Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar

Judul asli: おくりびと – Okuribito (tukang antar)
Produksi: Tokyo Broadcasting System dan Shochiku ( 2008 )
Sutradara: Takita Yojiro
Pemain: Motoki Masahiro, Hirosue Ryoko, Yamazaki Tsutomu, Yo Kimiko.
Tag:
人は誰でも、いつか。。。おくりびと、おくられびと
Hito wa daredemo, itsuka…Okuribito, Okurarebito
(Manusia itu siapapun, kapankah….. menjadi pengantar, atau yang diantar)

departures

おまえら、死んだ人間で食ってんだろう
Omaera, sinda ningen de kutten darou
Kalian khan hidup dapat makan dari orang mati

(Keluarga klien kepada Daigo dan mentornya Sasaki)

Pada tahun 1996, sebuah novel berjudul Noukanfu Nikki (Catatan harian pria penyelenggara jenazah) karya Aoki Shinmon diterbitkan dan kemudian dibaca oleh aktor Motoki Masahiro. Selain Motoki, mangaka bernama Sasou Akira juga membacanya dan berminat untuk mengadaptasi novel tersebut kedalam manga. Motoki membujuk beberapa sutradara untuk membuat film berdasarkan novel karya Aoki tersebut hingga akhirnya Takita Yojiro yang dikenal sebagai sutradara film samurai “When the Last Sword is Drawn” tertarik untuk membuat film dan turut melobi studio film TBS. Setelah manga karya Sasou diluncurkan, film adaptasi novelnya juga mulai diproduksi.

Cerita film dimulai dengan tokoh utama Kobayashi Daigo mengurus jenazah sambil bercerita tentang latar belakang pekerjaan barunya sebagai penyelenggara jenazah. Lewat narasi diceritakan bagaimana dua bulan sebelumnya, Daigo yang berprofesi sebagai pemain cello harus menghadapi kenyataan bubarnya orchestra tempat dirinya bergabung. Menyadari bakatnya sebagai pemain cello biasa-biasa saja, Daigo akhirnya memutuskan berhenti mengejar karir musiknya dan pulang ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya Mika.

Proses Daigo mencari kerja di kampung halamannya diakhiri dengan terdamparnya Daigo sebagai pegawai perusahaan noukan (peti mati) bernama NK Agency akibat salah paham. Status pekerjaannya sebagai noukanshi (penyelenggara jenazah) yang memiliki stigma negatif dalam masyarakat membuat Daigo enggan untuk berterus terang pada istrinya. Bagaimana tidak memalukan, mendapatkan uang lewat kematian dan penderitaan orang lain serasa bagaikan burung pemakan bangkai. Lagi pula kerjaan noukanshi harus langsung memegang mayat orang lain (bukan sanak keluarga), sesuatu yang dianggap sebagian besar masyarakat Jepang kotor dan hina. Awalnya memang Daigo muak dengan kerjaannya sebagai noukanshi, Daigo bertahan semata-mata hanya karena besarnya uang yang diterima. Setelah mengalami berbagai peristiwa dan melihat berbagai reaksi keluarga pelanggan terhadap kematian lewat pekerjaannya, Daigo semakin tertarik dan menyukai pekerjaan barunya seiring dengan pemahamannya tentang filosofi hidup dan mati melalui pekerjaan sebagai “si tukang antar”. Gosip tentang pekerjaan barunya terbang kemana-mana sampai teman masa kecilnya sendiri Yamashita enggan memperkenalkan istri dan anaknya pada Daigo. Puncaknya ketika Mika mengetahui pekerjaan suaminya dan meminta Daigo untuk berhenti dan mencari pekerjaan baru, pilih ngurus mayat atau istri?

Takita Yojiro berhasil mengarahkan film ini dalam menggambarkan ritual prosesi penyelenggaraan jenazah sebagai latar ungkapan manusia hidup dalam menghadapi kematian sebagai hikmah yang elegan daripada trauma dan kesedihan. Orang Jepang jaman dulu biasanya dalam mengurus jenazah dilakukan oleh keluarga dekat, mulai dari melap dan membersihkan jenazah, mendandani, merias hingga memasukkan kedalam peti mati dan kremasi. Lama kelamaan pekerjaan ini dikomersilkan dan dilakukan oleh orang non-keluarga. Karena umumnya dipandang memalukan dan hina oleh orang jepang untuk dikerjakan, biasanya yang mengerjakannya adalah kaum pendatang (terutama orang Korea). Jaman sekarang sudah cukup banyak orang Jepang melakukannya sebagai profesi, meskipun tetap aja pengaruh pandangan hina pada masa lalu masih melekat dalam pandangan sebagian besar orang Jepang jaman sekarang. Isu ini cukup sensitif karena menyangkut tata cara kehidupan dan budaya Jepang yang jarang diekspos ke dunia luar sehingga membuat sutradara Takita merasa khawatir jika film ini diluncurkan akan menuai protes dari kalangan Jepang konservatif dan membuat film ini tidak laku dipasaran, walaupun kekhawatirannya tak terbukti.

noukanfuAkting para pemainnya sendiri tidak mengecewakan terutama Motoki yang berperan sebagai aktor utama. Ekspresi dan tingkah Motoki sebagai “orang baru” yang terjebak untuk bekerja sebagai Noukanshi sangat meyakinkan. Boleh jadi hal ini disebabkan pendalaman karakter Motoki terhadap tokoh Kobayashi dimulai dari novel karya Aoki yang dibaca sebelumnya, ditambah dengan Motoki mempelajari teknik penyelenggaraan jenazah secara langsung pada noukanshi asli dari Yamagata sendiri yang kebetulan juga bernama Sasaki (sama dengan nama tokoh mentor Daigo). Apalagi orang pertama yang punya ide mengadaptasi novel karya Aoki menjadi sebuah film adalah Motoki sendiri. Selain Motoki, akting aktor senior Yamazaki Tsutomu sebagai direktur NK agency Sasaki dan Yo Kimiko sebagai sekretaris merangkap pegawai tetek bengek Uemura lebih mencuri perhatian dibandingkan akting si cakep Hirosue Ryoko yang berperan sebagai istrinya Daigo. Chemistry antara Motoki-Yamazaki sebagai murid dan mentor sangat menarik untuk dinikmati dalam setiap adegan dan dialog antara mereka berdua. Memang ada beberapa adegan yang terasa berpanjang-panjang dan membuat pace berjalan agak lamban (khas film Jepang), tapi tidak mengganggu tontonan secara keseluruhan dan masih bisa dimaklumi.

Film ini dihiasi ilustrasi musik yang diarahkan oleh Joe Hisaishi. Siapa yang tak kenal dengan sosok komposer ulung yang menangani musik untuk hampir seluruh karya sutradara anime terkenal dari studio Ghibli Hayao Miyazaki, mulai dari film Nausica, Laputa, Totoro, hingga Ponyo. Saya sendiri menyukai lagu tema Okuribito yang begitu menghanyutkan, tepat sekali untuk menggambarkan suasana hati orang yang ditinggalkan. Dari dulu saya mendapatkan kesan bahwa membawakan musik dengan cello selalu memberikan kesan suram. Apa mau dikata, memang suara cello itulah yang paling cocok untuk menggambarkan kematian secara umum bagi orang yang ditinggalkan.

Skenario yang ditulis Koyama Kundo menghadirkan dialog penuh makna antar tokoh diselingi dengan komedi satir yang menggelitik dengan racikan yang pas. Sinematografinya patut mendapatkan pujian tersendiri dimana suasana dan gambar yang ditangkap oleh kamera sangat mempengaruhi imajinasi penonton. Misalnya saja pada adegan awal filmnya menampilkan tokoh utama melintasi jalan bersalju dan diselimuti kabut mengekspresikan bagaimana pandangan awal orang hidup terhadap perjalanan si mati yang terasa gelap, dingin dan misterius. Diawal film cukup banyak selipan komedi dalam suasana muram musim dingin, kontras dengan suasana cerah musim semi diakhir film yang justru sarat dengan drama serius. Adegan penyelenggaraan jenazahnya sendiri ditampilkan dengan indah dan elegan bagaikan tarian ritual. Pendek kata, sangat wajar bila Japan Academy Prize (Oscar-nya Jepang) 2008 telah memberikan 10 penghargaan dari 13 nominasi buat Departures termasuk film terbaik, sutradara, aktor utama, skenario adaptasi hingga sinematografi terbaik.

Ngomong-ngomong soal penghargaan Oscar, tadinya aku agak bingung dengan alasan mengapa Departures bisa mengungguli The Class yang memiliki tema lebih sensasional (pendidikan dan rasialisme), tapi setelah menonton dua kali plus baca manga Okuribito karya Sasou Akira barulah aku sedikit mengerti. Judul asli film Okuribito (si tukang antar) mewakili sosok kehidupan sedangkan okurarebito (orang yg berangkat/diantar) mewakili kematian, menjadi saksi bagaimana satu sama lain akan saling mengantar bersamaan dengan waktu yang berjalan beriringan. Pesan kemanusiaan yang universal inilah yang mengantar Departures meraih Oscar, terlepas dari cara pandang budaya yang berbeda dalam menyikapi kehidupan dan kematian. Walaupun demikian tetap saja aku beranggapan bahwa isu yang diangkat fim The Class tidak kalah menarik dibandingkan Departures. Ini hanya masalah ketertarikan orang bule terhadap pandangan orang timur tentang hidup-mati yang artistik dan penuh warna. Meskipun tidak terlalu banyak digambarkan, film ini juga menyoroti masalah menarik dalam konteks masalah sosial orang Jepang masa kini yakni hubungan antara orang tua dengan anak di Jepang yang umumnya memang kurang harmonis.

Ada kejadian menarik tentang Minegishi Toru yang berperan sebagai ayahnya Daigo yang baru saja meninggal dunia ketika film mulai diputar di bioskop-bioskop Jepang. Suatu kebetulan yang ironis dimana dalam film terakhirnya dia berakting sebagai mayat, tak lama kemudian dia sendiri sendiri benar-benar menjadi jenazah sungguhan. Tentu saja ini bukan kutukan film, karena Minegishi sendiri memang telah lama mengidap penyakit kanker paru-paru. :mrgreen:

Okuribito ditayangkan di bioskop Jepang pada bulan September 2008 tanpa menarik minat penonton terlalu banyak, walaupun berhasil meraih mayoritas penghargaan Oscar-nya Jepang. Okuribito hanya bisa bertengger di urutan ke-5 dari rating box office film lokal. Setelah menang Oscar dan ditayangkan kembali di bisokop, antrian penonton yang datang membeli karcis mulai memanjang walaupun kebanyakan dari mereka adalah para orang tua, Oji-chan dan Oba-chan (Oom dan tante). Entah kenapa, apakah anak mudanya lebih memilih nonton lewat DVD Okuribito yang memang sudah dijual atau malah tak tertarik nonton sama sekali? Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah lagi-lagi mau tak mau harus kembali berharap pada DVD bajakan?

Catatan: Saya menonton film ini 2 kali tanpa teks terjemahan sehingga mungkin saja ada kesalahan akibat penguasaan bahasa Jepang yang kurang sempurna. Manga Okuribito telah kubaca, tetapi novelnya sendiri belum pernah membacanya.

Rating: 4.5/5

About these ads

22 Responses to “Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar”


  1. 1 shun March 31, 2009 at 1:18 pm

    wah, ulasan yang sangat detail dan padat

    saya juga suka film mibugishiden

    kyknya saya tertarik juga untuk nonton ni film.

    smoga ntar bisa nemu di rental :D

    @shun
    Sengaja bilang when the last sword is drawn. takut yg lain nggak ngeh sama judul aslinya Mibu Gishiden.
    Usahain cari deh, terutama bajakan yg bagus. Soalnya ada kemungkinan nggak bakalan tayang di Indonesia yg lbh suka cerita orang mati dlm bentuk pocong :mrgreen:
    Kayaknya kalau download udah ada tuh di torrent

  2. 2 Lelouch Lamperouge April 1, 2009 at 12:04 pm

    o-ho… berasa bersalah karena profesinya sendiri ya? lagi-lagi filem yang menarik diantara beberapa judul filem/live action yang ganjil dan janggal *jadi inget lagi Casshern Live Action itu*

    dan… Ryoko Hirosue! dulu sempet jadi idola saya loh… :mrgreen:

  3. 3 jensen99 April 1, 2009 at 4:28 pm

    Kalian khan hidup dapat makan dari orang mati

    Kenapa klien ngomong gitu? Gak pake ngarep juga tiap hari (di kota besar) pasti ada orang yang meninggal kan? :?

    Trus, kubur atau kremasi tuh?

    Anak muda Jepang mungkin malas nonton karena merasa masih jauh dari kematian, selain tentunya masih banyak film mainstream yang lebih menggugah selera daripada kisah hidup pengurus jenazah. :mrgreen:

    @ Lelouch Lamperouge

    Casshern Live Action itu, walaupun dah pake subtitle tetep saja saya cuma bakal ngerti separo-separo kalo gak dibantu bocoran dan ringkasan plot dari internet, dan sampai hari ini saya cuma inget visualisasinya yang indah itu, lupa blas ceritanya apa. :mrgreen:

  4. 4 gilasinema April 2, 2009 at 12:33 am

    Belum nemu bajakannya :(
    Bang, mbok dirimu jadi pengedar :)

  5. 5 Ando-kun April 2, 2009 at 2:49 am

    @Lelouch
    Nggak merasa bersalah sih, cuma….. nonton aja sendiri, penasarankan? :P
    Casshern yah? ikutan kata mas J, visualisasinya mantaps
    Kalau denger pidato Oscarnya mbak Ryoko Hirosue masih suka nggak?

    Gue barusan nonton The Sky Crawlersnya Mamoru Oshii (Jin-Roh, Ghost in the Shell), keren banget animasinya. Kalau pernah nonton Jin-Roh (mengacu pd Little Red Riding Hood), kayaknya bakalan suka sama The Sky Crawlers (mengacu pada cerita Peter Pan). Ini jg adaptasi dari novel terkenal di Jepun.

    @jensen
    Hehehe… profesi noukanshi emang dipandang memalukan oleh sebagian org jepun, tapi kalau ada anggota keluarga yg mati nggak mau diurusin sendiri tuh. Ujung2nya sih dihina tapi butuh.
    fast (atau flash) read lg deh……. kremasi

    Pengennya nonton yg setting far away in the future yah mas J? Pengen idup lebih lama dan jauh dari kematian :mrgreen:

    film mainstream yang lebih menggugah selera daripada kisah hidup pengurus jenazah.

    Mungkin kisah pocong salah urus? atau kisah pengurus jenazah yg diganggu kuntilanak? atau kisah matinya pengurus jenazah yg bangkit jd setan? hehehe… ini sih selera anak muda Indonesia. :lol:

    @gilasinema
    Gila luh! (hehehe… namanya aja gilasinema)
    Cita2 gue tuh ngedarin barang yg lebih mahal dan laku drpd film bajakan :mrgreen:

  6. 6 jensen99 April 2, 2009 at 4:24 am

    Eh, theme-nya ganti? :P

    fast (atau flash) read lg deh……. kremasi

    Ah, saya tidak fas.rid, hanya saja AFAIK di Jepang kan banyak kuburan juga, serta beberapa kali juga saya baca (manga) tentang acara pemakaman jenazah atau ziarah ke makam. Kremasi atau kubur itu pilihan ya?
    ———————————————————

    @jensen
    Ganti, lg nyari theme yg bisa enak dibaca. Kebetulan tadi kena komplain, pas sama niatnya mau ganti template baru :oops:
    Kuburan (jenazah dikubur) di Jepang dikit, lagian acara penguburan bisa ngabisin duit jauh lbh mahal dr kremasi, plus beli tanah buat kuburan jg mahal (emangnya cuma di jakarta yg tanah kuburan jg mahal). Orang Jepang biasanya ikutan asuransi biaya penguburan saking mahalnya, krn nggak mau nyusahin keluarga yg hidup buat biayanya. Biasanya hanya yg punya agama (kristen, muslim, dll) aja yg biasanya dikubur, dan ini jg jarang. Biaya pemakaman di Jepang termasuk nomer satu paling mahal sedunia.
    *jd pengen bikin tulisan khusus ttg ini nih 8) *
    Acara ziarah ke makam tuh biasanya cuma dm bentuk nisan doang, jenazahnya nggak didalam kuburan tp dlm bentuk abu kremasi.

  7. 7 chielicious April 2, 2009 at 9:16 am

    hmm belum nonton filmnya sieh, thx reviewny saya jadi penasaran pengen nonton sendiri :P

    btw themenya lebih demen yg kemaren hi3 *dasar emang demen yg gelap2*
    ———————————————–
    @chielicious
    silahkan nonton………
    wah, kemarin memang ikut golongan hitam. menjelang pemilu, gw ikutan golongan putih deh. :mrgreen:

  8. 8 syaiful April 2, 2009 at 12:20 pm

    salam kenal dari blogger Riau. baca-baca dulu ya

  9. 9 gilasinema April 3, 2009 at 12:26 am

    Oooo….baru nyadar kalo ganti theme, kirain loadingku yang belum sempurna :)

    Soal penguburan yang mahal, aku pernah baca novel Jepang yang judulnya Out (lupa yang nulis siapa). Disitu juga disinggung betapa mahalnya biaya penguburan disana. Kira-kira sama San Diego Hill mahalan mana ya hehehe
    Jadi ingat juga ma Daun di Atas Bantal. Kere aja susah mo nguburin anaknya.
    Ngelantur…..

  10. 10 iera April 3, 2009 at 5:36 am

    udah nonton, setengah film saya tinggal tidur..hehehehe..tar nonton lagi ahhhh

  11. 11 Ando-kun April 3, 2009 at 8:15 am

    @syaiful
    Lam kenal jg. Silahkan liat2. Kalau ada yg menarik silahkan beli :mrgreen:

    @gilasinema
    Lebih cepetan loading yg ini atau yg lama nih? Soalnya saya jg mempertimbangkan kecepatan loading utk kriteria template.

    1 upacara penguburan di Jepang tuh paling murah sekitar 1-2 juta yen, sedangkan rata2 upacara menghabiskan 3-4 juta yen. Yang mahal tuh upacara penguburannya, kalau cuma tanahnya doang buat kuburan bisa dibeli sekitar 1 juta yen. Di Jepang utk upacara penguburan org2 muslim menghabiskan 1.5 juta yen dgn perkiraan sebagian besar uang habis utk biaya beli tanah kuburan. Dulu ada kenalan yg meninggal di Jepang dan jenazahnya dikirim pulang ke Indonesia menghabiskan biaya sekitar 600-700 ribu yen (ongkos kirim pake pesawat).

    Ntar deh kalo ada waktu mau kutulis di melayu-nyasar.

    Gak perlu liat daun diatas bantal (Jogja), liat aja yg di jakarta. Kalo mati, mayatnya masuk RS buat bahan praktek para calon dokter :shock:

    @iera
    Haaahhhh? Orang lain kayak gilasinema kebelet mau nonton, iera malah ditinggal tidur…. jadi kesian sama gilasinema :lol:

  12. 12 gilasinema April 4, 2009 at 1:15 am

    Sama cepetnya bang, cuman di mata kok kayaknya enakan kemaren. Lagi proses adaptasi mungkin :)
    Iya nih….gak sopan Iera ini hehehehe….
    Saya terhina :P
    ——————————————–
    @gilasinema
    template yg ini jg belum fix koq, masih cari2 yg lbh pas. masa adaptasinya harus diperpanjang kayaknya :lol:

  13. 13 Arm April 5, 2009 at 4:34 am

    sepertinya menarik ^^
    cuma alur-nya melambat ya di akhir2? biasanya bikin ngantuk :mrgreen:

    btw

    Gue barusan nonton The Sky Crawlersnya Mamoru Oshii (Jin-Roh, Ghost in the Shell), keren banget animasinya. Kalau pernah nonton Jin-Roh (mengacu pd Little Red Riding Hood), kayaknya bakalan suka sama The Sky Crawlers (mengacu pada cerita Peter Pan). Ini jg adaptasi dari novel terkenal di Jepun.

    kalo sekelas Jin-Roh harusnya bagus tuh :roll:
    ending-nya gitu juga ngga ya? :mrgreen:
    ——————————————–
    @Arm
    Alurnya melambat? Kayaknya nggak jg. yang pasti sih ada perubahan suasana dan sinematografi. Dibagian akhir, suasana komedinya banyak yg hilang, tp sinematografinya menampilkan gambaran cerah musim semi.

    The Sky Crawlers? Baru aja selesai kutulis, ntar kumuat deh kalau udah dipoles tulisannya.
    Soal endingnya, nonton aja sendiri :mrgreen:

  14. 14 iera April 5, 2009 at 11:26 am

    hoho…om gila sinema belom nonton???gagswat …haha…btw saya coba tonton lagi film ini, walaupun tertatih-tatih melawan kantuk,:D…bagus…gambarnya..jadi mikir2 juga buat jadi pengantar jenazah, prospeknya bagus sepertinya

  15. 15 crappuccino April 27, 2009 at 7:22 am

    Hey there! ^^
    Hehe.. sebelumnya, makasih udah ninggalin komentar di blog saya :D Maaf baru sekarang sempet balas komen ke sini. Hihi.. udah lama jg gak nge-blog.

    Tentang filmnya, kayaknya menarik tuh! :D Jadi pengen nonton. Ada juga sih, manga dengan cerita yang sama yg pernah aku baca, judulnya “The Embalmer” karangan Mitsukazu Mihara. Ada dorama-nya juga, mungkin pernah tau? Ceritanya tentang perias mayat. Kalau di okuribito kayaknya lebih ke pengurus jenazah yang tradisional yah? Kalo Embalmer lebih ke perias mayat sih.
    ———————————-
    @crappuccino
    Wah, tahun berapa yah ngunjungin blog situ? :mrgreen:
    Jangan2 berenti ngeblog krn lupa password nya? :lol:

    Ntar deh di cari The Embalmer-nya.

    • 16 crappuccino April 27, 2009 at 9:34 am

      bukannya lupa password, tapi lupa punya blog..
      hihi, gak kok. Habis sibuk dan males nulis repiew.

      Btw, off-topic nih. Tanya, gmn caranya bikin comment system ky di blognya mas? Jadi kalo mau bales bisa di comment-nya satu2, gak perlu bikin komen baru. Kan kerasa lebih personal tuh. Setting-nya di man? well… sori yah kalo ngelantur.

      ————————
      @crappuccino
      Pertanyaannya ambigu. Coba liat komentarnya jensen di bawah, mungkin itu jawabannya.
      Atau kalau pertanyaannya yang ini: masuk ke dashboard > comment > edit comment > bikin jawabannya dibawah komentar > klik tombol biru dikanan utk save.

  16. 19 Arm April 29, 2009 at 9:08 am

    hmmm…. baru selese nonton… :mrgreen:
    bagus..bagus… :D
    ..
    ..
    udah itu aja komennya :P
    *ditimpuk*

    tinggal nunggu temen donlot Sky Crawlers :cool:

    btw, pernah bahas Bokuchu..? :?
    ———————————-
    @Arm
    ini dia temen nonton yg paling mantap, nonton gratisan :lol:

    Bokuchu? yang judulnya ini yah
    ぼくたちと駐在さんの700日戦争
    yg ceritanya ttg anak sekolahan perang lwn pak polisi?
    Hehehe… belum pernah dibahas tuh.
    Kenapa nggak situ aja yg bahas manga-nya, mumpung film live action nya belum direview :mrgreen:

  17. 20 Arm May 3, 2009 at 6:08 pm

    iya, yg judulnya Bokutachi to Chuusai-san no nanahyakuri sesnsou :? pokona kurang lebih artinya 700 hari pertempuran kami melawan polisi :mrgreen:

    saya malah belom baca manga-nya, baru nonton pelem-nya, ngakak2 saya selama hampir 2 jam :lol:

    btw, Sky Crawler sudah tersimpan di harddisk, tinggal tonton :cool:
    tar kalo dah nonton saya komen ah di postingan situ :mrgreen:
    ———————-
    @Arm
    Oke, ditunggu.
    btw, komen jg sama lagu ending song nya. jensen jg jd download lg Ayaka tuh.

  18. 21 lambrtz July 7, 2012 at 4:26 pm

    Anggur sudah terfermentasi dan siap diminum. :mrgreen:


  1. 1 Departures « lambrtz's Blog Trackback on July 7, 2012 at 4:22 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 358 other followers

%d bloggers like this: