Judul asli: Kidou Sensi Gandamu Daburu O (機動戦士ガンダムダブルオー)
Sutradara: Seiji Mizushima
Produksi: Sunrise ( 2007 )
Episode: season 1 (25 episode), season 2 (ongoing)

“戦い!お前の信じる神のために!”
“Tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!”
“Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya”
(Setsuna F. Seiei aka Soran Ibrahim, pilot Gundam Exia)
300 tahun yang akan datang, tepatnya pada tahun 2307 masehi, bahan bakar fosil yang menjadi andalan masa sekarang sudah hampir habis sehingga umat manusia mengandalkan sumber energi baru yang lebih potensial yaitu energi matahari. Sumber energi didapat dari panel surya yang ditempatkan berjejer di orbit bumi supaya dapat menangkap tenaga matahari secara sangat efisien. Panel surya di luar atmosfer bumi tersebut disambung langsung ke permukaan bumi lewat pilar panjang yang disebut Orbital Elevator (lihat gambar bawah) sebagai penyalur energi yang ditangkap oleh panel surya. Sayangnya teknologi Orbital Elevator untuk mendapatkan energi matahari dengan cara ini sangat terbatas. Hanya ada 3 pilar Orbital Elevator yang eksis dan dibangun oleh tiga blok perserikatan negara pada masa itu yaitu: AEU (blok negara Eropa), Union (blok negara Amerika dan pendukung USA termasuk Jepang) serta Jinrui kaku renmei atau Liga Reformasi Rakyat yang disingkat Jinkakuren (Rusia, Asia timur kecuali Jepang, Asia barat kecuali Pakistan dan Bangladesh, serta ASEAN). Negara non-blok yang tidak termasuk tiga blok besar, tidak mendapatkan akses energi matahari tanpa persetujuan blok yang bersangkutan. Anda sendiri tentu bisa membayangkan kondisi negara-negara kaya di timur tengah penghasil minyak bumi dimasa depan, jika minyak bumi yang ditambang dibumi mereka habis disedot atau tidak laku lagi dijual.
Peta politik pada masa itu sangat dipengaruhi oleh masalah ekonomi (terutama masalah energi) sehingga sering terjadi konflik bersenjata oleh negara ataupun kelompok kecil yang didukung salah satu dari tiga blok besar tersebut. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba muncul sebuah kelompok paramiliter swasta yang misterius bernama Celestial Being dengan tujuan utamanya menghentikan perang dengan cara kekerasan. Setiap konflik militer di manapun di dunia ini dan oleh siapapun baik atas dasar konflik agama, ras maupun yang lain akan di intervensi oleh Celestial Being dengan kekerasan. Tidak ada yang dapat menghadapi Celestial Being yang memiliki Mobile Suit paling canggih di dunia yang diberi nama Gundam. Empat unit Mobil Suit Gundam ternyata lebih dari cukup untuk mengobrak abrik kekuatan militer masing-masing blok. Celestial Being tidak akan berhenti memporak porandakan seluruh kekuatan militer kelompok yang bertikai sebelum konflik/perang dihentikan. Dengan keberadaan Celestial Being, tatanan politik dan kekuasan pada saat itu jadi hancur berantakan.
Kelompok seperti apakah Celestial Being itu? Saking misteriusnya, seluruh anggota yang direkrut untuk menjadi anggota sendiri tidak saling mengenal latar belakang satu sama lain. Bahkan nama yang diperkenalkan pertama kali hanyalah nama alias, bukan nama asli. Sistem perekrutan anggota dilakukan oleh super komputer bernama Veda dan anggota yang direkrut dipilih sendiri oleh Veda tanpa ada yang tahu alasan perekrutan. Belum cukup kemisteriusan organisasi ini, pimpinan utama Celestial Being adalah seorang ilmuwan yang bernama Aeolia Schenberg, penemu teknologi GN Drive yang diketahui sudah meninggal dunia 200 tahun yang lalu. Lagipula apakah benar tujuan utama Celestial Being adalah menghentikan perang? Segampang itukah perang dapat dihentikan?
Kalimat pembuka diatas yang saya tulis saja belum cukup untuk menggambarkan betapa rumit plot cerita anime ini karena saya belum memaparkan tokoh-tokoh utama cerita. Dalam tubuh Celestial Being sendiri terdapat 4 pilot Gundam beserta awak pesawat induk tempat “parkir” Gundam bernama Ptolomeus yang masing-masing memiliki karakter dan latar belakang tersendiri. Belum lagi tokoh-tokoh dalam blok AEU, Union, dan Jinkakuren, juga PBB serta rakyat biasa sebagai pengamat luar yang juga memiliki karakteristik masing-masing dan sangat menarik. Konflik politik dan benturan budaya yang mewarnai serial ini menambah panjang kerumitan yang membuat penasaran para penonton.
Tapi anda jangan takut. Walaupun rumit, sutradara sangat pandai mengatur tempo sehingga satu demi satu keruwetan dapat dijelaskan pada setiap episode. Dan konflik yang mewarnai cerita, sangat menarik untuk disimak. Apalagi konsep cerita yang mewarnai serial Gundam kali ini lebih realistis. Lihat saja tahun yang dipakai mengikuti standar Masehi (Anno Domini) bukan tahun khayalan seperti serial Gundam sebelumnya. Konflik politik dan budaya juga benar-benar mengacu pada cerminan konflik masa sekarang seperti krisis energi, masalah perang terhadap terorisme, manipulasi media untuk membentuk opini publik, hingga masalah perang etnis. Saya sendiri bukanlah penggemar berat anime mecha (anime bertema robot raksasa), karena itu saya tidak tahu apakah Gundam yang ini merupakan pengulangan tema Gundam sebelumnya atau bukan. Yang pasti paling tidak saya memberanikan diri menyebut serial Mobile Suit Gundam 00 adalah serial Gundam paling realistis.
Kalau Neon Genesis Evangelion berat dicerita teori evolusi, maka Gundam 00 sarat dan berat dicerita politik dan konflik budaya. Bagi penggemar film berat dan banyak mikir, Mobile Suit Gundam 00 adalah pilihan yang cocok untuk anda. Sengaja saya tidak bercerita lebih lanjut karena takut merusak fantasi dan menghindari spoiler. Yang pasti 25 episode pada season 1 akan membuat anda ketagihan untuk lanjut ke season 2 yang juga direncanakan berjumlah 25 episode. Setting cerita season 2 sendiri dimulai 4 tahun setelah kejadian terakhir pada episode akhir season 1.
Ini adalah serial Gundam pertama yang menggunakan teknologi HDTV (High-Definition Television) dan widescreen sehingga para penonton dipastikan akan terpesona dengan detail visual effect dan desain robot Gundam serta animasi gambar yang menakjubkan. Kalaupun anda pusing dan bingung dengan plot cerita berbelit, anda bisa menonton berulang dan menonton ulangpun tidak terasa membosankan dengan animasi keren seperti ini.
(Edit 8 Februari 2009)
Barusan nonton season 2 episode 18. Ada adegan lucu yang bikin aku tertawa, ketika Ptolemaios dikepung pihak musuh seluruh pilot pergi menghadang musuh dengan alat tempur masing-masing. Masing-masing pilot baik dari pihak Celestial Being maupun musuh membisikkan nama orang yang disayanginya. Misalnya sepasang kekasih Saji dan Louise saling menyebut nama satu sama lain, lalu Marie membisikkan nama Kolonel Smirnov yang seperti ayahnya sendiri, Allelujah menyebut nama Marie, Andrei membisikkan nama ibunya, Lyle menyebut nama pacarnya Anew, Tieria menyebut Veda, dan terakhir si tokoh utama Setsuna F. Seiei membisikkan sebuah nama dengan mesra ……. “GUNDAM”. Hahahahaha….
Anime movie ini diangkat dari buku novel karya Miyuki Abe yang telah dibuat adaptasinya dalam bentuk manga sebelumnya. Tadinya sebelum habis menonton anime ini aku mengira bahwa cerita anime ini berdasarkan game RPG model Final Fantasy atau Dragon Quest. Dugaanku salah besar, malah game RPG-nya sendiri baru diluncurkan hanya beda 2 hari sebelum tayang animenya di bioskop-bioskop Jepang. Plot ceritanya sendiri cukup menarik dengan menampilkan perjalanan fantasi seorang remaja untuk meraih harapannya.
Pertama kali aku menonton film ini pada tahun 2004 lewat VCD di Indonesia dengan kondisi mengerti bahasa Inggris, melihat teks terjemahan bahasa Indonesia dan buta bahasa Jepang. Memang film yang mengisahkan tentang 2 orang asing yang kesepian sekaligus merasa terisolasi di tempat yang sama sekali asing sangat menarik untuk disimak. Masih ingat dibenakku seluruh adegan bahasa Jepang sengaja dibiarkan tanpa terjemahan sehingga lebih terasa lost in translation yang dimaksud oleh judul film. Kondisi bentrok budaya antar timur dan barat juga sangat terasa walaupun dulu aku kurang mengerti mengapa Jepang dipilih, toh masih ada budaya timur lain dengan bahasa dan tulisan sama sekali berbeda seperti misalnya China, Korea atau Thailand.
Terus terang saja aku kecewa dengan film layar lebar Detective Conan kedua belas kali ini. Selain misteri yang dibahas tidak terlalu bikin penasaran, thriller yang dikemas kurang seru, tokoh yang diajukan oleh penulis cerita juga kurang mantap. Jadinya film ini jatuhnya biasa saja, tidak ada hal yang istimewa untuk Detective Conan The Movie kali ini. O iya, aku sebenarnya sudah nonton tahun kemarin sekitar bulan Juni (tanpa teks), karena takut terjadinya salah pengertian bahasa terpaksa nonton ulang film yang sama dengan teks terjemahan.
Sebenarnya aku sudah pernah menulis review tentang serial anime ini tahun lalu dengan bahasa Inggris dan sudah diposting entah dimana. Kali ini aku menulis ulang dengan bahasa Indonesia dan interpretasi berbeda. Maklumlah, ini merupakan salah satu serial anime terbaik yang pernah kutonton walaupun belum bisa dibandingkan dengan serial Evangelion yang luar biasa itu.
Aku harus mengakui bahwa OST BLOOD+ termasuk salah satu OST serial anime terbaik yang pernah kudengar. Musik animenya sendiri digarap oleh langganan piala Oscar Hans Zimmer dan Mark Mancina menghasilkan musik indah dan menghanyutkan disepanjang film. Duet Zimmer-Mancina menghiasi serial ini dengan orkestra dan musik klasik termasuk permainan Cello oleh tokoh Hagi dan nyanyian opera tokoh Diva. Untuk opening dan ending theme song, Sony Music membentuk tim tersendiri untuk memilih artis dan lagu mereka. Hasilnya hampir seluruh theme song menjadi hits tangga lagu Oricon hingga pihak produser Production I.G. sendiri mengakui bahwa duet Zimmer-Mancina dan tim Sony Music melakukan pekerjaan hebat (excellent work) dalam menghadirkan musik untuk serial anime ini.
Postingan kali ini bisa dibilang rada ketinggalan alias telat. Habis, film yang diserbu oleh para cewek 


Recent Comments