Archive for February, 2009

Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif

Judul asli: Vals im Bashir
Genre: Animasi, Semi-dokumenter
Sutradara: Ari Folman
Pengisi suara: Ari Folman, Ori Sivan, Ron Ben Yishai
Catatan, hampir seluruh tokoh yang muncul adalah tokoh nyata yang juga diisi suaranya oleh tokoh aslinya.

waltzwithbashir1Seingatku, aku belum pernah nonton film produksi Israel, jadi menonton film animasi semi-dokumenter ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan meresensi sebuah film buatan Israel. Film ini adalah wakil Israel untuk memperebutkan piala Oscar dalam ajang Academy Award for Best Foreign Language Film, masuk nominasi utama tetapi kalah bersaing dengan film wakil Jepang yang berjudul Departures (Okuribito). Walaupun Waltz with Bashir ini termasuk kategori film istimewa, tapi kupikir masih sedikit berada dibawah Okuribito dan The Class (wakil Perancis).

Ari Folman seorang produser dan sutradara film mengalami halusinasi dan mimpi buruk tentang kejadian invasi Israel ke Lebanon. Anehnya kejadian pada saat Folman bertugas dalam rangka wajib militer tersebut sama sekali tidak dapat diingatnya secara jelas. Untuk mengumpulkan ingatannya kembali, Folman mulai mencari mantan rekan-rekan sesama serdadunya pada saat kejadian dan melakukan serangkaian wawancara dengan mereka. Selain itu juga ditampilkan wawancara Folman dengan psikolog dan wartawan yang juga hadir pada saat kejadian invasi, terutama yang menyangkut peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila

Hal yang pertama ingin aku komentari adalah pilihan sutradara membuat film ini dengan teknik animasi dibanding dengan live action. Terus terang saja, menurutku mungkin efek penceritaan dan daya tarik film akan berkurang banyak jika menggunakan visualisasi live action. Oleh karena itu pemilihan media animasi sebagai pilihan sangatlah tepat.
Permainan warna dan pencahayaan! Itulah yang menjadi kekuatan utama sinematografi film animasi comic strip ini. Warna-warna gelap dan suram mewarnai film, ditimpa dengan cahaya terang yang menyebabkan degradasi warna menjadi terlihat unik dan mewakili kekalutan pikiran tokoh utama serta kekosongan jiwanya. Aku sendiri walaupun penggemar anime Jepang, sebenarnya agak kurang tertarik dengan gambar animasi comic strip. Hanya saja keunikan gambar animasi film ini memang berbeda dan menarik.

Lagu-lagu yang menghiasi film ini kadang berlirik komedi satir. Dengar saja sebuah lagu rock yang bertema tentang “aku mengebom Beirut setiap hari” diiringi secara visualisasi tentara Israel mengicar “teroris” yang malahan lolos melulu disertai banyaknya korban penduduk akibat salah sasaran dan rudal nyasar. Pada akhir lagunya keluar lirik “tentu saja disepanjang jalan kami juga tak sengaja membunuh orang-orang tak bersalah”. Sulit untuk tertawa walaupun lirik lagunya yang satir seolah-olah mengolok-ngolok tentara Israel sendiri yang tidak becus membidik atau memang sengaja menembak salah sasaran. Belum lagi hiasan musik klasik disepanjang adegan pertempuran, baik yang ditampilkan slow motion ataupun sambil berdansa waltz mengacu pada judul film.

Bukan teknik animasi dan musik saja yang patut dipuji dari film ini. Inti cerita dari film itu sendiri yang menyebabkan para juri Oscar memasukkan film animasi ini masuk nominasi. Bagi yang kurang tertarik dengan film bergaya narasi digabung dengan deskripsi kilas balik (flashback) mungkin akan bosan dengan dialog-dialog antar tokohnya, walaupun bagiku justru dialog-dialog inilah yang menjadi kekuatan film animasi ini. Lewat narasi tokoh utamanya beserta obrolan dan wawancara dengan rekan-rekannya, para penonton dibawa masuk kedalam realitas kehidupan para serdadu bawahan Israel, khususnya secara psikologis.

Bagian terbesar yang menjadi inti film ini adalah peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila yang terjadi di Lebanon tahun 1982. Ketika itu Milisi Kristen Phalangist yang berada dibawah pengawasan Israel membantai pengungsi palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila tanpa ada tindakan Israel untuk mencegah, malahan “membantu” visual para milisi dimalam hari lewat penembakan cahaya flare ke langit diatas kamp pengungsi. Ada yang menyebutkan kalau Israel terlibat langsung dan ada pula yang menyatakan Israel terlibat secara tidak langsung (pinjam tangan milisi Phalangist). Dalam film ini, para serdadu Israel memposisikan dirinya sebagai pihak yang terlibat secara tidak langsung. Melihat dan mengetahui adanya pembantaian didekatnya tetapi tidak ada niat dan usaha untuk mencegah, walaupun sebenarnya mereka mampu. Cahaya-cahaya suar kekuningan (dari flare) di langit yang ditembakkan oleh militer Israel diatas kamp pengungsi terlihat indah didalam film berpadu dengan kegelapan malam yang mistis. Pada saat yang sama, terjadi pembantaian berdarah yang berlangsung secara mengerikan didalam kamp pengungsi Sabra dan Shatila.

Kalau anda selesai menonton film ini, ada kemungkinan anda akan mempertanyakan hal yang sama dengan diriku. Apakah jika anda punya kemampuan untuk menghentikan pembantaian tetapi justru membiarkannya, anda sama saja dengan menjadi pelaku pembantaian itu sendiri? Tragedi pembantaian paling aktual yang terjadi akhir-akhir ini adalah serangan zionis Israel ke Jalur Gaza. Ironisnya justru film Israel sendiri yang mengingatkan betapa sikap diam banyak negara didunia terutama tetangga perbatasan Jalur Gaza yaitu Mesir sama artinya ikut membantai penduduk Jalur Gaza. Mereka semua memang boleh mengutuk, tapi apakah hanya dengan mengutuk akan menghentikan pembantaian? Toh lebih dari seminggu serangan gencar dilakukan dan membunuh lebih dari seribu rakyat sipil. Dengan menghentikan serangan zionis Israel selama satu hari saja, mungkin bisa menyelamatkan puluhan hingga ratusan penduduk. Jika mampu mencegah tapi tak mau melakukannya, apa bedanya dengan melakukan lewat pinjam tangan orang lain?

Apakah Ari Folman benar-benar lupa dengan peristiwa Sabra dan Shatila, atau dia memang terpaksa lupa sebagai wujud melarikan diri dari rasa bersalah? Dipersilahkan anda menjawabnya sendiri. Lagipula banyak negara didunia ini yang berpura-pura lupa dengan pembantaian di Jalur Gaza setelah gencatan senjata dibelakukan bulan Januari lalu. Justru film produksi Israel yang kembali mengingatkanku pada kejamnya Operation Cast Lead dan sikap berpangku tangan dunia internasional. Mengulangi sejarah pembantaian di Rwanda, Somalia dan Bosnia yang terjadi sebelumnya dengan hanya mengungkapkan rasa penyesalan tanpa tindakan mencegah. Di Indonesia sendiri masih banyak orang yang berpura-pura lupa dengan tragedi DOM di Aceh. Sebuah Genosida pasif.

Film animasi ini diakhiri dengan pemutaran film dokumenter asli (bukan animasi) hasil akhir dari pembantaian Sabra dan Shatila, sunyi tanpa suara, hanya pemandangan mayat-mayat bergeletakan sehingga sangat mencekam perasaan.

NB:
- Postingan ini hanya membahas tentang film yang bertema politik dan genosida. Harap memberi komentar yang sesuai dengan tema postingan yaitu film. Jika tidak, saya tidak ragu untuk menghapus.
- Walaupun film ini dipenuhi adegan kekerasan perang, semangat anti genosida-nya sangat terasa. Tercermin lewat Folman yang membandingkan Kamp Auschwitz dengan pembantaian penduduk Palestina. Dalam hal ini Folman cukup berani mengkritik kebijakan politik zionisme negaranya sendiri.
- Kemungkinan besar film ini tidak akan masuk Indonesia, hanya ada dua jalan untuk menontonnya: download bajakannya atau nonton DVD bajakan. Ingat, menonton bajakan film ini berarti merugikan perindustrian Israel (dalam hal ini industri film). :lol: :lol:

Rating: 4/5

Detroit Metal City – Adaptasi manga yang komikal

Judul asli: デトロイト・メタル・シティ (Detoroito Metaru Shiti)
Produksi: Toho Cinema Jepang ( 2008 )
Genre: Drama komedi musikal
Sutradara: Toshio Lee
Pemain: Kenichi Matsuyama, Rosa Kato, Gene Simmons

efbd84efbd8defbd83

“No Music, No Dream”
(Negishi Soichi aka Johannes Krauser II)

Wakil Jepang yang berjudul Okuribito (sang pengantar) berhasil meraih piala Oscar 2009 untuk kategori film berbahasa asing terbaik. Ini menunjukkan kualitas film Jepang memang patut diperhitungkan dunia internasional. Tapi untuk sementara tinggalkan dulu sejenak film serius, mari kita bahas film ringan yang penuh dengan hiburan ini.

Setelah nonton adaptasi manga 21th Century Boys yang telah kubahas sebelumnya ditulisan ini, aku mencoba untuk tidak terlalu banyak berharap ketika menonton adaptasi manga Detroit Metal City yang juga telah kubahas manga dan animenya ditulisan ini. Seperti janjiku sebelumnya, kali ini aku membahas versi live action Detroit Metal City yang meraih titel box office di Jepang dan mendapat berbagai penawaran oleh perusahaan film berbagai negara seperti USA dan Hongkong untuk dibuat versi remake-nya.

Soichi Negishi berangkat dari kampung halamannya di propinsi Oita pulau Kyushu (ujung selatan Jepang) diantar oleh emaknya untuk melanjutkan kuliah ke sebuah universitas di Tokyo. Soichi memilih Tokyo dengan pertimbangan meraih mimpinya menjadi pemusik lagu-lagu pop trendy yang manis di masa depan setelah lulus kuliah. Apa daya, kebanyakan orang menganggap lagu-lagu pop trendy karya Soichi hanyalah sampah. Cuma sedikit orang yang menghargai lagu-lagu karyanya, termasuk Aikawa cewek manis teman seangkatan Soichi di universitas. Setelah lulus dari universitas, Soichi memang tetap melanjutkan karir musiknya, hanya saja kali ini dia terjerumus menjadi vokalis band death metal bernama Detroit Metal City atau di singkat menjadi DMC dengan nama panggung Johannes Krausser II. Justru lagu-lagu metal karya Soichi sebagai Krauser II ini laku kayak kacang goreng dan ngetop ampun-ampunan. Apakah Soichi akan mengorbankan popularitas dirinya sebagai Johannes Krauser II demi meraih mimpi dengan musik pop trendy yang disukainya, atau yang terjadi justru Soichi menyerah demi ketenaran namanya sebagai Johannes Krauser II. Jika ingin mengetahui cerita lengkap dengan spoiler dari manga/animenya, silahkan baca disini.

Seperti yang telah kuduga sebelumnya, humor-humor kasar dan brutal dari versi manga dan animenya bukan hanya dikurangi malah dihilangkan cukup banyak untuk menghindari kontroversi dan sensor pembatasan usia penonton. Tidak ada tokoh si masochist Nashimoto yang didalam manga/animenya berperan sebagai babi kapitalisme diatas panggung DMC dan termasuk juga adegan kurang senonoh lainnya. Selain itu juga adegan drama yang mendapatkan porsi sedikit didalam manga dan animenya mendapat jatah lumayan banyak dalam versi live action kali ini, termasuk adegan masa kuliah Soichi dan pulangnya Soichi ke kampung halamannya. Terus terang saja, adegan drama yang diusung, ceritanya sangat klise tapi untunglah tidak terlalu mengganggu isi film secara keseluruhan sehingga tak perlu di seriusi (namanya juga komikal). Ada beberapa perubahan pada latar belakang Soichi dalam film ini yaitu peran emaknya Soichi cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan tokoh Soichi serta surprise dengan munculnya anggota keluarga Soichi yang lain.

Satu hal yang aku syukuri dari sutradara film ini. Toshio Lee tidak berusaha membuat film komedi serius atau komedi satir terlebih lagi komedi slaptick biasa, suatu hal yang aku khawatirkan akan merusak imajinasi manga/animenya. Justru Toshio Lee mengarahkan film ini ke arah film komedi yang kental dengan nuansa mirip anime. Banyak sekali humor-humor aneh dan tidak masuk akal didalam film sehingga sangatlah tepat keputusan Toshio Lee membuat komedinya dengan gaya komikal, pas dengan jiwa manga/anime yang diadaptasi. Humor slapticknya sendiri pun dibikin oleh sutradaranya dengan gaya komikal juga. Ditambah lagi dengan akting keren Kenichi Matsuyama sebagai Soichi/Krauser II dengan permainan ekspresi wajah bagaikan tokoh manga (jadi ingat Jim Carrey) benar-benar membuatku kagum pada totalitas Matsuyama, asal tahu saja kalau seluruh lagu yang dibawakan oleh tokoh Soichi dan Krauser II di nyanyikan sendiri oleh Matsuyama. Memang sudah seharusnya Toshio Lee berterima kasih kepada kualitas seorang Matsuyama yang memberikan hawa manga dalam film dan menghidupkan karakterisasi musisi dalam diri Soichi dan alteregonya Krauser II.

Karakter utama manga lainnya yang muncul tidak terlalu berkesan seperti halnya akting Kenichi Matsuyama, paling cuma tokoh Aikawa yang dibawakan Rosa Kato yang agak terlihat. Itu juga karena tampang cakep dan kawai (cute) Rosa Kato yang memang enak dipandang. Gene Simmons yang muncul sebagai bintang tamu memainkan peran si legenda death metal Amerika Jack Lil Dark secara biasa-biasa saja. Justru yang mencuri perhatian adalah peran 3 aktor numpang lewat sebagai ultra fans DMC yang suka nyeletuk sembarangan dengan kata-kata gokil. Dedikasi sampai mati masuk neraka para fans berat DMC ini benar-benar bikin aku ketawa terpingkal-pingkal.

Lagu-lagu yang menghiasi film dari genre death metal hingga pop easy listening juga cukup enak buat didengar kuping siapapun. Yang agak menggangguku mungkin dialog antara Soichi dengan keluarganya yang menggunakan dialek Hita-ben dari pulau Kyushu yang tidak kupahami (maklumlah aku nonton tanpa teks terjemahan). Akhir kata, versi live action Detroit Metal City ini kuanggap sukses menghibur para penonton termasuk yang belum pernah membaca manga ataupun melihat versi animenya. Bagi yang pernah baca manga, tidak perlu takut kecewa karena walaupun adegan lelucon parahnya telah hilang, jiwa manganya sendiri masih cukup kental koq.

GO TO DMC…. GO TO DMC…. SATSUGAI SEYO………

Rating: 3.25/5

Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami

Judul asli: Stupeur et tremblements
Produksi: Studio Canal – Perancis ( 2003 )
Genre: Drama-komedi satir
Sutradara: Alain Corneau
Pemain: Sylvie Testud, Kaori Tsuji

fearfilm

“Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
(Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

Dalam film Lost in Translation telah disinggung bagaimana cultural shock terjadi akibat kesalahpahaman dan ketidakpahaman bahasa. Bagaimana bila dibuat kondisi paham bahasa, apakah benturan budaya masih terjadi? Dalam film ini tokoh utamanya fasih berbahasa dan tentu saja memahami bahasa Jepang. Latar belakang yang dipakai film untuk menggambarkan benturan budaya adalah dunia kerja, khususnya pekerja kantoran.

Film diawali dengan pengenalan tokoh Amelie seorang gadis Belgia yang lahir dan tumbuh di Jepang hingga usia 5 tahun. Setelah dewasa Amelie memutuskan untuk kembali lagi ke Jepang. Dia melakukan ini bukan sebagai turis melainkan seorang pekerja (penerjemah) di perusahaan raksasa Jepang Yumimoto dengan kontrak kerja satu tahun dan dengan tujuan jangka panjang, “menjadi orang Jepang!” Amelie merasa jatuh cinta pada Jepang beserta budayanya dan patah hati ketika ketika kembali pulang mengikuti orangtuanya ke Belgia. Kali ini Amelie datang lagi untuk merajut kembali cintanya yang dicerabut belasan tahun yang lalu dengan keyakinan kuat berkat kerja kerasnya untuk menguasai pengetahuan bisnis perusahaan Jepang beserta bahasanya sekalian.

Sayangnya jalan yang diidam-diamkan oleh Amelie tidak semulus yang dibayangkan. Pengetahuannya tentang kehidupan orang Jepang ternyata tidak banyak membantu. Otak encernya juga jadi sia-sia akibat Amelie tak mampu memahami sosial budaya masyarakat Jepang (termasuk memahami kondisi mental perawan tua Jepang yang sibuk mengejar karir). Malah jabatan staff kantor diawal cerita perlahan turun dan berakhir menjadi petugas pembersih toilet. Apakah akhirnya Amelie tetap berkeras kepengen jadi orang Jepang? Cinta Amelie terhadap Jepang belum tentu berarti Amelie telah memahami masyarakat Jepang secara utuh.

buku1Film Perancis ini sangat cocok buat anda yang: penggemar film bagus, suka komedi satir, pemerhati budaya, pekerja kantoran, Japanese freaks, Japanese wannabe ataupun hanya tertarik dengan kejepangan dan orang yang tidak keberatan nongkrongin tampang cakep dan judes Kaori Tsuji sampai film selesai. Diadaptasi dari novel semi autobiografi berbahasa perancis dengan judul sama karya pengarang Belgia Amelie Nothomb (lagi nyari versi bahasa Inggrisnya nih) yang memang lahir di Jepang dan tinggal disana hingga umur 5 tahun. Judul novel dan film diambil berdasarkan ungkapan kondisi yang harus dilakukan oleh setiap orang sewaktu menghadap Tennou (sang kaisar Jepang), walaupun tentu saja hal ini sudah tidak dihiraukan oleh orang Jepang generasi sekarang.

Satu hal yang mesti digaris bawahi, walaupun dalam banyak hal film ini memaparkan kondisi budaya dan sistem kehidupan sosial masyarakat Jepang terutama suasana kantor dan pekerjaan yang sesungguhnya, penggambarannya terlampau hiperbolik. Bagi para penonton yang kurang mengerti budaya kerja orang Jepang, film ini lucu dan menarik. Akan tetapi bagi anda yang pernah tinggal cukup lama di Jepang, anda akan merasakan banyak adegan yang berlebihan. Mungkin sutradara bermaksud memperbandingan perbedaan budaya barat dan Jepang secara tajam dengan membuat suasana satir.

Misalnya saja posisi atasan dengan bawahan di perusahaan Jepang memang sangat terlihat jurang perbedaannya. Kalau boss bilang A, bawahan harus bilang A dan tidak boleh bilang B atau yang lain selain A. Ketika Amelie dipanggil managernya dan diperingatkan kalau dia salah, Amelie yang merasa benar justru membantah sang boss dan mendebatnya. Padahal bagi staff Jepang diposisi Amelie akan segera meminta maaf dan biasanya persoalan akan habis sampai disitu saja. Hal ini juga berlaku bagi posisi senpai (senior) dan kohai (junior), walaupun tidak sekaku posisi boss dan bawahan. Peraturan dan hirarki jabatan adalah mutlak. Akan tetapi hanya itu sajakah? Bagaimana dengan adegan boss teriak-teriak tanpa alasan masuk akal, kerja tidak efisien yang buang-buang waktu, uang dan tenaga, belum lagi mempekerjakan pegawai kompeten dengan tugas bukan keahliannya. Bila mengingat betapa efisiennya perusahaan Jepang dalam menjalankan bisnis tentu saja hal ini aneh, apalagi untuk perusahaan raksasa.
Saya pernah mendengar cerita mengenai bawahan yang dimarahi oleh supervisor Jepangnya secara tidak sopan, biasanya yang bertingkah seperti itu hanya memiliki jabatan boss kecil atau memang boss mental kuli dari perusahaan kecil. Namanya juga film, jangan terlalu dipikir serius.

Sylvie Testud bermain luar biasa sebagai Amelie hingga tak heran jika dia berhasil menggondol pulang Cesar Award tahun 2004. Gaya Testud berbicara, ekspresi dan bahasa tubuhnya benar-benar membuatku kagum. Banyak kejadian yang memancing tawa ataupun senyum miris lantaran melihat gaya dan ekspresi Testud, padahal adegannya sendiri bukanlah adegan komedi dan dialognya juga cukup serius. Dialek Perancis Testud sewaktu ngobrol dengan bahasa Jepang juga cukup lucu dan menarik. Secara mengejutkan permainan Kaori Tsuji sebagai Mori Fubuki mampu mengimbangi akting Sylvie Testud. Sayangnya akting pemain Jepang yang lain terlalu biasa-biasa saja bagaikan pelengkap. Selain itu juga ada tendensi seksual didalam film yang digambarkan secara halus, termasuk orgasme Fubuki atas kepuasannya menyiksa Amelie (berbau S & M).

Pelajaran moral dalam film ini adalah kalau ingin mengikuti aturan Jepang jangan coba-coba bertindak seperti orang Jepang karena bisa dipastikan gagal. Ada hal-hal tertentu dalam budaya yang bisa dipelajari orang asing secara teori tetapi tidak secara praktek. Walaupun anda fasih berbahasa dan mengerti budaya Jepang secara teori, anda tidak akan pernah mengerti orang Jepang secara penuh karena anda bukan orang Jepang. Mungkin hal ini juga berlaku untuk orang yang hidup di budaya yang berbeda.

Kalau anda memiliki pengetahuan tentang sosial dan budaya Jepang, melihat keanehan yang ditulis diatas, mungkin rating yang akan diberikan adalah 3.75/5. Dibawah ini adalah rating saya secara objektif.

Cerita: 4.25/5
Sutradara:3.75/5
Total rating: 4/5

NB. Gaijin dan Gaikokujin sama-sama berarti orang asing, hanya saja panggilan Gaijin terkesan melecehkan orang asing dibanding kata Gaikokujin yang lebih respek.

20th Century Boys, 1st Chapter – Adaptasi manga keren yang kurang menggigit

Judul asli: Nijyuu Seiki Shounen Dai Isshou (二十世紀少年 第一章)
Produksi: Toho Cinema ( 2008 )
Sutradara: Yukihiko Tsutsumi
Pemain: Toshiaki Karasawa (Kenji), Takako Tokiwa (Yukji), Etsushi Tokawa (Otcho)

century

“Musisi rock mati pada umur 27 tahun. Brian Jones, Janis Joplin, Jim Morisson, Jimi Hendrix. Kupikir aku bakalan mati seperti mereka juga. Tak tahunya aku hidup melewati ulang tahunku yang ke 28, benar-benar membuatku kecewa. Rupanya aku ini bukan Rocker.”
(Kenji Endo, 20th Century Boys)

Terlalu banyak berharap mungkin salah satu musuh para penggemar film. Memang ekspektasi berlebihan bisa menjadi bumerang bagi penilaian terhadap film yang ditonton. Kali ini korbannya adalah saya sendiri yang mungkin terlalu banyak berharap ketika menonton versi live action dari manga sensasional karya Naoki Urasawa ini. Tapi bagaimana saya tidak berharap banyak, dengan cerita berdasarkan pada manga yang penuh imajinasi beserta koleksi penghargaan yang mengakui kehebatan manganya, film ini mau tidak mau akan ditunggu dengan ekspektasi besar.

Film action live ini adalah bagian pertama dari 3 chapter yang direncanakan. Berdasarkan manga-nya kisah dibagi menjadi 4 era yaitu masa kecil Kenji dan kawan-kawan, masa dewasa mereka, masa dewasa Kanna (keponakan Kenji), dan masa depan. Bagian pertama ini menampilkan 2 era awal yaitu masa kecil dan dewasa Kenji beserta kawan-kawannya. Teknik flash back digunakan sutradara untuk menceritakan Kenji dan teman-temannya yang masih bocah dengan fokus cerita utama bersetting akhir tahun 1990-an. Judul film dan manganya sendiri diambil dari judul lagu 20th Century Boys yang dibawakan grup Rock era awal 1970-an T. Rex.

Kenji Endo si pemusik Rock gagal yang tadinya bercita-cita mengubah dunia dengan musik Rock harus menerima kenyataan dirinya berakhir sebagai pemilik kombini kecil (semacam mini-market) King-Mart yang hidup bersama ibunya yang sudah tua beserta Kanna, anak kakaknya Kiriko yang raib tanpa kabar. Ketika menghadiri reuni SD, Kenji kembali bertemu teman-teman lamanya selagi bocah. Pada saat yang sama sebuah sekte agama baru yang dipimpin oleh ketuanya yang misterius bernama Tomodachi (artinya: teman) sedang tumbuh pesat. Sekte ini mulai menguasai hampir seluruh sektor penting di Jepang termasuk kepolisian, ekonomi dan politik. Yang membuat Kenji and the Gang kaget adalah lambang yang dijadikan dijadikan Tomodachi sebagai symbol adalah lambang gang mereka ketika masih bocah. Dari sini mulailah cerita kilas balik Kenji and the Gang sewaktu masih kecil.

Kenji and the Gang sewaktu kecil pernah membuat buku ramalan yang berisi imajinasi mereka tentang konspirasi kelompok rahasia yang menghancuran dunia dimasa yang akan datang lengkap dengan detail penyerangan ke kota-kota besar dunia (anak sekecil mereka cuma tahu nama San Francisco dan London dari nama bar doang) sebelum diakhiri dengan datangnya robot penghancur di awal abad 21, tepatnya tahun 2001 masehi. Sebagaimana layaknya imajinasi anak-anak, mereka membayangkan 9 tokoh hero yang menyelamatkan dunia dari kehancuran adalah mereka sendiri.

Kembali kemasa dewasa, Kenji and the Gang kembali terkejut karena bukan hanya symbol saja yang mirip tetapi seluruh detail kejadian serangan juga menjadi kenyataan. Apakah yang akan dilakukan Kenji and the Gang? Apakah mereka akan mengumpulkan kembali teman-teman mereka dan beraksi sebagai 9 jagoan sesuai buku ramalan yang ditulis berdasarkan imajinasi anak-anak mereka? Lalu siapakah Tomodachi yang mengetahui segala detail kejadian buku ramalan? Bagian pertama film ini akan diakhiri oleh adegan klimaks dipenghujung abad 20 dan awal tahun baru 2001.

Bagi yang baru pertama kali nonton, mungkin sulit untuk menghapal nama-nama tokoh yang cukup banyak lalu lalang sepanjang film, apalagi bagi penonton yang belum terbiasa dengan nama orang Jepang.
Kabarnya ini adalah film dengan biaya produksi termahal di Jepang. Mungkin yang memakan biaya besar adalah bagian kedua yang mengetengahkan Kanna, keponakan Kenji yang telah dewasa dan melanjutkan kisah dengan petualangan keliling dunia untuk menghadapi konspirasi sekte pimpinan Tomodachi. Untuk film bagian pertama ini sepertinya biaya produksi tidak terlalu mahal-mahal amat.

Kelemahan utama film ini adalah akting dan sutradara. Pemeran Kenji, Otcho (teman Kenji yang berprofesi gangster) dan Yukiji (satu-satunya cewek dalam gang yang jadi polisi) masih mending, tapi yang lainnya kurang meyakinkan. Justru aku suka sama para bocah yang muncul dicerita flash back. Tingkah mereka sangat meyakinkan dan memancing tawa. Sutradaranya sendiri gagal mengadaptasi jiwa manga kedalam film. Ada adegan usaha penculikan si kecil Kanna oleh sekte Tomodachi yang kelihatan sekali cheesy. Seharusnya para anggota sekte adalah orang-orang yang dicuci otak dan bersedia menjadi martir demi kejayaan sekte. Yang muncul malah adegan seperti film-film zombie, pokoknya cheesy banget deh. Lalu sinematografi juga kurang meyakinkan (kecuali adegan para bocah) dengan gambar-gambar hasil bidikan kamera yang terlalu biasa-biasa saja. Spesial efek sendiri kurang mantap, jangan-jangan ini disebabkan pengalihan dana besar-besaran untuk ditumpuk demi pembuatan chapter keduanya? Pokoknya jiwa thriller didalam manga banyak yang menguap entah kemana, walaupun untung saja hawa misteri dalam manga masih bisa tetap terjaga. Kelebihan utama film ini justru ada pada adegan anak-anak kecil yang diambil lewat cerita flash back.

Terus terang saja bagi saya pribadi, bagian pertama yang mengetengahkan tokoh utama Kenji ini yang paling saya sukai dari keseluruhan manga, karena itu harapanku tehadap episode terbaik manga yang diadaptasi menjadi live action film sangat besar. Selain tema utama tentang konspirasi yang mengancam dunia, bagian pertama manga ini juga memuat unsur kritik sosial, persahabatan murni kanak-kanak, imajinasi anak kecil, kondisi Jepang tahun 1969-1970 yang masih labil perekonomiannya, proses kedewasaan dan tentu saja musik Classic Rock yang tak pernah berhenti bergulir seperti kata Kenji mengacu pada lagu Bob Dylan, “Just like a rolling stone.”

Sayang sekali hasil adaptasinya tidak sesuai dengan yang kuharapkan, atau akunya yang berharap terlalu banyak? Semoga bagian kedua bisa lebih baik dari yang ini (paling tidak pada adegan akhir film bagian satu ini memperlihatkan Kanna dewasa yang lumayan cakep :D ).

Rating: 3/5

Rachel Getting Married – Sebuah drama keluarga

Sutradara: Jonathan Demme
Produksi: SONY Pictures ( 2008 )
Genre: Drama
Pemain: Anne Hathaway, Rosemarie DeWitt, Bill Irwin.

“Everyone in the house is looking at me like I’m a sociopath. What do you expect me to do? Burn the house down?” (Anne Hathaway as Kym)

Sudah cukup lama tidak menonton film karya Jonathan Demme sejak The Manchurian Candidate, kali ini Demme mengajak para penonton meninggalkan dunia thriller dan memasuki genre film drama kehidupan keluarga. Drama versi Demme kali ini agak unik, berbeda dengan garapan film dramanya seperti Philadelphia yang mengantarkan Tom Hanks menggondol piala Oscar pertamanya. Hasilnya, banyak para kritikus menilai film ini sebagai karya terbaik Demme setelah Silence of the Lamb yang fenomenal itu.

Walaupun judul film mencantumkan nama Rachel (Rosemarie DeWitt), tokoh utama film ini adalah Kym (Anne Hathaway), saudara perempuan Rachel yang bolak balik masuk program rehabilitasi buat para pecandu obat-obatan. Film diawali dengan dijemputnya Kym dari tempat rehabilitasi oleh ayahnya Paul (Bill Irwin) dan ibu tirinya Carol (Anna Devaere Smith) untuk menghadiri persiapan pernikahan Rachel dengan calon suaminya Sydney. Dimenit-menit awal film hubungan antar anggota keluarga terlihat akrab dan harmonis, terutama hubungan dua kakak-adik Kym dan Rachel. Semakin lama semakin terlihat kalau Kym tidaklah sehangat itu hubungannya dengan seluruh anggota keluarga, malah sering dianggap sebagai si pengacau. Tentunya ada alasan dan latar belakang mengapa Kym kecanduan dan memiliki hubungan “basa-basi” dengan anggota keluarga yang lain. Lalu muncul tokoh Abby (Debra Winger) ibu kandung Kym dan Rachel yang terlihat cukup dekat dengan Rachel tapi tidak untuk Kym.

Aku suka dengan shoot dan pergerakan kamera serta pengambilan gambar gaya Demme yang menghiasi film ini. Kadang kamera menyorot adegan seperti layaknya standar film biasa. Tetapi jika sudah memasuki wilayah makan malam, rehearsal, resepsi pernikahan dan adegan rumah serta keluarga, kamera mengambil gambar bergaya semi-dokumenter. Menonton film ini seperti sedang menonton dokumentasi video keluarga Paul yang menyebabkan kita yang menonton mau tidak mau ikut terseret masuk kedalam film sebagai orang dekat keluarga yang sedang menonton rekaman video acara pernikahan kerabat kita sendiri.

Acara pernikahan dalam film ini sendiri unik. Tak usah berkomentarlah mengenai para hadirin yang multi ras (Sydney dan keluarganya sendiri berkulit hitam dan kerabat serta teman mereka yang multi etnis), musik yang menghiasi suasana seperti acara kumpul-kumpul bareng para pemusik berbagai aliran. Kadang background musiknya diisi oleh si pemusik yang hadir sebagai seorang tokoh di dalam adegan yang membutuhkan musik latar, walaupun si pemusik cuma figuran yang membawa gitar atau biola saja. Benar-benar mantap dan keren.

Akting para pemainnya benar-benar top, hampir seluruhnya bermain bagus terutama Anne Hathaway (Kym), Rosemarie DeWitt (Rachel) dan Bill Irwin (sang ayah Paul). Hathaway memang patut ikut bersaing bersama para nominator pemeran utama wanita terbaik piala Oscar 2009 karena dia berhasil membawakan peran Kym yang sinis sekaligus rapuh. Entahlah, apakah para juri OSCAR sempat juga melirik DeWitt dan Irwin sebagai nominator pemeran pembantu? Lalu ada pula Debra Winger yang berperan sebagai Ibu kandung. Walaupun porsi Winger tidak banyak, tapi Winger bermain bagus. Bisa dilihat pada adegan dialog penuh emosi antara Kym dan ibunya Abby yang mencuri perhatian. Terakhir coba bandingkan adegan antara Abby si ibu kandung dengan banyak dialog tapi jarang muncul dan Carol si ibu tiri dengan dialog seperlunya tapi selalu ada disetiap adegan penting. Seperti inikah peran ibu kandung dan ibu tiri ketika anak mereka menikah?
Selain itu juga terselip sedikit pertanyaan buat penonton, menurut anda apa sih makna dari pernikahan dan keluarga itu? Silahkan jawab sendiri……..

NB. Mulai sekarang aku akan menggunakan sistem perhitungan per 0.25

Rating: 4.25/5