Royal Tramp 2008

Judul lain: The Duke of Mount Deer, Lu Ding Ji, Pangeran Menjangan.
Produser: Zhang Jizhong
Pemain: Huang Xiaoming, Wallace Chung
Jumlah seri: 45 episode (Hongkong cutted version), 50 episode (versi RRC)

“It does not matter whether a cat is black or white. A cat that catches mice is a good cat.”(quoted from Deng Xiaoping)

royaltrampNovel wuxia alias cerita silat (cersil) yang diadaptasi menjadi serial ini merupakan novel terbaik karya Jin Yong menurut versiku. Bagaimana tidak? intrik, plot cerita dan terutama penokohan sangatlah unik bila dibandingkan dengan cersil karya Jin Yong maupun penulis terkenal lainnya seperti Gu Long, Liang Yusheng, Wen Ruian dkk. Bagi anda yang gemar membaca cersil karya penulis China seperti kawanan diatas maupun penulis lokal seperti Kho Ping Hoo, tentu akan mendapatkan ciri-ciri tokoh utama yang hampir pasti mirip. Lihatlah tokoh Guo Jing (Legend of Condor Heroes), Li Mubai (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Chen Jialuo (Holy Book and Sword) yang punya karakter pendekar sejati dan berbudi luhur alias orang gagah didunia persilatan. Atau karakter jago silat tangguh tanpa tanding seperti Yang Guo (Return of the Condor Heroes), Zhang Wuji (Heaven Sword and Dragon Sabre), maupun Li Xunhuan si pisau terbang (Flying Dagger series) akan terpatri dibenak anda sebagai tipe jagoan utama cersil yang sudah lazim. Tokoh pintar, licik penuh tipu muslihat biasanya diasosiasikan dengan musuh besar sang jagoan seperti halnya tokoh Yang Kang (musuh dalam selimut sekaligus saudara angkat Guo Jing dalam Legend of Condor Heroes) sampai Seng Kun (si licik dalam Heaven Sword and Dragon Sabre).

Dalam cersil ini, tokoh utama justru ditampilkan berkebalikan dengan ciri khas tokoh utama cersil seperti biasa, malah cenderung satu tipe dengan sifat musuh besar jagoan. Anda akan mendapatkan sang protogonis Wei Xiaobao yang pemalas, serakah, licik, tukang main perempuan, hobi judi, bermulut manis, tukang sogok, penuh dengan tipu muslihat. Sampai-sampai kategori khas jagoan utama yang jago silat pun tak dimiliki olehnya karena Wei Xiaobao sama sekali tak berbakat belajar ilmu silat. Satu-satunya kemampuan bela diri yang dimilikinya hanyalah ilmu melarikan diri. Dengan plot yang terbalik dibandingkan apa yang biasanya kita dapatkan dalam cersil, parodi dunia nyata dengan karakter yang abu-abu justru membuatku jatuh cinta serta menempatkan cersil ini sebagai the best wuxia novel that I ever read.

Plot cerita
Setting cerita dimulai dari jaman dinasti Qing, ketika suku bangsa Manchu menguasai daratan China. Wei Xiaobao, anak pelacur tanpa ayah yang jelas dari rumah bordil di Yangzhao, merantau ke kota raja Beijing ketika masih kecil dan masuk ke kota terlarang tempat tinggal kaisar sebagai kasim gadungan. Tanpa sengaja Xiaobao bertemu dengan kaisar Kangxi yang seusia dengannya dan Xiaobao yang tak tahu menahu dengan status sang kaisar cilik, berteman sebagai mana layaknya anak kecil lainnya. Cerita terus berlajut dengan Xiaobao sadar dengan status sahabat karibnya dan kondisi Wei Xiaobao pun berubah menjadi bawahan kepercayaan kaisar Kangxi.

Dilain cerita, Wei Xiaobao bertemu dengan kelompok anti-Manchu Tiandihui dan menjadi murid tunggal ketuanya Chen Jinnan, malah kemudian menjadi ketua cabang Tiandihui. Sejak itu Xiaobao menjalankan perannya sebagai agen ganda yaitu bawahan yang loyal bagi teman karibnya kaisar Manchu Kangxi sekaligus mata-mata dalam istana bagi Tiandihui. Dengan akal liciknya, mulut manis, tipu daya serta keberuntungannya yang besar, Xiaobao mampu menyelesaikan berbagai tugas berat yang diembankan oleh kaisar Kangxi dengan sukses sekaligus dilain pihak menyelamatkan para anggota Tiandihui dari kejaran pasukan kerajaan Manchu. Dalam petualangannya, Wei Xiaobao yang playboy berhasil memperistri 7 wanita cantik dengan akal bulusnya dan memperoleh 3 anak.

Akhirnya kaisar Kangxi mengetahui status Xiaobao dalam Tiandihui dan memaksa Xiaobao memilih antara dirinya sebagai teman atau Tiandihui. Satu-satunya karakter Wei Xiaobao yang baik dan menjadi kelemahannya adalah loyalitas. Xiaobao ingin sekali bisa loyal terhadap Kangxi sekaligus loyal kepada gurunya Chen Jinnan yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dan itu pula yang menyebabkan Xiaobao rela menjadi agen ganda. Xiaobao akhirnya sadar kalau dinasti Qing yang notabene bangsa Manchu dan Tiandihui yang ingin mengembalikan kekuasaan China ditangan suku bangsa Han tak bisa disatukan bagaikan air dan api.

wxbwives_bed
Wei Xiaobao dan 7 istri cantiknya

Sebenarnya novel wuxia ini sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar maupun serial TV. Yang terkenal diantaranya adalah film layar lebar Royal Tramp dengan Stephen Chow sebagai Wei Xiaobao dan serial TV The Duke of Mount Deer versi tahun 1984 dengan Tony Leung sebagai Xiaobao dan Andy Lau sebagai kaisar Kangxi (pernah disiarkan Indosiar dengan judul Pangeran Menjangan). Seperti juga halnya dengan cersilnya, produser Zhang Jizhong menggarap serial ini dengan penekanan pada tipu muslihat Xiaobao dan intrik yang melingkupinya, sehingga adegan laga tidak terlalu banyak dan malah boleh dikatakan kurang seru. Dalam beberapa hal versi 2008 ini memiliki irama penceritaan yang sama dengan versi 1984-nya Tony Leung-Andy Lau yang lebih berfokus pada hubungan persahabatan aneh antara kaisar Kangxi dengan Wei Xiaobao. Yang patut disayangkan, petualangan Xiaobao di Rusia dengan putri Sophia justru hanya diberikan berupa potongan kecil. Padahal kalau porsinya diperbesar dengan mengurangi beberapa adegan konyol yang tak penting tentu menambah daya tarik serial ini.

HeZhuoYan081Kelebihan serial ini tentu sudah bisa ditebak, yaitu kasting aktris pemeran 7 istri Xiaobao semuanya cakep dengan ciri khas masing-masing. Ada yang cakep judes, cakep anggun, cakep matang, cakep innocent, cakep imut, semuanya ada. Walaupun demikian karakter favorite ku tetaplah pemeran Shuang-erl (He Zhuoyan) yang cakep imut. :mrgreen: Selain itu juga desain kostum, sinematografi serta set dekorasi nya yang memukau patut mendapat pujian karena detailnya. Musical score nya juga lumayan memikat. Mungkin yang agak mengganggu adalah akting beberapa pemeran utamanya. Huang Xiaoming yang berperan sebagai Wei Xiaobao agak kaku pada awalnya, tetapi menjelang pertengahan terlihat dia sudah bisa menghayati karakter Wei Xiaobao. Wallace Chung sendiri terlihat kurang berwibawa dalam membawakan peran Kangxi. Justru yang mencuri perhatian adalah dua aktor cilik yang memerankan Xiaobao dan kaisar Kangxi kecil.

Salah satu isu yang dicoba untuk diangkat oleh Jin Yong dalam cersil karyanya yang terakhir ini adalah patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas. Kebanyakan cersil (termasuk karya Jin Yong sebelumnya) memposisikan suku bangsa Manchu sebagai penjajah suku mayoritas Han di daratan China. Berdasarkan sejarah China yang tercatat, Kangxi termasuk salah satu kaisar yang berhasil memerintah China dengan sukses dan membuat rakyatnya aman makmur sentosa hingga jaman cucunya kaisar Qianlong (Kangxi merancang banyak pembangunan hingga diantaranya masih berlanjut sampai jaman cucunya memerintah). Walaupun ayah Kangxi seorang kaisar Manchu, ibunya berasal dari campuran suku bangsa Han bermarga Tong. Akan tetapi tetap saja hal ini belum memuaskan para pemberontak anti-Qing.

Sebetulnya kondisi Indonesia cukup mirip dengan China, yaitu memiliki banyak suku yang tersebar di seluruh negeri. Sadarkah anda kalau sejak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia hampir selalu dipimpin oleh presiden dari suku mayoritas? Mungkin posisi Sukarno mirip dengan kaisar Kangxi yang ibunya masih turunan suku berbeda. Pernah ayahku bercerita ketika beliau masih sekolah di kota Yogyakarta awal tahun 1960-an, banyak orang Jawa yang mengatakan Mohammad Hatta sebagai tukang nebeng Sukarno :lol: . Padahal menurutku yang pernah membaca beberapa karya tulis duo proklamator itu, isi pikiran Hatta jauh lebih rasional, maju dan rapi perencanaannya dibandingkan dengan kolega proklamatornya. Jaman sekarang juga masih banyak yang mengkampanyekan pemimpin yang putra daerah, alias turunan suku mayoritas (jadi ingat jaman kampanye Habibie yang mengklaim dirinya masih turunan bangsawan Jawa). Bagaimana dengan anda sendiri? Setujukah anda jika misalnya Indonesia dipimpin oleh orang yang asli suku Dayak, Asmat atau suku minoritas lainnya? Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

Kutipan Deng Xiaoping tentang kucing diatas dijadikan opini Wei Xiaobao pada akhir novel untuk mengungkapkan visi Jin Yong tentang kepemimpinan.

Relevansi Sejarah
Dalam petualangannya Wei Xiaobao banyak bertemu dengan tokoh yang akan berperan dalam sejarah dinasti Qing, khususnya pada masa pemerintahan kaisar Kangxi. Diantaranya yang sangat terkenal adalah:

Oboi, jenderal Manchu yang berkuasa mewakili Kangxi yang masih kecil dan membuat Kangxi menjadi kaisar boneka. Xiaobao membunuhnya untuk membantu Kangxi meraih kekuasaannya secara mutlak.
Wu Sangui, mantan jenderal dinasti Ming yang berkhianat dan berencana memberontak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan dinasti Qing. Xiaobao membantu Kangxi dengan cara mengadu domba antar rekan Wu Sangui, sehingga kekuatan militer Wu Sangui menjadi lemah.
Chen Yuanyuan, wanita paling cantik seantero China pada jamannya dan menjadi ibu salah satu istri Xiaobao.
Li Zhicheng, pemberontak yang meruntuhkan dinasti Ming dan mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, walaupun akhirnya harus turun tahta dengan cepat karena dikalahkan oleh bangsa Manchu.
Putri Changping, putri kaisar terakhir dinasti Ming yang menjadi guru salah satu istri Xiaobao dan Xiaobao sendiri.
Shi Lang, Laksamana yang menghancurkan sisa-sisa kekuasaan jenderal dinasti Ming di Taiwan. Shi Lang yang namanya kurang dikenal direkomendasikan oleh Xiaobao kepada kaisar Kangxi dan memimpin angkatan laut Manchu dalam menaklukkan Taiwan.
Zheng Keshuang, raja terakhir kerajaan Tungning turunan jenderal dinasti Ming (Koxinga) penguasa Taiwan.
Putri Sophia, anak perempuan Tsar Russia yang dibantu oleh Xiaobao mengkudeta saudara tirinya Peter I.

About these ads

12 Responses to “Royal Tramp 2008”


  1. 1 Zephyr September 24, 2009 at 5:43 am

    Kalau yang versi wei xiaobao-nya Stephen Chow saya sudah beberapa kali liat (maklum, fansnya stephen chow :) ) kalau yang serial, hanya beberapa episode saja, sementara novel? Masih belum tertarik.

  2. 2 Zephyr September 24, 2009 at 5:52 am

    Mengenai pemimpin di Indonesia, bisa saja berasal dari suku (minoritas) mana saja, asal bener-bener mampu dan mumpuni, bukankah negara kita (konon) menganut paham demokrasi? yang masih berbau jawasentris?. Pertanyaan yang kurang lebih serupa adalah : Apakah seorang non muslim bisa menjadi presiden di Indonesia? Hmm.. Dari sisi demokrasi, siapapun berkesempatan jadi presiden. Namun dari segi “budaya”, sebagian besar masyarakat Indonesia, masih sulit dan belum bisa menerima.

    • 3 Ando-kun September 24, 2009 at 6:56 am

      @Zephyr #1
      Novelnya jauh lebih menarik dibandingkan filmnya, soalnya banyak hal-hal yang tertulis sulit dituangkan kedalam adegan film.
      Karena itu pula, sulit menjadikan film adaptasi yg sama bagusnya dgn novelnya sendiri, apalagi melebihi….
      Baca dong!!!!
      *ngerayu mode: ON*

      tapi emang yg versi Stephen Chow itu ngaco banget, bikin ngakak sampai perut mules

      @Zephyr #2
      Untuk mencapai kondisi dimana suku minoritas dapat diterima oleh mayoritas untuk memimpin dinegara ini saja sepertinya masih cukup panjang perjalanan politik negara kita. Apalagi isu agama yang diangkat? Wong soal perempuan boleh jadi pemimpin aja masih diributin waktu Mega naik jadi presiden, belum lagi pola pikir orang Indonesia yang masih kental dengan primordialisme. Temanku pernah sedikit membahasnya disini dengan perbandingan Obama. Butuh berapa tahun USA memiliki presiden berkulit hitam (maksudnya semi-hitam)? Aku tak bisa membayangkan Obama menang konvensi lawan Hillary Clinton, jika misalnya Obama beragama Islam? Apalagi maju ke PEMILU presiden USA.

      Kembali ke masalah suku, mengingat demokrasi adalah sistem yang memenangkan pendapat mayoritas. Jika seluruh suku Jawa bersatu memilih orang Jawa sebagai pemimpin negara, apa daya suku yang lain (kecuali mereka semua kompak bersatu suara memilih lawan politiknya yang non-Jawa). Bukannya ingin mengusung semangat nihilisme, tapi sepertinya masih sulit (walau tak sesulit di RRC sana menurut bang Jensen). Setidaknya masih ada harapan untuk menuju arah kesana kalau mengacu pada PEMILU belakangan ini. Soal kualitas, kita bisa menilainya sendiri dengan pendapat masing-masing.

  3. 4 jensen99 September 24, 2009 at 6:12 am

    Err… saya belum pernah baca The Duke of Mount Deer sama sekali :(
    BTW, kenapa versi Hongkong berkurang 5 episode dari versi Beijing? Apa yang disunat dari drama ginian? :?

    BTT:

    patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas.

    Kalau ditanya patut sih pasti patut, tapi pertanyaanya, akankah itu terjadi? :|
    Sebelum balik ke RI, coba liat lagi China sekarang. AFAIK suku Han jumlahnya dah 90% (suku Jawa yang mayoritas di RI saja cuma 46% CMIIW), suku Manchu cuma 1%. Sepertinya nasib suku minoritas di China lebih gak enak deh… :P
    Baidewei, berhubung suku2 minoritas di RI banyak yang mendiami pulau dan wilayah yang terpisah jauh dari konsentrasi suku mayoritas, tak ada salahnya mereka diberi kesempatan mendirikan negara sendiri, supaya berkesempatan jadi presiden juga. :twisted:

    Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

    Maksudnya? Kalau tingkat Propinsi, AFAIK semua propinsi di RI dah dipimpin oleh putra daerah masing2 deh. Kalau ada suku2 yang gak kebagian jadi gubernur atau bupati, tinggal minta pemekaran wilayah saja ke pusat. :lol:

    • 5 Ando-kun September 24, 2009 at 7:33 am

      @jensen
      Baca komik manhua aja kayak Arm. Tapi yang bikin si pelukis otot super steroid Tony Wong dan terbit di Indonesia dengan judul Pangeran Menjangan.
      Aku nonton yg versi RRC, jadi gak tau bagian apa aja yang dipotong. Lagian udah jamak motong2 film untuk menyesuaikan dengan waktu tayang demi nambahin slot iklan :twisted:.

      Sepertinya nasib suku minoritas di China lebih gak enak deh…

      Jadi inget sama postingannya lambrtz :mrgreen:

      ……mendirikan negara sendiri, supaya berkesempatan jadi presiden juga.

      Bukannya udah pernah ada tuh presiden? Yang ada malah digebuk balik.

      semua propinsi di RI dah dipimpin oleh putra daerah masing2 deh……

      Nah, itu dia. Maksudnya gimana kalau pemimpin propinsi bukan putra daerah. Karena ingin agar dipimpin oleh putra daerah sendiri, banyak tuh yang rame-rame minta pemekaran wilayah.
      Jadi terbayang yang memimpin Papua justru orang bule dari Freeport :twisted:
      O iya, kadang2 bingung juga dengan definisi pribumi itu apa. Waktu dulu tinggal sebentar di Tangerang, orang2 pribumi di sana ribut dengan kelompok pendatang. Yang dibilang pribumi katanya asli Tangerang, dan pendatangnya kebanyakan dari Serang. Bukannya dua2nya suku Sunda?
      Eh… di Papua ada juga gak yang beginian? Abis beberapa kali baca berita perang antar suku disana.
      Bingung aahhh….. :roll:

  4. 6 Guh September 24, 2009 at 7:33 am

    Kenapa tidak?

    Seorang pemimpin dari bangsa se plural Indonesia harusnya melepas semua jubah yang dia pakai sebelum jadi pemimpin bangsa, dia harus buka jubah agama, jubah partai, jubah suku, semua jubah sampai jubah keluarga juga harus dilepas.

    Dia harus cukup telanjang agar bisa akuntabel dan dapat melayani seluruh rakyat yang berbeda latar belakang demi kebahagiaan sebanyak-banyaknya mahluk.

    Muluk. Tapi sejauh yang saya terpikir sih idealnya gitu.

  5. 7 Arm September 28, 2009 at 5:49 am

    Sepertinya menarik, dan mungkin saya berencana nyari bukunya buat dipinjem di rentalan :D

    karakter tokoh utama yg konyol, geblek, dan ga jago kungfu emang lebih menarik dan membumi IMO ^^
    lha Linghu Chong dari Smiling Proud Wanderer aja aslinya ngga jago2 amat kan ^^

    mengenai putra daerah, saya malah jadi keinget aturan 5-6-nya UEFA ^^
    buat saya sih ga masalah mo pemimpin dari mana, yang penting dia emang mampu menjalankan tugasnya dengan baik dan menjaga kepentingan semua pihak di daerahnya :)

    baca2 tokoh sejarah yg nongol, jadi pengen main AoE III Asian Dynasties lagi yang ada Kangxi-nya :mrgreen:

    • 8 Ando-kun September 28, 2009 at 7:03 am

      @Guh
      Muluk tetapi ideal. Memang benar pendapat masbro. Sayangnya jubah yang dipakai para pemimpin termasuk mahal dan sangat berharga sehingga banyak diantaranya yang enggan melepas. :| Tugas kita sebagai rakyatlah yang harus memilih pemimpin yang punya kemauan untuk melepas jubah tersebut.
      Tapi untuk saat ini sepertinya pola pikir sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum bisa melakukan tugas rakyat diatas. Usaha dan usaha, itu saja yang bisa kita lakukan sekarang.

      @Arm
      Hehehe… semoga terjangkit ke novel2 wuxia yang lain :mrgreen:

      btw, tokoh utamanya itu nggak geblek koq, terlalu pinter malah sampai menjurus ke licik. Gaya konyol nya juga lebih untuk menarik perhatian cewek2 yang dia suka. :twisted:
      Dan Linghu Chong menurutku termasuk paling jago jika dibanding seluruh murid angkatan kedua partai pedang 5 gunung alias diantara jagoan mudanya.

      Sebenarnya isu ini dapat dilihat dari berbagai media yang tersebar dimana-mana, seperti film seri atau novel The Duke of Mount Deer ini misalnya, atau bisa juga dari dunia sepak bola dengan peraturan 5-6 UEFA. Kondisi ideal dan pelaksanaan terkadang masih sulit berjalan beriringan.

      *ngiri mode* aku udah susah main game yg butuh waktu kayak AoE, selamat bersenang-senang. m(_ _)m

  6. 9 Ali Sastroamidjojo September 28, 2009 at 12:29 pm

    *teringatperempuan2difilmputrihuanzu*

  7. 11 Kurotsuchi October 3, 2009 at 3:01 am

    kisah si pangeran menjangan? dulu pernah tau… lagunya lumayan buat selera saya waktu itu :mrgreen:, meski filemnya buat saya masih di bawahnya Yoko sama Cheung Mo Gei :mrgreen:

    *liat gambar nomer 2*
    hareem!!

    *liat gambar nomer 3*

    IMO, tiap-tiap daerah lebih suka mengangkat pemimpin dari orang sendiri, terkait dengan kepercayaan bahwa orang lokal lebih bisa mengerti apa yang mereka mau dan apa yang mereka harapkan.

    pemimpin dari kaum minor itu ga masalah, asalkan mereka bisa menghilangkan sisi ‘minoritas’ mereka dan mampu menangani kompleksitas dari meyoritas yang ada.

    • 12 Ando-kun October 8, 2009 at 6:03 pm

      @Kurotsuchi
      Sorry, ketinggalan di jawab :mrgreen:
      Hmmm, film serial Yoko dan Cheung Mo Gei sendiri ada banyak versi, walaupun versi Yoko paling ngetop di Indonesia adalah versi Andy Lau dan Tony Leung.

      Yoko= pendekar romantis yg setia cuma pada satu cewek.
      Cheung Mo Gei= pendekar bingung susah menetapkan mana cewek yang paling dicintainya.
      Wei Xiaobao= bukan pendekar, bukan cowok setia, dan menetapkan cintanya untuk semua cewek cakep :lol:

      Kalau liat suka dan tidak suka, kayaknya Kurotsuchi termasuk cowok tipe Yoko dan Cheung nih :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 354 other followers

%d bloggers like this: