Judul asli: K-20: 怪人二十面相・伝 (K-20: Legenda si misterius berwajah 20)
Produksi: Toho dan NTV ( 2008 )
Genre: Mystery, Adventure, Fantasy
Sutradara: Shimako Sato
Pemain: Kaneshiro Takeshi, Matsu Takako, Nakamura Toru
Mungkin tidak terlalu banyak penggemar cerita detektif yang mengenal pengarang novel cerita misteri asal Jepang yang bernama Edogawa Ranpo. Di Jepang sendiri nama Edogawa dikenal lewat tokoh detektif fiktif rekaannya Kogoro Akechi, yang banyak dipengaruhi oleh tokoh detektif Sherlock Holmes ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Dalam cerita yang melibatkan tokoh Kogoro Akechi, salah satu rival berat sang detektif adalah si maling bermuka 20 alias Kaijin nijuu mensou (si misterius dengan 20 wajah). Film yang diangkat dari novel misteri karya Kitamura Sou ini menampilkan tokoh-tokoh ciptaan Edogawa Ranpo termasuk side-kick Kogoro Akechi, Kobayashi Yoshio dan geng detektif ciliknya (Shounen Tantei Dan). Bagi penggemar manga dan anime Detective Conan, tentu merasa familiar dengan banyak hal. Ya, memang Aoyama Gosho menciptakan Detective Conan berdasarkan karya dan tokoh ciptaan Edogawa Ranpo. Bisa dilihat dari pemilihan nama Edogawa Conan (nama Edogawa), Kogoro Mouri (berdasarkan nama Kogoro Akechi) hingga tokoh maling misterius Kaito Kid (berdasarkan Kaijin 20 Mensou).
Cerita film ini berlangsung pada dunia alternatif, dimana Perang Dunia II berhasil dihindari dan Jepang tak pernah terlibat dalam perang tersebut. Ibukota Jepang Tokyo dikenal dengan nama Teito (arti harfiah: Ibukota Kaisar), dan masyarakat Jepang terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas rakyat jelata dan aristokrat yang hidup dengan strata sosial dan ekonomi yang jauh berbeda. Selain itu juga Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh Jerman dibandingkan Amerika (pada kenyataan sekarang) dilihat dari sosial budaya dan sistem kemiliteran. Pada masa ini muncul sang maling misterius dengan panggilan Kaijin nijuu mensou (disingkat K-20) alias si misterius berwajah 20 karena kemampuan menyamarnya yang lihay dan banyak membuat para petugas hukum kewalahan mengungkap identitas aslinya.
Kisah berawal dari pencurian mesin transfer energi ciptaan ilmuwan jenius Nikola Tesla oleh maling misterius K-20. Pada kesempatan lainnya, detektif ternama Kogoro Akechi (Nakamura Toru) akan melangsungkan pertunangannya dengan Yoko (Matsu Takako), seorang wanita dari keluarga bangsawan Hashiba, yang memiliki lukisan “Tower of Babel” (tentu saja lukisan ini menjadi incaran K-20). Pada saat pesta pertunangan berlangsung, Endo Heikichi (Kaneshiro Takeshi) ditangkap dan dituduh sebagai K-20 yang mengincar lukisan “Tower of Babel”. Endo yang notabene seorang pemain akrobat sirkus, merasa dipermainkan dan dijebak oleh K-20 asli. Setelah berhasil meloloskan diri dengan dibantu oleh teman-temannya kelompok maling kelas teri, Endo bertekad mencari K-20 asli untuk membersihkan namanya dan membangun kembali kelompok sirkusnya yang telah dihancurkan oleh pemerintah melanjuti penangkapan Endo sebagai K-20. Pertemuan Endo dkk dengan pasangan Kogoro dan Yuko mengungkap ada suatu misteri dibalik lukisan incaran K-20. Selain itu juga timbul percikan konflik antara Endo yang mewakili kelompok masyarakat kelas bawah dengan golongan aristokrat dan bangsawan yang diwakili Kogoro dan Yoko. Dan pada akhirnya, benarkah Endo dijebak oleh K-20? Atau malahan Endo sendirilah K-20 itu? Silahkan menebak hingga film berakhir.
Awalnya aku menyangka film ini akan penuh dengan dialog-dialog yang membutuhkan konsentrasi tinggi layaknya film bergenre detektif misteri. Ternyata dugaanku salah, karena porsi petualangan mendapat jatah yang jauh lebih banyak dibandingkan cerita misterinya. Cukup banyak adegan aksi yang mewarnai film ini dengan bumbu komedi yang terselip diantaranya. Cerita misterinya sendiri lebih banyak berputar disekitar kemisteriusan tokoh maling K-20 dan barang incarannya. Ya, film ini lebih mirip dengan aksi petualangan Indiana Jones dibandingkan film-film adaptasi novel tokoh Sherlock Holmes maupun Hercule Poirot. Agak mengejutkan memang, apalagi mengingat sutradara Shimako Sato adalah seorang wanita (bukan isu gender lho, karena kebanyakan sutradara wanita cenderung menggarap drama atau komedi).
Sebenarnya konflik tentang pertentangan antara kelompok proletar dan borjuis cukup menarik untuk digali lebih mendalam sebagaimana V for Vendetta. Sayangnya sejak awal memang film ini ingin ditujukan sebagai film hiburan sehingga konflik antar kelas masyarakat tersebut tidak banyak muncul. Walaupun demikian adegan pergesekan antara gaya hidup bangsawan dan jelata cukup menarik karena ditampilkan dalam bentuk dialog humor antara tokoh Endo dan Yuko. Selain itu karakterisasi tokoh kurang mendalam, apalagi sosok Kogoro yang katanya detektif ternama namun tidak terlihat kemampuannya menganalisa kasus.
Kota Teito yang direfleksikan sebagai Tokyo tahun 1949 tanpa tersentuh perang dunia II ditampilkan dalam bentuk CGI yang lumayan bagus. Sedangkan kondisi Jepang pada tahun itu yang dipengaruhi Jerman disajikan dengan lumayan menarik. Lihat saja mobil polisi yang jaman sekarang ditulis dengan kata POLICE untuk mendampingi huruf kanji, dalam film ditulis dengan kata POLIZEI. Belum lagi gaya, seragam dan penampilan militer Jepang bak tentara Jerman pada jaman perang dunia II.
Boleh dikatakan film ini sangat menghibur, seru, tidak terlalu banyak mikir, dan penuh dengan aksi akrobatik ala sirkus. Mungkin bagi anda yang melihat poster dengan kostum mirip Zorro/Robin Hood dan menonton trailer menyangka kalau film ini mewakili genre superhero Amerika yang merebak melalui Superman, Spiderman dkk. Tapi bagiku film ini lebih bernuansa petualangan ala Indiana Jones dibandingkan superhero. Yang pasti durasi film yang berjalan dua jam ini cukup membuatku betah menonton hingga selesai. Sebagai hiburan akhir dipenghujung film, silahkan menikmati lagu The Shock of Lightning milik band asal Inggris Oasis yang menghiasi ending credit title.
Rating: 3.5/5
Sewaktu nonton diawal film, aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak karena kupikir, “toh film ini cuma seperti kebanyakan film remaja Amrik lainnya”. Ternyata film ini melewati ekspektasiku karena cukup banyak nilai lebih dari 17 again yang ditawarkan, sehingga akupun ikut merekomendasikan film ini buat ditonton para remaja abg. O iya, kalau ngomong soal orang dewasa terperangkap dalam tubuh orang yang berusia lebih muda, koq aku jadi ingat dengan serial anime Detective Conan yah.



Novel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).
Recent Comments