC bisa dikategorikan sebagai manga/anime dewasa. Entah bagaimana dengan versi LIVE bioskopnya, ada kemungkinan humor brutal dari versi manga/anime akan dipotong habis-habisan.

LIVE Action Movie

matsuyama

Karena aku belom menonton, seluruh info dibawah hanya berdasarkan website filmnya. Negishi Soichi diperankan Matsuyama Kenichi (Lihat foto atas, sesuai permintaan sylviapoetiga) yang dikenal sebagai L dalam trilogi Death Note. Matsuyama adalah aktor muda Jepang yang diyakini akan cemerlang karirnya dimasa depan, apalagi Matsuyama mampu memilih peran yang krusial baik untuk film komersil maupun film serius kelas festival. Seluruh lagu dalam LIVE movie yang dinyanyikan oleh tokoh Soichi maupun Johannes Krauser II dibawakan sendiri oleh Matsuyama Kenichi. Film ini juga menampilkan bintang tamu Gene Simmons si pembetot bass grup KISS yang didapuk sebagai legenda death metal asal amerika.

[edit 23 Feb 2009]
Udah nonton. Ulasan khusus tentang versi film live action-nya bisa dibaca ditulisan ini

Yang dibawah ini adalah theme song DMC yang berjudul Satsugai (bunuh/bantai) yang dinyanyikan sendiri oleh Matsuyama Kenichi sebagai Johannes Krauser II.

Ponyo on the Cliff by the Sea – Ikan ingin jadi manusia

Judul asli: Gake no Ue no Ponyo
Sutradara: Hayao Miyazaki
Produksi: Studio Ghibli ( 2008 )
“Ponyo, Ningen ni naritai – Ponyo, kepengen jadi manusia”


Inilah film anime terbaru studio Ghibli karya ke sembilan sutradara animasi terkenal Jepang, Hayao Miyazaki. Setelah sukses secara komersial dengan karya sebelumnya Howl’s Moving Castle yang banyak mendapat kritikan, kali ini Miyazaki menampilkan sebuah kisah fantasi perjuangan seekor ikan mas kecil yang ingin menjadi manusia.

Seekor ikan mas yang terperangkap didalam botol bekas sampah di laut diselamatkan oleh Sosuke, seorang bocah berusia 5 tahun yang tinggal bersama ibu (tiri?)nya yang bernama Lisa (atau Risa). Oleh Sosuke, ikan mas itu diberi nama Ponyo (baca: Po-Nyo). Tanpa sengaja Ponyo merasakan darah manusia setelah menjilat luka di jari Sosuke. Setelah bergaul dengan Sosuke beberapa lama, timbul keinginan Ponyo untuk menjadi manusia. Ditunjang dengan magic yang dimilikinya dan darah manusia yang pernah dicicipinya, Ponyo mulai dapat menumbuhkan kaki dan tangan seperti manusia.

Tentu saja usaha Ponyo yang ingin menjadi manusia tidak berlangsung mulus begitu saja. Fujimoto, seorang mantan manusia yang telah berubah menjadi pemelihara kelestarian laut berusaha menghalanginya. Bagi Fujimoto, manusia tidak lebih dari makhluk menjijikan yang merusak kehidupan laut dan mengotori segala isinya dengan sampah.

Seperti karya-karya animasi sebelumnya, Miyazaki kali ini juga mengangkat isu lingkungan terutama laut dan habitatnya dalam film terbarunya ini. Miyazaki kembali ke gaya lamanya yaitu membuat anime fantasi bergaya cerita sederhana dengan banyak bahasa visual, seperti yang pernah dilakukan ketika membuat karya legendarisnya yaitu My Neighbor Totoro. Menurut kabar, Miyazaki turun tangan menggambar sendiri konsep gambar laut beserta ombaknya untuk menciptakan gaya lautan yang unik.

Dengan gaya cerita sederhana dan mudah dipahami seperti ini, Ponyo banyak menarik minat dari anak-anak kecil hingga orang dewasa untuk menontonnya. Walaupun ide ceritanya sederhana, makna mendalam dapat dirasakan oleh orang yang ingin memikirkan tentang konsep manusia itu sendiri. Lihatlah tokoh Fujimoto yang mantan manusia tetapi berbalik benci terhadap manusia. Juga tokoh-tokoh nenek tua yang tinggal dipanti jompo.

Sungguh tidak adil ketika beberapa kritikus barat yang membandingkan bahwa karya Miyazaki ini mencontek Little Mermaid. Bagi saya sendiri, hal ini sama saja dengan 7 not musik yang jika dibawakan dengan urutan dan irama berbeda dapat menghasilkan lagu berbeda. Saya pribadi memandang Little Mermaid lebih banyak bermain dalam cerita tentang romantisme percintaan manusia (hubungan pria-wanita).

Perbandingan dengan karya Hayao Miyazaki sebelumnya: Lebih bagus daripada Howl’s Moving Castle, setaraf dengan My Neighbor Totoro, tetapi sedikit masih dibawah Laputa: Castle in the Sky dan Spirited Away.

Rating: 4/5

Next Page »