Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5

About these ads

7 Responses to “Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat”


  1. 1 oni July 6, 2009 at 4:46 am

    an, salah satu hal yang membuat film kungfu gak bosen ditonton kan cewek cakepnya. nah di film ini gimana?
    ————————
    @Oni
    Xu Qing yang jadi Ren Yingying cakep bikin kesengsem. Apalagi pas adegan dia lagi ngambek bikin gemes. Cewek yg lain sih menurutku biasa aja. Chen Lifeng yg didapuk jadi biarawati sebenarnya cakep, sayang dimake-up kepala plontos.

  2. 2 Arm July 7, 2009 at 8:19 am

    ahh.. ada serialnya toh :P
    saya baru baca komiknya aja sih, yg versi Lee Chi Ching :P

    … adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan.

    adegan pengebirian kalo ngga salah ada 3 kali di cersil ini ya :roll:
    Dongfang Bubai, pendekar pemetik bunga temen Linghu Chong (meskipun dipaksa), ama Lin Pingzhi ya? :P
    lagian kitab itu kan buatan kasim, jadi emang ditujukan untuk kasim yg emang “bakso”nya udah dihilangin :lol:

    tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya.

    tsundere!!! :D ehehehe… :P
    saya juga ga tahan ama adegan pas mereka jatuh ke tebing sungai itu, meskipun cuma baca di komik :P

    hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

    konon kabarnya kalo di adegan film kungfu itu, terutama yg main keroyokan (1 ato 2 lawan banyak), itu yg bener2 berantem cuma 2-3 orang, lainnya cuma menari-nari ga jelas di sekelilingnya :P
    ————————–
    @Arm Locianpwe
    Sebenarnya ada 4, walaupun nggak terlalu dijelaskan. Dongfang Bubai udah mendekati tingkat “bencong sempurna” ketika cerita berlangsung sehingga adegan pengebiriannya cuma disinggung sama Ren Woxing doang. Yang diceritakan jelas dan diakui oleh pelakunya cuma Lin Pingzhi. Sedangkan Yue Buqun nggak ngomong apa2 saking munafiknya walaupun akhirnya dibongkar rahasia kekurang jantanannya oleh Pingzhi. Tian Bo Guang dikebiri atau tidak, dlm novelnya malah tidak jelas walaupun biksu yang maksa jadi gurunya ngomong secara ngolok-ngolok soal itu. Di filmnya sendiri juga nggak divisualisasikan koq, kecuali kalau mau kena kebiri sama pemerintah RRC :evil:

    Mengenai asal usul Kui Hoa Baodian alias kitab bunga matahari yang didalamnya mewajibkan kebiri sebagai awal menguasai ilmu sakti, tidak ada penjelasan pasti. Kabarnya sih, itu kitab hasil usaha sepasang suami istri sakti yang akhirnya mati sampyuh bersitegang satu sama lain soal ilmu kesaktian. Itu juga cuma rumor yang diceritakan oleh kepala biara shaolin dlm cersilnya. Tapi nggak ada hubungan dgn kasim koq, soalnya maksud pengebirian supaya konsentrasi sang pendekar tidak pecah pada hal lain seperti nafsu, tp tetap fokus pada usaha mempertinggi ilmu. Itu juga cuma dugaan tokoh Ren Woxing dlm cersil.

    Soal Ren Yingying dlm serial ini, Qu Xing emang menggemaskan. Pas banget dia mainin karakter Yingying :lol:

    Film kungfu jaman kuno emang gitu koq, mereka menari-nari bagaikan laron mendekati api nunggu giliran minta digebuk sama jagoannya :)
    Hal ini dikritik sama Jackie Chan pada tahun 1980-an akhir, dan oleh Jackie Chan diperbaiki karena menurutnya nggak ada orang ngeroyok kayak begituan dlm realitas. Liat aja adegan pengeroyokan pas film2 Jackie Chan tahun 1990-an, jagoannya asli dikerubuti rame2 tanpa ada musuh yg nganggur menari disekitar Jackie Chan. Kalau liat koreografi laga kungfu jaman skrg sih, adegan pengeroyok menari sudah mulai ditinggalkan sebagaimana halnya omongan basa basi, ” Your Kungfu is very good!” atau , “You kill my father! I must kill you!” wakakakak :lol: :lol:

  3. 3 Buaya Film July 8, 2009 at 3:08 pm

    Salam kenal..
    Senang sekali bisa mengenal blog anda, bisa dijadikan referensi buat nonton serial silat mandarin dan film jepang.
    Btw, udah di backlink kembali.. Thanks
    ———————–
    @Buaya Film
    Terima kasih udah ngasih ijin nge-link. Saya lebih suka meresensi film yang jarang di review orang lain doang koq.

  4. 4 Putri July 11, 2009 at 5:07 am

    postingannya panjang banget…

    Kok rada beda ama swordsman yang versi FILM, ya ?

    btw..putri malah seru baca komen ARM vs mas Yus…he..he..
    ———————–
    @Putri
    Memang versi film melenceng jauh dari buku. tokoh Dongfang Bubai malah jadi tokoh utama, sedangkan dalam cersil kehadirannya hanya memakan 40-50-an halaman doang, itu juga udah ditambah dengan dialog orang lain yg melibatkan namanya.

    Hehehe…. mbak putri bisa aja. Debat bagi yang pengen tau justru lbh banyak seru dan berguna, daripada debat cuma kepengen cari menang.

  5. 5 Arm July 11, 2009 at 12:17 pm

    Tapi nggak ada hubungan dgn kasim koq, soalnya maksud pengebirian supaya konsentrasi sang pendekar tidak pecah pada hal lain seperti nafsu, tp tetap fokus pada usaha mempertinggi ilmu. Itu juga cuma dugaan tokoh Ren Woxing dlm cersil.

    hoo.. tapi yang saya baca di komik ya itu emang ilmu ciptaan kasim jaman Dinasti Tang :?
    dan lagi IMO lebih masuk akal kalau memang demikian, soalnya kalo hanya untuk “menahan hawa nafsu” tidak perlu sampai seekstrim itu (kecuali buat Tian Bo Guang ya? :P)
    atau jangan2 locianpwe Ando merasa perlu menguasai ilmu ini karena nafsunya terlalu besar? :twisted:
    [j/k]

    @ mbak Putri : :shock:

    btw..putri malah seru baca komen ARM vs mas Yus…he..he..

    lebih seru baca komen tentang pengebirian? :P
    btw, kalau2 mbak tertarik dengan kasim ^^
    ——————————-
    @Arm
    Kalau tertarik mau baca cersilnya versi pdf, silahkan diunduh lewat link ini
    o iya, kitab bunga matahari tadinya jadi pusaka shaolin lho sebelum akhirnya dicuri dan jadi perebutan. :lol:

    *kebayang pendeta shaolin dikebiri jadi kasim*

    btw, gw lebih tertarik belajar ilmu pelet drpd kitab bunga matahari. jauh lbh berguna tuh wakakak

    *mewariskan Kui Hoa Baodian kepada Arm*

  6. 6 Bayu Probo July 14, 2009 at 1:12 am

    mantap-mantap
    ———————
    @Bayu Probo
    tengkyu… tengkyu….

  7. 7 Budaya Pop July 14, 2009 at 1:14 am

    Membuat setting cerita masih bisa dikomparasikan dengan kehidupan modern. Ini adalah ide brilian yang penerapannya perlu kecerdasan tinggi. Politik, cinta, dan kekerasan adalah topik yang selalu dinanti penonton.
    —————————
    @Budaya Pop
    Anda betul. Ada satu lagi pengarang novel silat yang bernama Gu Long (Khu Lung) yang memasukkan plot cerita detektif dan spionase model James Bond kedalam literatur cerita silat. Jin Yong dan Gu Long adalah pengarang cerita silat unik yang melegenda.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 354 other followers

%d bloggers like this: