
Cukup banyak film yang bercerita tentang orang tua dadakan yang setengah terpaksa mengurus anak kecil, dari awalnya ogah-ogahan sampai akhirnya lambat lain berubah menjadi sosok orang tua yang sesungguhnya. Lihat saja contohnya film Hollywood Three Men and a Baby beserta sequelnya, lalu di belahan benua asia juga ada Speedy Scandal (Korea). Biarpun temanya diulang-ulang beberapa kalipun, asalkan digarap dengan menarik tentunya film dengan cerita seperti ini bsa dijadikan film hiburan buat tontonan keluarga. Usagi Drop (kadang diterjemahkan menjadi Bunny Drop) sendiri merupakan film layar lebar hasil adaptasi manga berjudul sama karya Yumi Unita yang juga telah diangkat menjadi serial anime dengan judul yang sama pula. Aku sendiri belum membaca manga ataupun menonton anime Usagi Drop, sehingga review ini murni hanya berdasarkan tontonan film live action saja.
Tokoh utama film ini adalah Kawachi Daikichi (Ken’ichi Matsuyama), seorang salaryman bujangan berumur 30 tahun. Ketika menghadiri upacara pemakaman mendiang kakeknya yang baru saja meninggal dunia, Daikichi dikejutkan sosok anak perempuan berumur 6 tahun bernama Rin (Mana Ashida) yang disebut oleh anggota keluarga lainnya sebagai anak haram kakeknya. Berhubung tak ada yang bersedia mengasuh Rin, rembukan keluarga mempertimbangkan untuk menyerahkan Rin ke panti asuhan. Sebal dengan tingkah keluarganya, Daikichi spontan menawarkan untuk mengasuh Rin. Sejak itu kehidupan keseharian Daikichi mulai berubah dengan kehadiran Rin. Sebagai bujangan yang tak punya pengalaman mengurus anak kecil, tentu saja Daikichi kerepotan setengah mati walau dia gengsi mengeluh di depan ayah-ibu dan adik perempuannya. Dalam suatu kesempatan, Daikichi mendapatkan bantuan dan tips cara mengurus anak dari seorang janda muda Yukari (Karina), ibu dari Kouki teman Rin di tempat penitipan anak.
Komentar pertamaku tentang film ini: anak kecil yang bernama Mana Ashida itu benar-benar lucu, imut dan menggemaskan. Such an adorable kid yang saya pengen kalau saya punya anak perempuan
Mengejutkan juga melihat bagaimana Mana-chan yang tahun ini baru berumur 7 tahun mampu bermain lepas mengimbangi aktor kawakan seperti Ken’ichi Matsuyama. Gayanya berbicara, tawanya yang lepas, tatapan matanya yang penuh perasaan benar-benar mampu menyihir penonton untuk ikut tertawa dan bersedih dalam adegan yang melibatkan tokoh Rin. Akting Matsuyama dalam film ini kembali memukau setelah bermain kaku dalam Gantz, terlihat dari tatapan mata dan ekspresi kasih sayang Matsuyama ketika berhadapan dengan si kecil Mana-chan.
Chemistry antara Matsuyama dan Mana-chan benar-benar menjadi sajian utama film ini sekaligus menjadi kekuatan untuk menahan penonton tetap duduk menonton sampai selesai. Soalnya Sabu sang sutradara gagal dalam menghadirkan plot yang lebih nendang untuk memaksimalkan hubungan antara Daikichi dan Rin. Konflik yang melibatkan Daikichi dan Rin terlalu lurus dan mulus, kurang gejolak. Seandainya saja tokoh ibunya Rin ingin merebut anaknya kembali, tentunya akan membuat tarik ulur hubungan Daikichi dan Rin lebih menarik. Selain itu juga Sabu kurang lihay mengarahkan adegan yang seharusnya mampu membuat para penonton menangis sesunggukan. Bayangkan saja, ketika Rin hilang dari tempat penitipan anak, seluruh kenalan Daikichi termasuk rekan kerjanya ikutan berhamburan lari ke jalan untuk mencari Rin. Lebay dan sinetron banget.
Akhir kata, aku tidak menyesal nonton film ini setelah menunda-nunda 3 minggu sejak hari rilis pertamanya. Sudah tiga minggu diputar, belum turun layar dan jumlah penonton masih cukup banyak (sekitar 15 orang) ikut nonton bersamaku, membuat film ini mendapatkan pendapatan yang lumayan. Film ini bolehlah kurekomendasikan untuk tontonan keluarga di hari libur ataupun bagi anda yang single. Siapa tahu setelah melihat si imut Mana Ashida, anda yang single jadi pengen cepat menikah dan punya anak seperti Ashida
Rating
Sutradara: 2.5/5
Cerita: 3/5
Akting: 4/5
Total Rating: 3.25/5



Wah, ini serial anime-nya masih tayang.
@Asop
Iya. Aku lagi nyari serial animenya. Pengen nonton gara2 liat film live actionnya ini.
sutradaranya ikutan di rating juga, ya ? he.. he..
saia juga senang dengan thema2 seperti ini.. meski terkadang beberapa film ttg thema ini terkesan digarap asal2an hingga hasilnya malah gak begitu memuaskan…
@Putri
Habis sebel sih, ada raw material bagus begini tapi sutradaranya gak bisa memanfaatkan semaksimal mungkin.
Film ini gak asal-asalan loh, malah kata banyak media digarap dengan serius. cuma sutradaranya aja yg emang kurang tokcer
Keseringan maen di blog yang sana sampai lupa kalo akarnya saya tuh justru di blog yang ini…
First, belum baca apapun, liat gambarnya dibawah judul saja tu cewek kecil senyumnya langsung nyita perhatian bangeeeeeettt!
Second, begitu tau Daikichi usia 30, kok langsung terbayang diri sendiri..

Saya lebih jago ngurusi orang dewasa & permasalahannya ketimbang anak kecil yang sejujurnya saya rada alergi, apalagi anak2 kecil yang jadi tetanggaku berisik banget semua. Tapi kalo dapet satu yang manis kek gini pengen nyoba juga ngasuh beberapa waktu…
*mendadak pedofil..*@jensen99
Hehehe…. ga papa masbro, toh blog yang satu lagi belum ada apdetan baru.
Betul, karena saya juga mengalami hal yg sama
. Koq saya jadi kepikir kalau jadi single parent dadakan kayak Daikichi, apa bakalan bisa mulus gak yah?
seperti kata Grace, anak kecil hingga umur 2 tahun itu lucu, 3-4 tahun monster cebol, diatas lima tahun tergantung didikan ortunya. tetangga jensen kayaknya gak bener tuh didik anak
Jangan beberapa waktu lah, hayo bikin satu buat proyek percontohan
sepertinya film yang menarik, saya selalu suka film yang melibatkan anak kecil
Memang sudah waktunya kalian nikah…
@Zeph
Lolicon?
Huaaccchhiiiii….
*bersin-bersin*
asuh mana chan yg ada d rmhku aj mas…. hehe… kutitip sehari selama aq sm mas iwan second honeymoon…. hihihi….
@karu2606
Itu anak baptis-ku koq dititip2in melulu sih, kasihan sama mana-chan.. lama-lama dititip di penggadaian ntar
Jadi inget adegan obrolan Daikichi dgn orang tua lainnya termasuk Yukari soal pengorbanan orang tua** demi anak…. “waktu anak adalah waktu orang tua”
NB** pengorbanan termasuk mengorbankan waktu luang termasuk jalan2 bareng suami, nonton konser dan jalan2 bareng teman, dll
masih kalah nendang ama kisah ayah – anak bikinan holywood yah.. sutradaranya dibyar kecil jg gak optimal..
@gogo
Nggak juga lah. Film Hollywood ttg ayah-anak yang lebih jelek juga banyak koq, tergantung film apa dulu.
Soal bayaran sutradara saya sih gak tau, tapi sutradara yang dibayar kecil belum tentu menghasilkan karya yang tidak optimal.
download filmnya dimana sih???
@John Titor
Gue nonton di bioskop
Boleh tau bioskop mana? Bioskop Indonesia? Atau bioskop Jepang?
@raburerace
bioskop jepang
kakak ada link downloadnya gak kalo liat dari animenya bagus butuh live actionnya kakak pleasee pengen banget nonton film ini kak
wah, ada juga nih review dalam bahasa indonesia.. asik~
saya nunggu banget film ini dari tahun lalu.. *maklum fansnya Matsuyama kenichi ;p
saya juga nonton anime nya krn tau mau dibikin live actionnya.
pas nonton animenya sih emg ngerasa “kayaknya emg cocok klo matsuken dan mana-chan yg main”
terima kasih atas review nya~
*semoga cepat beredar donlotannya
@Reqy
belum keluar DVD originalnya, jadi belum ada yg ngembajak
@whida
emang kekuatan filmnya ada di chemistry antara Matsuyama dan Mana-chan sih, eksekusi sutradaranya malah bikin keseluruhannya kurang mantap.
Udah lama gak berkunjung ke blog ini, baru tau udah ada film Matsuken yang baru, heheh.
Jujur saya sangat suka dengan kemampuan akting-nya, semoga film ini lebih bagus daripada ekspektasi saya terhadap Norwegian Wood.
kalo mau download dimana..? bisa ngasih tahu, kalo gak di bioskop masih gak..?
Wah rilis dvd/bluraynya lama bngt, ampe skrng blm.
Tonton anime’a aja gan, bagus. Eksekusi pas apalgi perubahan rin yg pndiam jd terbuka n ceria. Ending animenya jg bagus(rin di adopsi).
Spoiler
mending jngan liat manganya. Endingnya kacau, apa gara2 yg buat manganya cewe jd ending’a gini.
@Abdul Basith sentimentai
Saya udah nonton anime dan baca manga-nya sampai habis. Saya setuju dengan anda, ending animenya bagus, ending manga-nya menyebalkan. Syukurlah anime-nya dihabiskan satu season, gak perlu lanjut lagi ngikutin ending manga.
Sorry spoilernya saya edit, untuk menghargai yang belum nonton anime ataupun baca manga (walau nyebelin).